Hello,

Reader

Jika Salah Memilih Anggota Kabinet, Amien Rais Ingatkan Jokowi Bisa Bernasib Sama dengan Soeharto
Jika Salah Memilih Anggota Kabinet, Amien Rais Ingatkan Jokowi Bisa Bernasib Sama dengan Soeharto

Jakarta, HanTer - Politikus senior Amien Rais mengatakan masih ada waktu untuk merombak (reshuffle) kabinetnya untuk memperbaiki kinerja. Namun, mantan Ketua MPR ini mengingatkan Jokowi tidak salah memilih pembantunya agar nasib mantan Gubernur DKI itu tidak seperti Presiden ke-2 RI, Soeharto, pada akhir kekuasaannya.

“Jokowi tak boleh lagi salah pilih menteri agar nasibnya tak sama dengan Soeharto. Kalau salah tak menutup kemungkinan nasibnya sama dengan mantan penguasa rezim orde baru itu,” kata Amien yang disampaikannya dalam video yang dibagikan oleh akun Instagram @amienraisofficial, Rabu (1/7/2020).

Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini dalam video itu menceritakan kekuasaan Soeharto selama 32 tahun. Selama berkuasa, semua menteri-menterinya hanya mengiyakan dan memuji sang pemimpin. Lalu tiba aksi protes rakyat besar-besaran pada 1998 silam. Dalam situasi itu para menteri malah berbalik badan dari Soeharto.

"Ketika gerakan rakyat sudah mengepung kekuasaan, sepertinya Pak Harto sulit bertahan, semua menterinya itu meninggalkan Pak Harto. Mereka tidak lagi membela Pak Harto, kecuali Saadilah Mursjid," kata Amien.
 
Menurutnya, Pak Jokowi bisa-bisa ditinggalkan. Karena pada umumnya mereka enggak mengenal dan sebenarnya enggak dikenal juga. Tahunya mungkin karena dia ini punya uang banyak, dia bisa ini dan itu, tapi kemudian sekarang seperti ini.

Itulah sebanya, lanjut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, masih ada sisa waktu bagi Jokowi untuk merombak kabinetnya. Jangan pilih yang begitu lagi. “Harus cepat. Kalau tidak, ya sudah begini saja apa adanya. Lihatlah nasib Pak Harto dulu," ujar Amien.

Amien mengaku sejak awal sudah merasa khawatir dengan komposisi menteri yang dipilih Jokowi. Pasalnya, ia menduga sebagian dari jajaran menteri tersebut tidak memiliki sifat kerakyatan. "Mungkin hampir sepertiga menteri itu, saya kira nggak ada sifat kerakyatannya," imbuhnya.

Tanpa menyebut nama, Amien Rais menyinggung sosok yang dinilai tidak memiliki sifat kerakyatan tersebut. "Jadi seorang CEO Ojol, tiba-tiba mengurusi kementerian besar, kementerian pendidikan nasional,"

Amien juga menyoroti figur yang merasa jadi superminister atau super menteri. "Merasa jadi superminister, merasa tahu semuanya, memborong, dan lain-lain. Ini tidak sehat, begitu," kata Amien.

Rasa Kecewa

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyinggung perombakan kabinet atau reshuffle di depan para Menteri Kabinet Indonesia Maju pada 18 Juni, pekan lalu.

Dalam pemaparannya, Jokowi menyampaikan rasa kecewanya terhadap kinerja para Menteri yang dinilai tidak memiliki progres kemajuan yang signifikan.

"Sudah kepikiran kemana-mana saya. Entah buat Perpu yang lebih penting lagi, kalau memang diperlukan," kata Jokowi dalam sebuah video yang diunggah melalui kanal Youtube sekretariat Presiden, Minggu (28/6).

"Saya harus ngomong apa adanya, tidak ada progres yang signifikan, tidak ada," imbuhnya.

Benar Atau Drama

Begawan Ekonomi Rizal Ramli bingung dengan sikap marah Presiden Joko Widodo yang ditampakkan di dalam rapat kabinet Kamis (18/6) lalu.
 
Waktu pertama kali ia melihat video kemarahan Jokowi di hadapan jajaran menteri kabinetnya, Rizal Ramli langsung teringat dengan budaya organisasi orang-orang Asia, terutama Suku Jawa.

"Saya sendiri bertanya-tanya, ini marah benar atau drama, gitu loh. Susah saya jawabnya. Karena di Asia, apalagi di Jawa, pemimpin itu enggak pernah marah di depan umum. Marahin anak buahnya enggak pernah. Karena itu melecehkan," terang pria yang kerab disapa RR ini di Kantornya, di Jalan Tebet Barat Dalam IV Nomor 5, Jakarta Selatan, Senin (29/6).

RR tidak mau menyimpulkan dari apa yang ditampakkan Jokowi. Justru RR bertanya-tanya mengapa Jokowi marah. "Persoalannya ada gunanya enggak, ada manfaatnya enggak (Jokowi marah-marah). Dan kenapa sih bisa terjadi?" ungkapnya.

Rizal Ramli berpendapat, kemarahan Jokowi terjadi karena proses pemilihan anggota kabinet periode sekarang ini bermasalah. "Bisa terjadi (Jokowi marah) karena dalam pemilihan anggota kabinet yang periode ini pada dasarnya posisi kabinet, jabatan staf ahli, atau staf penasihat presiden itu hanya hadiah-hadiah," terang RR.

"Hadiah untuk yang memberikan dukungan politik, hadiah bagi yang memberikan dukungan finansial," sambungnya.



#Jokowi #menteri #kabinet #reshufle

Komentar Anda
Komentar