Pertumbuhan Ekonomi Terus Merosot, Pengamat Sesalkan Luhut, Sri Mulyani dan Nadiem Tidak Diganti
Pertumbuhan Ekonomi Terus Merosot, Pengamat Sesalkan Luhut, Sri Mulyani dan Nadiem Tidak Diganti

Jakarta, HanTer - Presiden Joko Widodo melantik Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek); Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Namun sejumlah pihak menyesalkan sejumlah menteri memiliki raport merah tidak diganti.

Demikian disampaikan Pengamat politik Fernando Ersento Maraden Sitorus dan Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun. 

Ubedilah menyebut ada tiga menteri yang seharusnya dicopot, yakni Menko Manivest (Marves) Luhut B Panjaitan, Mendikbud Nadiem Makarim dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Sebenarnya menteri-menteri lain juga memiliki catatan rapor merah, tetapi Jokowi nampaknya tidak berani memberhentikannya. Misalnya Luhut, Nadiem dan Sri Mulyani Indrawati (SMI),” kata Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun dalam keterangan tertulis, Rabu (23/12/2021).

Menurutnya, Menko Manivest (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan misalnya, tidak menunjukkan kemajuan sesuai janji-janji soal investasi. Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani, menurutnya juga perlu diganti karena angka pertumbuhan ekonomi yang terus merosot. Adapun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Ubedilah menyinggung masalah kurikulum yang bikin gaduh.

Terkait kurikulum, Nadiem sebelumnya memang mengatakan kurikulum baru akan diuji coba di sejumlah daerah pada tahun ajaran 2021/2022. Kurikulum ini bakal menginstruksikan guru untuk mengajar sesuai kemampuan siswa.

Rencana itu lalu menuai protes dari federasi guru juga pengamat pendidikan. Federasi Guru meminta Kemendikbud mengevaluasi Kurikulum 2013 terlebih dahulu sebelum memutuskan kurikulum baru. Sementara menurut pengamat pendidikan, wacana tersebut tidak tepat diterapkan di tengah pandemi Covid-19.

Ia pun memperkirakan Menkes baru kemungkinan bakal menghadapi sejumlah masalah di internal kementerian dan perlu waktu yang cukup lama untuk memahami serta memetakan kondisi di Kemenkes. "Posisi Menteri Agama juga nampaknya kurang tepat karena bukan berasal dari kekuatan NU yang sangat kultural," tambah dia.

Dalam perombakan kabinet kali ini, Ubedillah juga mencium adanya nuansa transaksional antara kekuatan politik di parlemen dan eksekutif dengan terpilihnya menteri baru dari partai.

"Satu catatan kritik saya sejak awal menyusun kabinet 2019 lalu bahwa Jokowi masih mengabaikan pentingnya assessment integritas calon menterinya. Jokowi tidak lagi menggunakan cara-cara ideal menyusun kabinet tetapi lebih dominan pertimbangan chemistry loyalitas dan pertimbangan kekuatan politik," tukas Ubedilah.

Tidak Mungkin

Sementara itu pengamat politik Fernando Ersento Maraden Sitorus mengatakan, tidak mungkin tiga menteri peraih raport merah yakni Menko Luhut B Panjaitan, Mendikbud Nadiem Makarim dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pasalnya ketiga menteri tersebut memiliki peran penting dalam menjadikan Jokowi sebagai Presiden.

"Ketiga Menteri memang sangat layak diganti karena kinerja yang kurang baik. Namun sangat tidak mungkin ketiga menteri tersebut dicopot dari Menteri," ujar Fernando kepada Harian Terbit, Kamis (29/4/2021).

Menurut Fernando yang Direktur Rumah Politik Indonesia (RoI Indonesia), LBP merupakan sosok yang berperan penting dalam menjadikan Jokowi sebagai Presiden dan dalam kebijakan-kebijakan Jokowi selama ini. Sri Mulyani juga merupakan kepanjangan tangan dari lembaga keuangan dunia tentunya keberadaannya dalam kabinet sangat kuat. 

"Hal ini juga membuktikan bahwa Jokowi masih dibawah bayang-bayang lembaga keuangan dunia, World Bank dan IMF. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan Sri Mulyani yang meminta bimbingan World Bank dan IMF," jelasnya.

Untuk Nadiem, sambung Fernando, yang diharapkan melakukan melakukan reformasi bidang pendidikan juga ternyata sampai saat ini belum ada hal signifikan yang dilakukan. Nadiem memberikan sumbangsih yang begitu penting pada kemenangan Jokowi tahun 2019 yang lalu. 

"Jadi sangat tidak mungkin tiga sosok itu tidak dilibatkan pada kabinet Jokowi-Amin," tegasnya.

Lebih Baik

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Habib Aboe Bakar Alhabsyi mengatakan pihaknya berharap Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dapat bekerja lebih baik mengatasi berbagai persoalan rakyat setelah adanya perubahan kabinet (reshuffle).

Ia mengatakan kerja-kerja menteri yang baru dilantik oleh Presiden di Jakarta, Rabu, kemungkinan akan lebih berat, karena penggabungan dan pembentukan kementerian/lembaga baru menunjukkan adanya tuntutan yang lebih banyak dan lingkup kerja lebih luas.

Terkait pelantikan Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Aboe berpendapat jabatan itu merupakan posisi penting dan strategis.

Sementara itu, terkait pelantikan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Aboe menyampaikan kerja Nadiem akan lebih berat ke depan.

"Karena (kementerian) itu gabungan (dari dua kementerian berbeda), maka akan makin berat buat beliau. Kita lihat, itu tidak mudah ya. Semoga beban ini akan bisa diatasi oleh beliau, dan saya yakin ketika presiden sudah memilih, itu pasti sudah ada catatan-catatan dan dialog sebelumnya. Itu pasti prosesnya panjang," ujar Aboe.

Presiden Joko Widodo pada Rabu sore melantik Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek); Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pelantikan dua pejabat itu menandai perombakan terbatas pada Kabinet Indonesia Maju periode 2019—2024. 



#Menteri #jokowi #nadiem #srimulyani #luhut