Hello,

Reader

Rizal Ramli: Resesi Sudah Terjadi, dan Akan Terjadi
Rizal Ramli: Resesi Sudah Terjadi, dan Akan Terjadi

Jakarta, HanTer - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia belum mengalami resesi karena baru mengalami pertumbuhan ekonomi negatif pada triwulan II-2020 yang merupakan pertama kalinya sejak 1999. Ekonom senior Rizal Ramli punya pandangan berbeda.

Rizal Ramli mengatakan, dalam bahasa sederhana, kalau rakyat menengah ke bawah kebanyakan sudah resesi dari beberapa bulan yang lalu. "Resesi sudah terjadi dan akan terjadi. Yang belum resesi hanya pejabat saja," ujarnya, kemarin.

RR, demikian Rizal Ramli menyebut saat ini daya beli masyarakat rendah, pertumbuhan kredit pada kuartal I-2020 yang hanya 4% padahal jika ekonomi mau tumbuh 6% pertumbuhan kredit harus 15-16%.

RR, demikian Rizal Ramli disapa, mengatakan kemerosotan ekonomi yang terjadi saat ini gejalanya sudah dia ungkap 1,5 tahun lalu. "Tapi seperti biasa dibantah-bantah oleh tim ekonomi pemerintah dengan angka-angka yang tidak benar. Dan nyatanya sekarang terjadi," kata mantan anggota tim panel penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini.

RR tak sependapat dengan Menkeu Sri Mulyani yang menyatakan pemulihan ekonomi nasional pada Kuartal III-2020 akan pulih. Dia memperkirakan kedepan ekonomi akan tambah merosot terutama karena belum ada tanda-tanda corona akan melandai.

"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III juga akan negatif," ucap RR yang dijuluki "Sang Penerobos".

Rizal yang saat menjadi Menko Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur sukses menyulap pertumbuhan ekonomi dari minus 3% saat ditinggalkan Habibie tumbuh hingga 4,9% dalam waktu 18 bulan, menyinggung soal kebijakan ekonomi pemerintah Jokowi. Menurutnya kebijakan ekonomi yang dibuat tidak efektif.

"Kalau dengar sih kelihatan manis tapi saya selalu melihat apa yang terjadi di lapangan terutama golongan menengah bawah. (Pandemi Corona) kan sudah 4 bulan sejak Maret, nyaris tidak ada kebijakan yang betul-betul dirasakan manfaatnya oleh golongan menengah bawah," ucap Rizal.

Misalnya terkait kebijakan stimulus. Paket stimulus diberikan kepada perusahaan-perusahaan atau korporasi besar padahal saat ini rata-rata kapasitas produksi hanya 40%.

"(Perusahaan) dikasih stimulus memang mau naikan produksi? Rugi dia karena tidak ada permintaan. Membantu yang besar-besar hari ini dengan stimulus tidak ada dampaknya. Buntutnya (stimulus mereka) gunakan membeli emas, dipakai untuk spekulasi mata uang atau membeli aset-aset (tanah dan bangunan) yang saat ini harganya sudah rendah," tutur Rizal.

Dua Strategi

Rizal menyarankan dua strategi yang perlu dijalankan pemerintah Jokowi. Pertama menciptakan permintaan. Dalam situasi krisis, katanya, prioritas kebijakan harus menyasar rakyat golongan menengah ke bawah.

"Kuncinya permintaan dulu dipompa, terutama (permintaan) dari golongan menengah ke bawah. Karena kalau ada uang mereka pasti belanjakan karena marginal propensity to consume-nya 99%. Kalau ini yang dilakukan baru ada permintaan, ada demand," tutur Rizal.

Kemudian fokus pada sektor pangan. Menurut tokoh berjuluk "Rajawali Ngepret" ini, sektor pertanian mempunyai nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari krisis, termasuk krisis yang ditimbulkan oleh pandemi Corona.

"Dari dulu yang positif kan pertanian. Kami sudah sampaikan dalam kondisi krisis seperti ini pertanian bisa jadi dewa penyelamat. Oleh karena itu kita harus genjot pertanian. Selain karena resiko Coronanya juga sedikit, kalau pangan bagus rakyat pikirannya tenang," demikian kata Rizal Ramli.

Terlambat

Sementara itu pengamat kebijakan publik, Safril Sjofyan mengatakan, pemerintah terlambat mengantisipasi pertumbuhan ekonomi sejak munculnya corona. Padahal sebelum covid benar-benar datang, para ekonom dari Indef sudah mengingatkan ekonomi Indonesia dalam kondisi bahaya. 

Bahkan, lanjutnya, Dr. Rizal Ramli begawan ekonomi yang sudah punya track record menyelamatkan ekonomi setelah krisis moneter 1998, setahun sebelumnya sudah mengingatkan ekonomi Indonesia sudah lampu kuning, enam bulan menjelang Covid 19 di TV One, RR juga mengingatkan ekonomi Indonesia sudah hampir memasuki lampu merah, dengan indikator multi devisit dan perusahaan Zombie yang gagal bayar. 

“Saya sependapat dengan Eko Listiyanto peneliti dari INDEF. Tanpa adanya Covid-19 sebetulnya ekonomi sudah melambat, Covid-19 ini hanya menkonfirmasi atau mempercepat memang struktur ekonomi Indonesia rapuh, kemandirian yang tidak dibangun, dan berbagai macam persoalan-persoalan yang ada di dalam perekonomian akhirnya terkuak,” kata Sjafril.

Selain telat antisipasi, lanjut Sjafril, juga strategi penanggulangan Pagebluk Covid-19 tidak jelas. Dari awal terlambat dan tarik ulur serta oper-operan antara pusat dan daerah. Begitu juga dengan strategi penanggulangan ekonomi, pemerintah cuma cari aman, membentuk UU 2/2020 yang melanggar konsitusi, hak budgeting dan hak pengawasan dicuri dari lembaga Legislatif dan Yudikatif. 

“Lucunya kedua lembaga tidak merasa dicuri bahkan menyodorkan. Malah memberi kekebalan hukum bagi Eksekutif, tidak bisa dipidana, ini aneh,” kata Sjafril.



#Ekonomi #corona #covid-19 #resesi #rizalramli #jokowi #srimulyani

Komentar Anda
Komentar