Hello,

Reader

Rizal Ramli: Mas Jokowi, RI Makin Parah Jadi ‘Pengemis’ Utang Bilateral
Rizal Ramli: Mas Jokowi, RI Makin Parah Jadi ‘Pengemis’ Utang Bilateral

Jakarta, HanTer - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) kembali menambah utang. Terakhir mendapat pinjaman dari Australia dan Jerman. Ekonom senior Rizal Ramli (RR) mengkritik kebijakan pemerintah Jokowi terus menambah utang. 

Mantan Menko Perekonomian ini menyebut pemerintah keliru jika terus menambah utang luar negeri. Menurutnya, menerbitkan surat utang (bonds) bunganya semakin mahal.

“Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI ? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah,” tulis Rizal Ramli dalam @RamliRizal dikutip pada Jumat 20 November 2020," tulis Rizal Ramli di akun Twitter pribadinya seperti dikutip pada Sabtu (21/11/2020).

Rizal Ramli yang juga mantan Menteri Koordinator Kemaritiman di era Presiden Jokowi tersebut berujar, Indonesia mulai kembali menumpuk utang dari pinjaman bilateral setelah sebelumnya banyak menarik utang dari obligasi.

"Makanya mulai ganti stratetegi jadi 'pengemis utang bilateral' dari satu negara ke negara lain."

"Itu pun dapatnya recehan wajah menyeringai itu yang bikin shock," ucap Rizal Ramli.

Tidak Mengemis

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo melalui akun Twitter resminya, @prastow, Jumat, 20 November 2020 menyebut, imbal hasil atau yield dari utang Indonesia justru turun dari 7,03 persen pada awal tahun menjadi 6,15 persen pada November 2020.

Dia juga mengklarifikasi bahwa pinjaman dari Australia dan Jerman tidak diperoleh RI dari mengemis, melainkan sebagai wujud persahabatan antarnegara, terutama di tengah pandemi Covid-19. Hal itu didukung fakta bahwa pinjaman itu bertenor panjang dan bunganya rendah.

"Meski diblok, saya jawab Bang Rizal Ramli: Yield atau bunga utang kita justru turun, dari 7,03% di awal tahun menjadi 6,15% di Nov 2020. Ngemis? Pinjaman Australia dan Jerman itu wujud persahabatan dan solidaritas tangani pandemi, maka tenornya panjang dan bunga rendah," demikian cuitan Yustinus Prastowo dilansir Tempo.co.

Pada Jumat lalu, Kedutaan Besar Republik Federal Jerman mengumumkan penandatangan perjanjian utang senilai 550 juta euro atau setara Rp 9,1 triliun untuk Indonesia. Adapun pada 12 November lalu, Indonesia memperoleh pinjaman senilai AUS$ 1,5 miliar atau Rp 15,4 triliun (kurs Rp 10.300) dari Australia. 



#Rizalramli #ekonomi #utang #jokowi #presiden #srimulyani #menteri

Komentar Anda
Komentar