Hello,

Reader

Ini Dia Manfaat Proyek TPPI Olefin, Hemat Devisa, Dorong Pertumbuhan dan Wujudkan Kemandirian Ekonomi
Ini Dia Manfaat Proyek TPPI Olefin, Hemat Devisa, Dorong Pertumbuhan dan Wujudkan Kemandirian Ekonomi

Pada April 2024, Pusat Produksi Olefin dan Aromatik hadir di negeri ini.  Proyek yang dikenal dengan Olefin Complex Development Project (OCDP) di kawasan TPPI, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ini dinilai berbagai kalangan sangat stragtegis. Selain mendorong kemandirian ekonomi nasional dan mendukung pengembangan industri dalam negeri, juga akan  mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Selain itu proyek yang digarap PT Pertamina melalui salah satu Sub Holding, PT Kilang Pertamina International (KPI) ini akan membantu pemerintah ke depannya dalam mengurangi impor migas ditengah defisit neraca perdagangan kita yang cukup besar terutama berasal dari sektor migas.

 

Para pengamat migas dan ekonomi menyebut, pembangunan proyek yang ditargetkan berlangsung selama tiga tahun, yakni akan dimulai pada Desember 2021 dan akan mulai berproduksi pada April 2024 ini, impor untuk olefin dan aromatik bisa ditekan atau bahkan dihilangkan karena bisa diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian proyek ini disebut mampu menghemat devisa negara.

 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, dengan program-program yang akan dikedepankan Pertamina dalam meningkatkan produksi petrokimia, maka TPPI bisa menghemat devisa negara mulai dari US$ 700 juta sampai US$ 1,2 miliar, atau sekitar Rp 16,77 triliun per tahun.

 

"Kalau hari ini kapasitas untuk produksi petrokimianya juga masih terbatas. Seperti paraxylene masih 700.000 barrel per hari, tentu penghematan mulai dari US$ 700 juta sampai sampai US$ 1,2 miliar tergantung pada harga," papar Airlangga beberapa waktu lalu.

 

Proyek nasional energy strategis dengan investasi senilai Rp50 triliun ini dinilai sangat tepat dan bisa segera direalisasikan karena mampu menyerap tenaga kerja lokal sekitar 10 ribu orang. Juga melibatkan masyarakat sekitar untuk menjadi tenaga kerja saat operasional.

 

Ekonom senior Faisal Basri mengatakan, di tengah pandemi COVID-19, industri petrokimia negeri ini harus bangkit, dan harus  tetap tumbuh. Sektor ini dinilai mampu bertahan, terus berproduksi di saat sektor lain melambat.

 

“Pengembangan industri petrokimia nasional, perlu diakselerasi agar industri manufaktur nasional bisa kembali bangkit. Pengembangan Tuban Petro bersama dengan Pertamina, menjadi sangat penting untuk diakselerasi,” paparnya seperti dikutip detikfinance.

 

Langkah strategis pengembangan Tuban Petro bersama anak-anak usaha, lanjut Faisal, diharapkan dapat menjadi jawaban atas persoalan masih tingginya impor bahan petrokimia yang menjadi salah satu ganjalan bagi neraca perdagangan Indonesia.

 

Menurut Faisal, pengembangan bisnis Tuban Petro harus terus dikawal agar cepat terwujud termasuk rencana pembangunan pabrik olefin, sehingga kapasitas produksi produk petrokimia di dalam negeri meningkat dan proporsi impor terus diperkecil.

 

Pengembangan TPPI secara optimal diyakini akan mampu mendorong industri turunan lain untuk semakin berkembang. TPPI yang selama ini hanya difungsikan pengolah BBM, bisa ditingkatkan lagi. Desain asli TPPI adalah untuk memproduksi benzene, toluene dan xylene (BTX), sebagai bahan baku industri kimia dasar, tekstil, industri cat, dan lain-lain.

 

Disambut Antusias

 

Proyek ini disambut Bupati Tuban H Fathul Huda dengan antusias. Bupati Huda mengharapkan proyek ini dapat berjalan lancar serta mampu membawa manfaat dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat Bumi Wali, pada umumnya bagi bangsa Indonesia.

