Hello,

Reader

Sebelum Covid 19 Kinerja Kabinet Sudah Tenggelam, Menteri Jokowi Memble, Tidak Cerdas, Kapasitas Payah, Perlu Diganti
Menteri Kabinet Jokowi-KH Maaruf
Sebelum Covid 19 Kinerja Kabinet Sudah Tenggelam, Menteri Jokowi Memble, Tidak Cerdas, Kapasitas Payah, Perlu Diganti

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kekecewaannya terhadap kinerja para menterinya yang masih bekerja biasa-biasa saja saat pandemi COVID-19. Terkait hal ini Jokowi membuka opsi "reshuffle" menteri atau pembubaran lembaga yang masih bekerja biasa-biasa saja.

Terkait kinerja menteri ini tokoh nasional Rizal Ramli menyatakan, posisi kabinet hanya untuk hadiah- hadiah pendukung politis dan finansial. Keberpihakan kepada rakyat rendah, kapasitas payah, kebanyakan tidak memiliki track record bisa ‘turn-around’(mengubah jadi lebih baik) secara makro dan korporasi.

“Eh udah gitu, masih ada yang aji mumpung,” sambung mantan Menteri Koordinator Kemaritiman ini, Minggu, (28/6/2020), menanggapi cuitan dari deputi Batlitbang Partai Demokrat Syahrial Nasution perlihal pernyataan Presiden Jokowi yang membuka opsi reshuffle kabinet. 

Pernyataan RR sendiri beralasan sebab semua indikator ekonomi negara saat imi merosot. Yang lebih menyebalkanya lagi masih banyak yang menjadikan faktor Corona sebagai sebuah alasan.

Menteri Memble

Sementara itu pengamat sosial S Indro Tjahyono berpendapat dalam menentukan menterinya presiden harus menyerah dengan realitas politik. Itulah sebabnya, hak prerogatif presiden dalam membentuk kabinet justru jadi ajang permainan parpol untuk minta jatah menteri sesuai dukungan yang diberikan kepada presiden. 

“Domain memilih menteri justru di tangan parpol, sedangkan presiden hanya memiliki hak memilih beberapa menteri saja. Orang hanya menebak-nebak bagaimana proses pemilihan menteri berlangsung dan pos-pos mana yang diincar oleh parpol. Kriteria menteri yang diinginkan Presiden menjadi ambyar. Banyak menteri yang dicalonkan tetapi asal-usulnya (social originnya) nggak jelas,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Indro, desakan reshuffle kabinet kembali ditiupkan sejumlah kalangan. Pasalnya, masih ada menteri di Kabinet Indonesia Maju saat ini kinerjanya memble, tidak gesit, dan tidak cerdas.  Selain itu juga sering terjadi silang pendapat antar menteri, mereka terasa tidak sigap dan cerdas menyikapi permasalahan yang nyata.

Menurut Indro, sebelum muncul pandemi Covid 19 kinerja kabinet sudah tenggelam. Selain itu sering terjadi silang pendapat antar menteri, mereka terasa tidak sigap dan cerdas menyikapi permasalahan yang nyata.

“Di tengah situasi ekonomi yang hancur lebur dibutuhkan kriteria menteri yang siap berjibaku dan mampu bervivere pericoloso. Bukan menteri yang berada di belakang meja yang siap meningkatkan dayaserap APBN,” paparnya. 

Menurut Indro, dengan model kepemimpinan Jokowi yang selama ini cenderung menyerahkan kebijakan kepada menteri dan hanya melakukan persuasi, maka faktor utama dari kebijakan adalah pada menterinya. Kalau menterinya under quality, maka yang bisa dilakukan ya mengganti menteri. 

Kedua, paparnya, menteri harus loyal kepada presiden. Ketiga, presiden harus mulai menggunakan otoritasnya sekalipun menteri itu lebih pintar dan berpengaruh. Keempat, presiden harus bersikap bahwa menteri bukan kompetitor tapi eksekutor dan bawahannya. Jangan merasa rendah diri kalau menterinya lebih pintar. 

Berikut menteri-menteri yang layak diganti yang beredar di media sosial. Menkes, Mensos, Menkop, Menaker, Mendag, Menperin, Menhub, Menag, Mendikbud, Menteri kelautan dan perikanan.

Melalui video yang baru dikeluarkan biro pers, Media, dan Informasi  Sekretariat Presiden di kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Minggu 28 Juni, Presiden Joko Widodo memperingatkan para menteri kabinet Indonesia Maju yang masih bekerja biasa - biasa di masa pandemi COVID-19 untuk mengubah caranya. Bekerja dalam kondisi kritis, itulah yang diinginkan oleh presiden. Presiden Jokowi juga membuka opsi "reshuffle" menteri atau pembubaran lembaga bagi yang masih bekerja biasa - biasa. 

"Perasaan ini harus sama. Kita harus mengerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita, saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal," kata Presiden Jokowi, saat menyampaikan arahan dalam sidang kabinet paripurna, di Istana Negara pada 18 Juni 2020.

"Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apa tidak punya perasaan. Suasana ini krisis," kata Presiden Jokowi lagi.



#Jokowi #menteri #kabinet #reshufle

Komentar Anda
Komentar