Hello,

Reader

Pengamat: Kinerja Menteri Ekonomi Payah
Presiden Joko Widodo saat rapat kabinet bersama para Menteri (ist)
Pengamat: Kinerja Menteri Ekonomi Payah

Jakarta, HanTer - Pengamat ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng mengakui jika jajaran menteri yang membantu Joko Widodo (Jokowi) khususnya menteri dibidang ekonomi payah. Apalagi kebanyakan menteri-menteri itu tidak memiliki pengalaman ‘turn around’ (membalikkan situasi) baik secara makro maupun korporasi. 

Bahkan, lanjutnya, ada di antara menteri ekonomi Jokowi yang membuat skandal-skandal keuangan dan ‘abuse of power’ untuk kepentingan bisnis dan kelompok.

"Tampaknya demikian (tim ekonomi Jokowi payah). Kinerja Mereka buruk. Ini terlihat lima tahun sebelum wabah corona," ujar Salamudin Daeng kepada Harian Terbit, Rabu (17/6/2020).

Salamudin menilai, keberadaan menteri Jokowi belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dia menyarankan, jika menteri-menteri tersebut tidak diganti maka mereka harus belajar, buka pikiran (open mind), lepaskan segala bentuk urusan pribadi dan koncoisme. Selain itu mereka juga harus membebaskan diri dari tekanan oligarki taipan.

"Para menteri Jokowi harus fokus mengabdi pada bangsa. Dengan begitu mereka akan menemukan jalannya ekonomi yang berpijak pada konstitusi," paparnya.

Kepentingan

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin juga mengatakan, pemerintahan Jokowi periode pertama hingga kedua memang tidak bisa di andalkan. Karena pemerintahannya banyak conflict interest di pusat kekuasaan sehingga utang negara melambung tinggi. Sementara pertumbuhan ekonomi justru rendah.

"Bahkan tahun 2020 ini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani prediksi pertumbuhan ekonomi RI kwartal ke 2 tahun 2020 bakal mengalami kontraksi atau minus 3,1 persen," ujarnya.

Gus Amin, panggilan akrab Aminudin menyebut, selama pemerintah Jokowi berkuasa 7 tahun hanya menimbulkan utang sekitar 3 kali lipat dibanding akhir pemerintah SBY 2014. Apalagi pertumbuhan ekonomi sangat rendah bahkan negatif.

"Ini berarti sedang terjadi kerusakan ekonomi yang parah dari suatu negara. Apalagi saat ini banyak dunia usaha yang gulung tikar, PDB turun, PHK meluas dan penghasilan rakyat turun tajam," jelasnya.

Aminudin mengungkapkan, negatifnya pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Jokowi sesuai dengan data yang disampaikan Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, bahwa saat ini sebanyak 3,05 juta orang pekerja di Indonesia yang terdampak (PHK dan dirumahkan). 

Dalam paparannya, Susiwijono menjelaskan data 3,05 juta pekerja yang terdampak virus corona tersebut bersumber dari data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Juni 2020.

"Kemenaker Ida Fauziyah itu juga memperkirakan akan ada tambahan pengangguran sebanyak 5,23 juta jiwa apabila virus corona terus meluas," tandasnya.



#Presiden #jokowi #menteri #ekonomi

Komentar Anda
Komentar