Hello,

Reader

Celotehan Nikita Mirzani, Habib Rizieq: Saya Tidak Marah, Umat yang Marah
Celotehan Nikita Mirzani, Habib Rizieq: Saya Tidak Marah, Umat yang Marah

Jakarta, HanTer - Di atas panggung peringatan Maulid Nabi yang digelar di Markas FPI di Jl Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (14/11/2020), HRS menanggapi ‘perang’ kata antara Nikita Mirzani dan Ustaz Maaher At-Thuwailib. Namun HRS tidak secara spesifik menyebut nama Nikita Mirzani.

"Ada lo**e hina habib. Pusing, pusing. Sampai lo**e ikutan ngomong, iye...," kata HRS. 

"Saya nggak marah. Cuma ada umat yang marah, ngancem mau ngepung lo**e. Eh polisi kalang kabut jagain lo**e. Kacau, kacau," paparnya. 

Diketahui, Nikita terlibat perang cuitan dengan Ustaz Maaher At-Thuwailibi. Awalnya, Nikita membuat video di Instagram Stories dan mengeluhkan ramainya orang yang menjemput kepulangan Habib Rizieq. Ia pun mengatakan nama habib adalah tukang obat. Hal itu membuat para pendukung imam besar FPI itu geram dan mengancam melaporkan Niki ke polisi.

Wakil Sekretaris Jenderal PA 212, Novel Bamukmin menyatakan, pihaknya tidak akan melayani celotehan Nikita Mirzani yang dinilainya tidak pantas disampaikan kepada seorang ulama besar, Habib Rizieq Shihab.

"Saya gak mau ladenin lah celotehan dia," paparnya kepada Harian Terbit, Minggu (16/11/2020).

Sementara itu, Juru Bicara FPI, Munarman belum menjawab pertanyaan yang diajukan Harian Terbit, Minggu (15/11/2020) terkait apakah akan menempuh jalur hukum atas penghinaan yang dilakukan Nikita Mirzani terhadap HRS. 

Ulama

Sejumlah pengamat berkomentar terkait perrnyataan politikus PKB Abdul Kadir Karding menyebut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), tak sepenuhnya dikategorikan sebagai ulama. Pergerakannya selama ini tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan politisi.

"Beliau (HRS) ulama. Tap HRS juga sangat paham politik,  kan banyak membaca. Bapaknya juga seorang aktivis pandu atau pendiri Pramuka.
Jadi HRS itu ulama yang politisi juga.Kalau politik kan semua orang tahu. Tapi beliau kan tidak terkontaminasi parpol (partai politik)," ujar pengamat politik Rusmin Effendy kepada Harian Terbit, Minggu (15/11/2020).

Rusmin menuturkan, bukan berarti seorang Habaib tidak mengerti politik. HRS mendapatkan gelar S2. Jadi apa yang disampaikan ke publik tidak ada yang salah dan menyimpang. "Justru apa yang dikatakan HRS merupakan fakta sejarah seperti beliau mengecam sikap Bung Karno soal Pancasila.Sekarang kan terbukti semua. Justru Megawati yang mau menggantikan Pancasila menjadi Ekasila dan Trisila. Kok nggak diproses secara hukum. Jadi wajar saja kalau IB HRS punya gagasan NKRI Bersyariah. Memang ada yang salah, kenapa harus takut," jelasnya 

Rusmin menilai, penyambutan kepulangan HRS ke Indonesia membuktikan masyarakat memang rindu kepada HRS, sosok pemimpin panutan umat Islam.  

"Secara politik IB HRS memiliki magnit politik yang luar biasa. Tidak ada satu pemimpin di negara ini punya pengikut dan kharismatik seperti beliau. Seorang ulama dan zuriyah Rosulullah seperti seekor singa," jelasnya.

Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, HRS memang faham politik. Pemahaman terhadap politik guna lebih taktis menyikapi situasi. Lebih baik hindari pernyataan keras. Sebaiknya HRS hanya mendorong kelompok kritis seperti Rocky Gerung, Rahmawati, para aktivis HAM, buruh seperti Asfinanti, Iqbal, dan lainnya di depan. 

"Mereka dorong membentuk front nasional, Munarman disuruh bergabung di liga nasional. Liga nasional inilah yang harus serang keras pemerintah. Massa HRS back up massa liga nasional"," paparnya.

Aminudin menuturkan, ini mencerminkan perubahan sosilogis masyarakat yang kembali zaman pra kemerdekaan dimana kepemimpinan kharismatis keagamaan sekaligus simbol perlawanan kezaliman seperti Pangeran Diponegoro mendapat pengaruh yamg luas di masyarakat mengalahkan pengaruh pejabat formal.

Dalam sejarah modern mungkin hampir mirip dengam gelombang pengaruh Ayatullah Khomeini yang begitu kuat sehingga mengantarkan Revolusi Islam Iran 1979 menjungkirbalikkan kekuasaan Shah Reza Pahlevi yang sangat kuat didukung Amerika yang memiliki dinas intelijen Savak yang kejam.

Politisi

Diketahui dalam Webinar yang digelar Forum Jurnalis Politik, Minggu (15/11/2020), politikus PKB Abdul Kadir Karding menyebut Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), tak sepenuhnya dikategorikan sebagai ulama. Pergerakannya selama ini tak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan politisi.

Menurut Karding, Habib Rizieq memiliki kemampuan bergerak dengan membangun wacana-wacana dan isu yang bisa memantik perhatian beberapa kalangan umat Islam di Indonesia.

"Saya melihat Habib Rizieq ini adalah politisi, jadi kacamata saya tidak sepenuhnya beliau sebagai ulama, tetapi sebagai politisi yang bisa bergerak dengan isu apa saja, di sektor apa saja. Itu yang perlu saya sampaikan," jelasnya.

Karding memandang kecenderungan sikap politikus itu tampak kemampuan Habib Rizieq mewacanakan persoalan. Misalnya, soal nasib umat Islam di Indonesia. Ketika Habib Rizieq melakukan itu, menurut Karding, dia bisa membangun kesamaan perasaan bahwa kelompok Islam di Indonesia mulai terpinggirkan. 

Isu-isu itu mampu dikelola sedemikian rupa sehingga bisa memantik simpati dari masyarakat terutama beberapa kalangan umat Islam. "Dikelola sedemikian rupa lewat medsos, sehingga menjadi kekuatan yang layak diperhitungkan," jelasnya.

Ketokohan Habib Rizieq pun dinilainya tidak luntur saat yang bersangkutan berada di Arab Saudi beberapa waktu lalu. Meski tidak di Indonesia, Karding menyebut Habib Rizieq tetap mampu mempengaruhi percaturan politik di Indonesia.



#Habibrizieq #umatislam #nikitamirzani

Komentar Anda
Komentar