Hello,

Reader

Terapkan Konsep Green Building, Pemprov DKI Jakarta Tekan Emisi Gas Rumah Kaca
Ilistrasi Kota Jakarta
Terapkan Konsep Green Building, Pemprov DKI Jakarta Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

Efek emisi gas rumah kaca mengancam keberlangsungan kehidupan umat manusia di bumi terus menjadi perhatian dunia. Guna mewujudkan Jakarta menjadi kota yang maju dan lestari, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara konsisten berupaya mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Gas Rumah Kaca (GRK) menjadi salah satu konsen Pemprov DKI Jakarta karena berdampak langsung terhadap lingkungan. Langkah konkret tersebut salah satunya diwujudkan dengan menerapkan konsep Bangunan Gedung Hijau (Green Building), yaitu bangunan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien sejak perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pemanfaatan, pemeliharaan, sampai dekonstruksi. Konsep Bangunan Gedung Hijau (Green Building) direalisasikan berdasarkan Pergub No. 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Andono Warih dalam keterangan tertulisnya yang diterima Harian Terbit, dikutip Kamis (29/10) menyatakan prinsip reduksi emisi pada bangunan hijau adalah terjadinya penurunan konsumsi energi tanpa menurunkan kemampuan fungsional bangunan.

“Kami mendorong kolaborasi aksi penurunan emisi GRK melalui implementasi konsep bangunan gedung hijau dengan melaporkan konsumsi energi, air, dan pelaksanaan program konservasi energi secara berkala," terang Andono.



Persyaratan teknis bangunan gedung hijau, kata Andono, mencakup efisiensi energi, efisiensi air, kualitas udara dalam ruang, pengelolaan lahan dan limbah, serta efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan konstruksinya.

“Data aktivitas emisi GRK bangunan gedung hijau dihitung dari konsumsi listrik dan lama penggunaan listrik,” jelasnya.

Hingga saat ini, baru 5 (lima) gedung di DKI Jakarta yang telah melaporkan aksi mitigasinya, yaitu Menara BCA, Sampoerna Strategic Square, Sequis Life, Pacific Place, dan Gedung Waskita. Data ini diperoleh dari Green Building Council Indonesia (GBCI) yang telah melakukan sertifikasi bangunan hijau dengan hasil perhitungan capaian reduksi emisi GRK sebesar 13.789 ton CO2e.

Persentase capaian reduksi aksi mitigasi green building pada 2020 baru sebesar 0,93 persen dari target penurunan emisi GRK berdasarkan Pergub No. 131 Tahun 2012, yaitu dari gedung non-Pemprov pada tahun 2020 sebesar 1,5 juta ton CO2e dan tahun 2030 sebesar 5,5 juta ton CO2e. Target dari gedung Pemprov sendiri pada Tahun 2020 sebesar 49, 4 ribu ton CO2e dan tahun 2030 sebesar 129,5 ribu ton CO2e.

Lebih lanjut, Andono menjelaskan bahwa, konsep Green Building DKI Jakarta telah dituangkan dalam Grand Design Green Building yang diinisiasi sejak tahun 2016. Berdasarkan Grand Disain Green Building, pada 2030 Jakarta berkomitmen akan menurunkan konsumsi energi, konsumsi air dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) masing-masing sebesar 30 persen.

“Konsep Green Building juga dapat mencegah dampak negatif dan meningkatkan kesehatan lingkungan sekitar yang dapat diterapkan pada permukiman atau hunian warga yang merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan,” imbuhnya.



Target green building melalui penghematan energi listrik sebesar 3.785 GWh, artinya energi ini dapat digunakan untuk menerangi lebih dari 32 ribu unit rumah/rusun dengan daya 1.300 W sampai dengan 2030. Selain itu, penghematan konsumsi air sebesar 2,4 miliar liter setara dengan konsumsi air untuk lebih dari 1.100 unit rumah/rusun sampai dengan 2030.

“Dengan penghematan konsumsi listrik dan air tersebut, dapat dilakukan pengurangan emisi GRK sebesar 3,37 juta ton CO2e yang setara dengan pengurangan emisi oleh 815 ribu batang pohon yang ditanam sampai dengan 2030,” tegas Andono.

  



#JAYARAYACOVID

Komentar Anda
Komentar