Hello,

Reader

Kebijakan BI Membeli SUN Bom Bunuh Diri
Kebijakan BI Membeli SUN Bom Bunuh Diri

Jakarta, HanTer - Pengamat ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamudin Daeng mengakui, resesi ekonomi bisa diantisipasi. Apalagi BI sudah membeli Surat Utang Negara (SUN) di pasar perdana senilai hampir Rp 400 triliun,  yang pada dasarnya justru melanggar prinsip prinsip moneter karena dana BI yang dipakai untuk membeli obligasi negara adalah dana Bank. 

"Dengan melonggarkan cadangan minimum bank, sehingga uang bank bisa digunakan untuk membiayai APBN," jelas Salamudin Daeng kepada Harian Terbit, Minggu (30/8/2020).

Salamuddin mengatakan, ditengah kondisi keuangan perbankan yang buruk, ancama kredit macet, beban kewajiban bank yang besar, maka upaya tersebut adalah hal yang sangat membahayakan perbankkan. Karena yang dilakukan BI bisa membuat krisis APBN sehingga hal tersebut akan langsung menghempaskan perbankkan.

"Akibatnya, hal ini akan membuat APBN tersandera utang kepada bank, semacam utang jangka pendek yang membahayakan. Sementara kita tahu APBN sendiri tersandera utang sebelum covid 19 yang sangat besar. APBN terancam gagal bayar," paparnya.

Salamudin menilai, jika terjadi sedikit saja guncangan pada bank bank, maka tidak ada yang dapat membantu bank bank tersebut.  Sementara dananya yang sebelumnya dibawah kewenangan LPS sudah digunakan APBN. Sehingga Bank dalam posisi waspada. Jika terjadi apa apa pada bank, BI dan LPS kehilangan sumber daya untuk membantu bank. 

"Makanya ini yang disebut pelanggaran moneter. Sementara keadaan bank sekarang sedang burik," jelasnya.

Lebih lanjut Salamuddin mengatakan, kebijakan BI membeli SUN di pasar perdana ini adalah bom waktu yang ditanam BI dalam tubuh ekonomi Indonesia, sehingga menjadi semacam bom bunuh diri. Hal inilah yang mungkin itu yang dimaksud sumber resesi oleh Menko Polhukam Mahfud MD. 

"Jokowi memanam bom waktu dengan memakai uang bank membiayai APBN," tandasmya.



#BankIndonesia #sun #resesi

Komentar Anda
Komentar