 

Sedangkan Wakil Bupati Noor Nahar menekankan, agar pembangunan proyek mampu menyerap tenaga kerja lokal terutama ketika proses konstruksi. Di samping itu ketika perusahaan telah beroperasi dapat menyerap tenaga lokal, pada pekerjaan sector non-skill hingga middle.

Sementara itu, Adib Miftahul, Pengamat Kebijakan Publik menilai proyek TPPI ini bisa membangkitkan perekonomian Indonesia. Pasalnya, jika kilang TPPI itu sudah beroperasi, maka akan memberikan dampak positif yang sangat besar untuk menekan impor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia.

 

“Proyek pembangunan pabrik petrokimia TPPI bisa menciptakan kemandirian energi bangsa. Juga menghemat devisa hingga US$ 4,9 miliar atau sekitar Rp 56 triliun. Untuk itu, proyek tersebut harus didukung semua pihak,” kata Adiub seperti dilansir Kontan.co.id.

 

Bersih dan Transparan

 

Mengingat pentingnya proyek strategis nasional ini bagi kemandirian ekonomi dan penghematan devisa, PT Pertamina (Persero) selaku pemilik saham PT TPPI mendesain jalannya proses tender DBC Olefin TPPI dengan bersih dan transparan. Bahkan pelaksanaannya juga disupervisi langsung oleh Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung dan Bareskrim Polri.

 

Fajriyah Usman, VP Corporate Communication Pertamina menegaskan seluruh proses tender dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur pengadaan yang berlaku. Bahkan seluruh proses tender ini dijalankan Pertamina dengan pendampingan dari Tim Jamintel, Bareskrim POLRI, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan juga berkonsultasi dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), sehingga Governance-nya sangat terjaga dengan baik.

 

Dalam rangka memenuhi waktu penyelesaian proyek sesuai yang ditargetkan oleh Pemerintah dalam jangka waktu diperkirakan tiga tahun, Pertamina melaksanakan tender dengan Strategi Kontrak Design Build Competition (DBC) yaitu menetapkan dua Peserta Terbaik untuk melaksanakan pekerjaan Design yaitu pemilihan Technology/Licensor, pembuatan design (BED & FEED) dan lingkup EPC, dan selanjutnya akan ditetapkan satu pemenang pelaksana pembangunan yang lebih kompetitif dari sisi biaya dan harga.

 

Sampai saat ini proses tender masih berlangsung. Pengawasan ketat terus dilakukan hingga penetapan pemenang. “Tim Tender KPI sudah memeriksa secara seksama seluruh dokumen dari peserta, termasuk memastikan pengalaman proyek yang sejenis dengan Proyek TPPI Olefin Complex yang dibuktikan oleh berita acara penyelesaian pekerjaan,” terang Fajriyah.

 

Hal ini untuk memastikan kemampuan dalam penyiapan design (BED & FEED) dan pembangunan Pusat Produksi Olefin Complex di Indonesia bisa selesai sesuai target.

 

"Dengan dukungan seluruh stakeholder, pembangunan Pusat Produksi Olefin ini diharapkan akan mendukung pengembangan industri dalam negeri serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.

 

Hal ini dikatakan Fajriyah terkait beredarnya tudingan negatif yang mengarah kepada panitia tender yang diduga melakukan pelanggaran dalam proses prakualifikasi, namun setelah dilakukan klarifikasi, kabar tersebut tidak terbukti.

 

Diduga tudingan negatif tersebut dilayangkan oleh sejumlah oknum yang tidak menghendaki pabrik ini terbangun.  

 

"Kami bersyukur proses tendernya berjalan lancar, bersih, sesuai dengan harapan kita bersama. Sehingga proyek bisa segera terealisasi dan Rekind kembali berkarya dalam pengembangan perekonomian bangsa," ujar SVP Corporate Secretary & Legal Edy Sutrisman melalui keterangan tertulisnya, Jumat (25/9/2020).



#Pertamina #tppi

Komentar Anda
Komentar