Hello,

Reader

Akibat Covid-19 Para Seniman Menjerit 
Akibat Covid-19 Para Seniman Menjerit 

Jakarta, HanTer - Hendra Mulyawan, penyayi panggung mendukung adanya petisi Stimulus Ekonomi dan Jaring Pengaman Pelaku Seni di situs change.org, mengemukakan, pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap kehidupan para seniman khususnya para penyanyi atau group band yang kerap tampil di cafe atau night club. Karena dampak Covid-19 para penyanyi hingga saat ini belum bisa braktifitas kembali.

"Saat ini para penyanyi hanya menggelar konser via online baik di IG (Instagram) atau FB (Facebook) sehingga gak mendapatkan penghasilan yang memadai seperti live perform," ujar Hendra kepada Harian Terbit, Senin (3/8/2020).

Hendra menuturkan, untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, saat ini banyak penyanyi yang beralih profesi seperti berdagang online. Bahkan ada penyanyi yang jadi tukang ojek online (ojol). Hal itu terpaksa dilakukan karena memang tidak ada lagi pemasukan dari panggung nyanyi. Apalagi sejak pandemi banyak kafe yang ditutup dengan alasan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

"Saya berharap pemerintah bisa membantu para musisi. Baik musisi yang di kafe-kafe atau night club ataupun artis-artis wedding organizer.  Karena slama pandemi ini, saya dan teman-teman gak mendapatkan job. 

Saya berharap pandemi ini segera selesai karena kasihan para artis-artis dan crew yang menghandalkan penghasilan dari menghibur orang baik dihajatan-hajatan atau event lainnya," paparnya.

Isti, Lady Rocker juga mengaku, adanya wabah Covid-19 sangat berpengaruh terhadap aktivitas sebagai penyanyi rocker. Karena selama ada Covid-19 yang diawali bulan Maret 2020 hingga saat ini tidak ada lagi penghasilan dari panggung yang didapatnya. Padahal sebelum Covid-19 dalam sebulan penuh bisa mendapatkan Rp 5 - 6 juta.

"Jadi selama ini, saya ngojek-ngojek aja, sama dagang apa aja cari buat makan. Saat ini rumah udah disegel bank karena gak bisa bayar, motor juga udah mau ditarik, tv udah dijual. Untung ada 2 tvnya," jelasnya.

Isti berharap pemerintah tidak tutup mata terhadap para musisi yang terdampak Covid-19. Pemerintah harus memberikan solusi agar nasib para musisi tidak semakin sengsara akibat Covid-19. Karena musisi juga butuh hidup, seperti juga profesi yang lainnya.

Bayu, pelukis yang biasa mangkal di Glodok, Jakarta Barat juga mengaku, adanya wabah Covid-19 juga berpengaruh terhadap daya beli lukisamnya. Saat ini para peminat lukisan yang datang ke Glodok bisa dihitung dengan jari. Akibatnya banyak pelukis di Glodok yang tidak ada order untuk melukis. Sehingga ada di antara pelukis yang menganggur.

"Sebelum Covid-19,  dalam seminggu bisa terjual 4 lukisan, bahkan kadang lebih. Kalau sekarang tidak ada lagi pelanggan yang datang ke Glodok," paparnya. 

Diusir Ibu Kos

Diketahui Sakseni Indonesia membuat petisi Stimulus Ekonomi dan Jaring Pengaman Pelaku Seni. Petisi dibuat karena para pelaku seni, pekerja seni dan elemen seni lainnya yang terdampak karena wabah Covid19 ini sudah pada titik nadir kesulitan, kesulitan ekonomi berikut efeknya.  Saat ini sudah ada beberapa teman pelaku seni yang terpaksa diusir oleh Ibu Kos karena tak bisa bayar, ada juga yang menjual alat instrumen di studio rekamannya satu persatu perlahan. Dan ada yang sampai rumah tangga berantakan.

"Sungguh pandemi covid ini tidak hanya mengancam nyawa kita, namun juga mengancam kondisi ekonomi kita. Kondisi ini mengharuskan kegiatan dan kesehatan ini harus berjalan seiring bersama," bunyi petisi tersebut.



#Corona #covid-19 #seniman #ekonomi

Komentar Anda
Komentar