Hello,

Reader

Jika Tidak Reshuffle Kabinet, Jokowi Akan Kehilangan Kepercayaan Rakyat
Jika Tidak Reshuffle Kabinet, Jokowi Akan Kehilangan Kepercayaan Rakyat

Jakarta, HanTer - Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan, pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang akan mereshuffle kabinetnya tidak akan terwujud. Pasalnya hal serupa juga pernah disampaikan Jokowi pada bulan Februari 2020 lalu. Namun hingga kini komposisi Kabinet Indonesia Maju (KIM) tetap seperti sedia kala alias tidak ada perubahan. 

"Jika tidak mereshuffle cabinet, saya perkirakan Jokowi bakal sulit dipercaya rakyat. Jokowi bakal distrust atau kehilangan kepercayaan publik," ujar Jerry Massie kepada Harian Terbit, Selasa (14/7/2020).

Jerry menegaskan, saat ini publik sungguh berharap ada reshuffle kabinet. Apalagi hampir 50 persen komposisi kabinet tidak menempati posisi yang tepat. 

Dia menyatakan, Jokowi yang tidak bakal mereshuffle kabinet menunjukkan bahwa mantan Walikota Solo tersebut kurang peka membaca keinginan publik. Padahal survei Litbang Kompas menunjukkan, 69,6 persen publik menginginkan terjadinya reshuffle kabinet. Namun hingga saat ini sejak Jokowi marah dalam rapat paripurna kabinet pada tanggal 18 Juni lalu, reshuffle juga tidak dilakukan. "Tapi nyatanya reshuffle belum dilakukan," paparnya.

Jerry pun menyebut, berdasarkan riset yang dilakukannya, bahwa Kabinet Indonesia Maju (KIM) diperiode II Jokowi tidak bagus. Selain itu kebijakan yang dikeluarkan para menteri nya juga paling buruk dalam sejarah kabinet di tanah air. Oleh karena itu yang dilakukan Jokowi saat ini masih kalah kelas dengan presiden sebelumnya.

"Di kabinet sekarang ada sejumlah menteri yang kerap bikin gaduh, salah ngomong, tak paham persoalan, tak punya market targeting, kurangnya sense of crisis, bekerja bukan tupoksinya, wrong place, no concept and policy, one man show, small talk, kurang respectful and concern saat pandemi corona," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Politik dan Sosial Indonesia (Puspolindo) Dian Cahyani juga menilai ancaman reshuffle yang akan dilakukan Jokowi hanya sebatas omong kosong, karena hingga kini ancaman tersebut belum terealisasikan. 

"Sesuai dengan pernyataan presiden Jokowi 18 Juni lalu, maka harus dilakukan perombakan kabinet. Jangan sekadar mengancam, tapi reshuffle kabinet harus segera dilakukan,” kata Dian Cahyani di Jakarta, Selasa (14/7/2020).

Menurut magister Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana (UMB) ini, Presiden Jokowi harus menepati janjinya untuk melakukan reshuffle terhadap menteri yang dinilai gagal menjalankan tugasnya. Jika tidak, performa kinerja pemerintah akan menurun di masa pandemi ini. 

"Beberapa menteri ada yang tenggelam tidak tahu bagaimana kelanjutan program kerjanya, Presiden Jokowi harus benar-benar tegas. Jangan pencitraan aja mau resuffle,“ jelasnya.

"Sebaliknya, jika presiden melakukan reshuffle akan mendapatkan simpati masyarakat yang sedang kesal dengan kinerja para menterinya. Reshuffle harus dilakukan atas basis kinerja dan data," tambahnya.

Dian juga menyoroti beberapa pos kementerian yang harus dievaluasi karena kinerja Mereka tidak begitu bagus selama pandemi ini. "Kementerian dibidang ekonomi, kesehatan, dan bidang PMK yang perlu mendapatkan sorotan dan perlu dirombak," sarannya. 

“Jika presiden ingin memperbaiki kinerja para menteri, saat ini merupakan waktu yang tepat mengevaluasi menteri nya agar ke sejalan dengan konsep the New normal pemerintahan,” pungkasnya.



#Presiden #jokowi #menteri #partaipolitik #reshufle #kabinet

Komentar Anda
Komentar