Hello,

Reader

Pemahaman Pancasila yang Semakin Redup Akan Merusak Demokrasi, Berbangsa dan Bernegara
Pemahaman Pancasila yang Semakin Redup Akan Merusak Demokrasi, Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, HanTer - Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah bersifat final dan harga mati. Karena itu semua pihak dan elemen bangsa sebagai warga negara Indonesia yang baik dan bertanggung jawab untuk bergabung menguatkan barisan solidaritas, kebersamaan dalam keberagaman, dan menjadi benteng Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara, melalui keperdulian dalam bela negara demi terciptanya ketahanan nasional yang kokoh, tangguh dan berkualitas.

 

"RUU HIP ditolak dengan tegas demi menjamin secara pasti dan tegas tentang keutuhan dan kedudukan Pancasila sebagai fhilosofisce grounslag (dasar filosofi kehidupan berbangsa) dan sumber hukum tertinggi (sumber dari segala sumber hukum), sebagaimana telah ditegaskan oleh Bung Karno dalam pidatonya 1 Juni 1945 yang menjadi sumber histori kelahiran Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata pengamat Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta, Dr. Syaifuddin, M.Si., CICS.dalam webinar bertema 'Menakar Haluan Ideologi Pancasila Dalam Bingkai RUU', Sabtu (11/7/2020).

 

Syaifuddin menegaskan, keberadaan dan pelaksanaan tugas BPIP perlu dipayungi oleh UU tersendiri dari hasil penggodokan forum ilmiah Asosiasi Dosen Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (ADPK) dimana UU itu adalah sebagai sumber hukum atas keberadaan dan pelaksanaan tugas operasional BPIP, yang kedudukannya seharusnya berada di bawah UUD 1945. Oleh karena itu di dalam pasal-pasal UU BPIP dimaksud tidak dibenarkan membunsaikan dan melampaui kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum sebagaimana telah ditegaskan di dalam Pembukaan UUD 45 dan Batang Tububhnya.

 

"Karena itu pula, mengingat kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara pada era industri 4.0 ini nampaknya pemahaman  dan pengamalan nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan bangsa atau masyarakat kian semakin meredup dan bahkan ditinggalkan oleh banyak pihak. Kondisi dimaksud jelas tidak menguntungkan bahkan akan merusak tatanan kehidupan demokrasi, berbangsa dan bernegara  kita di masa sekarang dan masa depan," papar Dewan Pakar Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) ini.

 

"Kami dari Asosiasi Dosen Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan (ADPK) Pusat menghimbau dengan tegas kepada para decision maker dan pengambil kebijakan di tingkat nasional atau pusat, khususnya kepada Pimpinan Lemhannas RI, Kemenhan RI, Mendagri RI, Kemendiknas RI, dan lembaga negara terkait lainnya, agar segera mengambil langkah tmstrategis, taktis, terpola, tegas, kongkrit, agar segera dapat membuka diri untuk menjalin bekerja sama secara terintegratif dan fungsional dengan pihak-pihak tertentu yang memiliki kompetensi ilmiah dan profesi di bidang Pancasila dan Kewarganegaraan, termasuk dengan ADPK Pusat dan daerah. Kerja sama dimaksud harus diarahkan untuk melaksanakan program kerja secara bersama-sama yang bersifat kongkrit, efektif dan terukur ke arah penguatan kembali pemahaman dan pengalaman nilai-nilai Pancasila, materi bela negara dan ketahanan nasional terhadap seluruh kalangan masyarakat Indonesia, tegas Alumni GMNI ini.

 

Program kerjasama dimaksud, sambung Ketua Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD., itu wajib menjadi skala prioritas program kerja beberapa lembaga negara. Karena masalah ideologi Pancasila saat ini kian hari semakin kronis,  masa depan keutuhan NKRI semakin terancam. Program kerja sama antar lembaga negara dengan organisasi -organisasi profesi dimakaud sudah sangat mendesak untuk segera di realisasikan sebelum masalah Pancasila sebagai ideologi kebangsaan semakin komprehensif, meluas, sangat parah dan mengakar.

 

Dalam webinar ini hadir juga narasumber lain yakni Ketua Watimpres RI (Dr. Agung Laksono), pakar Pancasila (Prof. Dr. Kaelan), Gubernur Lemhannas RI (Letjen TNI Agus Widjojo), dan Direktur Bina Ideologi, karakter dan wawasan Kebangsaan (Dr. Prabawa Eka Soesanta).



#Pancasila #hip #ruu

Komentar Anda
Komentar