Hello,

Reader

Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Pengamat: Tepat Pertamina Tak Turunkan Harga BBM
Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Pengamat: Tepat Pertamina Tak Turunkan Harga BBM

Jakarta, HanTer - Direktur Eksekutif Energi Watch, Mamit Setiawan mengatakan, pemangkasan pasokan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pemulihan permintaan minyak seiring pelonggaran lockdown turut mengerek harga minyak dunia kembali naik beberapa waktu belakangan.

Karena itu, permintaan sebagian pihak agar menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai tak tepat. Mamit menilai, langkah pemerintah yang tidak menurunkan harga BBM di tengah kenaikan harga minyak dunia sudah tepat.

“Saat ini harga minyak terus fluktuatif. Belum lagi mata uang Rupiah kita yang masih terdepresiasi,” katanya di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Apalagi, kata Mamit, saat ini sejumlah daerah telah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Sehingga terjadi penurunan konsumsi terhadap BBM dan penaikan harga BBM di dunia tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat.

“Saya melihatnya di tengah PSBB saat ini dimana konsumsi BBM terus mengalami penurunan sampai 26,4 persen tidak terlalu berdampak signifikan kepada masyarakat,” tukasnya

Lebih jauh ia mengatakan, dengan kondisi saat ini maka subsidi energi terutama BBM akan lebih bagus dialihkan untuk sektor kesehatan masyarakat yang terdampak Covid-19. Selain itu juga, bisa digunakan untuk membantu masyarakat yang terdampak karena Covid-19 ini dengan memberikan bansos atau BLT.

“Subsidi BBM juga bisa untuk membantu masyarakat terutama pengguna listrik 1.300 VA, yang saya kira juga banyak terdampak karena faktor pekerja yang kena PHK,” kata Mamit.

Dengan demikian dampak dari energi murah adalah keberlangsungan EBT yang akan sedikit tertunda. Ketika energi fossil lebih murah dari EBT maka, akan lebih memilih energi fossil tersebut.

“Sehingga target bauran energi 23 persen pada 2025 sulit untuk tercapai. Padahal kita punya potensi EBT yang bisa dimaksimalkan. Belum lagi jika energi murah tersebut hasil subsidi maka dampaknya terhadap APBN kita akan semakin jelas. Hampir setiap tahun subsidi APBN kita bisa dikatakan jebol,” papar Mamit.

Kalaupun melebihi kouta, kata Mamit, maka yang akan menanggung adalah badan usaha dalam hal ini Pertamina. Ini juga menjadi beban bagi Pertamina jika terus di subsidi dan masyarakat akan semakin dinina bobokan dengan subsidi ini.

“Tanpa adanya konversi energi, maka dengan produksi migas hanya 750.000 barrel of oil per day (BOPD) di satu sisi dan konsumsi BBM yang mencapai 1.5 juta BOPD kita akan lebih banyak mengimpor baik produk maupun minyak mentah. Dampaknya adalah CAD akan semakin melebar impor migas ini. Sedangkan rupiah akan sulit bergerak naik karena kebutuhan dollar yang semakin besar,” jelas Mamit.

Sementara, terkait kondisi harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan, menurut Mamit patut menjadi perhatian bersama. Dia memprediksi harga minyak dunia akan terus mengalami kenaikan, mengingat sudah banyak negara melonggarkan kebijakan lockdown mereka.

“Dengan demikian permintaan akan BBM akan mengalami kenaikan, sedangkan disisi lain OPEC+ masih komitmen untuk memotong produksi mereka sampai Juni ini sebanyak 9.7 juta BOPD. Dilanjutkan bulan berikutnya 7.7 juta BOPD sampai akhir tahun,” kata Mamit.

Belum lagi, AS juga mulai mengurangi produksi minyak mereka. Dengan demikian permintaan akan meningkat ditengah supply yang berkurang, sehingga harga minyak dunia akan terus terkoreksi positif.

Sepanjang minggu kemarin, harga minyak jenis brent naik 8,09 persen menjadi USD 36,06 per barel. Padahal pada bulan April lalu, minyak brent masih berada di level USD 16 per barrel karena runtuhnya permintaan. Sementara pada pekan kemarin, minyak jenis light sweet terangkat nyaris 13 persen, di kisaran USD 37 per barel. Padahal pada bulan sebelumnya, harga tertinggi light sweet di USD 21 per barel.



#Minyak #pertamina #bbm

Komentar Anda
Komentar