Hello,

Reader

Berperan dalam Geger Sapehi, HB II Layak Jadi Pahlawan Nasional
Jubir pengusulan Gelar Pahlawan HB II, Dr. Abdul Haris, M.Si
Berperan dalam Geger Sapehi, HB II Layak Jadi Pahlawan Nasional

Jakarta, HanTer - Trah keturunan Sri Sultan Hamengkubuwana II (HB II) hingga saat ini terus memperjuangkan agar Raja Kedua di Kesultanan Yogyakarta mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah. Apalagi peran HB II sudah jelas dalam pembentukan Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat (Negeri Yogyakarta) dan juga berperan dalam perang melawan penjajah Inggris atau Perang Sepehi atau dikenal dengan Geger Sepehi.

Geger Sepehi adalah peristiwa yang sangat penting di Yogyakarta. Tapi kisah perjuangan HB II bersama rakyatnya tidak banyak diekspos. Geger Sepehi merupakan peristiwa penyerbuan Keraton Yogyakarta yang dilakukan oleh pasukan Inggris pada tanggal 19-20 Juni 1812 atas perintah Gubernur Jendral Raffles. Nama sepehi berasal dari pasukan Sepoy, orang India yang dipekerjakan oleh Inggris untuk menyerang istana.

"Dalam peristiwa itu HB II dan rakyat berjuang mempertahankan Kraton walaupun akhirnya pihak penjajah berhasil merampas seluruh kekayaan istana, seperti emas, termasuk yang ikut dirampas ratusan manuskrip kisah budaya dan kehidupan masyarakat milik Keraton Yogyakarta. Manuskrip itu kemudian dibawa ke negara Inggris," kata Jubir pengusulan Gelar Pahlawan HB II, Dr. Abdul Haris, M.Si di Jakarta,Senin (29/6/2020).

Dr Haris memaparkan, dalam Geger Sepehi itu HB II memang berhasil ditangkap oleh pihak Inggris. Namun penangkapan tersebut bukan berarti HB II kalah. Rakyat justru menganggap sang Raja telah berjuang secara gigih untuk melindung rakyatnya dan keberadaan Kraton Yogyakarta dari penjajah. Jenderal Raffles menyerbu Kraton Yogyakarta karena sejatinya dia takut dengan Sri Sultan HB II. 

"Sang Raja tidak mau menyerahkan tahta kerajaannya dan tidak mau Yogyakarta jatuh ke tangan bangsa asing," tegasnya. 

Mengutip Wikipedia, sambung Dr Haris, HB II sendiri sejak awal bersikap anti terhadap Belanda. HB II bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sri Sultan Hamengkubuwono II lahir 7 Maret 1750 adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828. Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh. Sri Sultan Hamengkubuwono II wafat pada tanggal  3 Januari 1828 dalam usia 77 tahun. Masa jabatannya yang kedua adalah yang paling singkat dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta. 

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC) adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. HB II menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen ciptaan Daendels). HB II menolak mentah-mentah peraturan tersebut karena dianggap merendahkan derajatnya. 

"Jadi, kami para keturunan yang masih ada hingga saat ini tidak ada salahnya mengajukan ke pemerintah agar Hamengkubuwono II diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Kami telah mengajukan permohonan mendapat gelar Pahlawan Nasional sudah sejak tahun 2006. Tapi hingga saat ini belum ada kabar dari proses itu oleh pemerintah. Pihak kementerian juga tidak memberikan kabar," jelasnya.

Dalam kesempatan ini Dr Haris juga meminta selain pengakuan pahlawan nasional, pihak negara Inggris juga mau mengembalikan harta rampasan yang dimiliki Kraton Yogyakarta. Ada beberapa harta benda bersejarah yang dirampas, di antaranya, pusaka Kraton, emas milik Kerajaan, manuskrip dan benda budaya lainnya. 

Kami meminta Pemerintah Indonesia untuk membantu mengembalikan barang- barang berharga kraton yang ada di negara Inggris. Tapi apa yang dilakukan sepertinya tidak terjadi," tegasnya. 

Dr Haris mengakui, memang ada beberapa harta benda milik kraton yang dikembalikan tapi bukan dalam bentuk aslinya. Karena yang dikembalikan itu hanya berupa hasil digital untuk benda dan manuskripnya. Pengembalian aset-aset manuskrip pernah dilakukan pada masa Pemerintahan Megawati Sukarno Putri dengan 70 manuskrip dan diserahkan ke Kraron Yogya dalam bentuk digital.

Haris mengungkapkan, benda-benda bersejarah itu sangat berharga bagi perjalanan sejarah khususnya kraton Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu pihaknya meminta Presiden Jokowi juga berperan melakukan diplomasi untuk pengembalian harta benda bersejarah tersebut. 

'Kami juga berharap Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan Indonesia melalui direktorat kebudayaan saat ini bisa membantu untuk mengurusi khasanah kekayaan budaya kita. Jangan hanya mengurusi untuk kepentingan sendiri," paparnya..

Terpisah, Guru Besar Sejarah  Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta, Prof. Djoko Suryo atau KRT Suryohadibroto membenarkan adanya sejarah Geger Sepehi atau Perang Sepehi. Kala itu tahun 1812, ribuan tentara Inggris dibantu Sepoy menyerbu istana kraton. Tapi Prof. Djoko tidak menjelaskan secara rinci soal perang atau geger itu.

Saat diminta pendapat mengenai keinginan para keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II pada pihak negara Inggris untuk mengembalikan rampasan perang saat itu. Prof Djoko mempersilakan. Namun menurutnya tidak akan mudah. Apalagi ada di antara harta benda HB II yang telah menjadi koleksi dari perpustakaan di Inggris.

"Jadi agak sulit. Bisa saja pihak perpustakaan memiliki itu bukan melalui cara gratis. Bisa saja mereka membeli koleksi itu. Usaha pemerintahan sebelumnya juga sudah melakukan itu tapi tidak berhasil," kata Prof. Djoko.

Untuk persoalan keinginan agar Sri Sultan Hamengkubuwono II diangkat menjadi pahlawan nasional, Prof. Djoko. menyatakan boleh saja dilakukan. Namun upaya tersebut harus  sesuai dengan prosedur yang ada. Sebab untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional ada tim khusus yang menilainya. Ada syarat-syarat yang diberlakukan oleh pemerintah, siapa tokoh yang berhak mendapat gelar pahlawan nasional. 



#GegerSapehi

Komentar Anda
Komentar