Hello,

Reader

Hati-Hati Membatalkan Puasa
Hati-Hati Membatalkan Puasa

ALLAH memerintahkan kita berpuasa Ramadhan untuk mencapai ketaqwaan. Puasanya orang-orang yang benar-benar berpuasa itu menakjubkan karena hanya dirinya dan Allah yang tahu bahwa seseorang itu berpuasa. Seseorang mengaku berpuasa tapi belum tentu berpuasa karena secara kasat mata terlihat menahan diri tidak sedang makan dan  minum.

Menahan diri tidak makan dan minum dalam berpuasa hanya karena menjalankan perintah Allah dan mengharapkan ridho-Nya. Apabila berpuasa hanya karena takut pada orang lain bisa saja berdusta mengaku berpuasa atau bersembunyi saat makan dan minum.Tapi tak dapat berdusta atau bersembunyi dihadapan Allah.

Berpuasa Ramadhan yang diperintahkan Allah sesuai Al Qur’an dan yang dicontohkan oleh Rasulullah. “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu (QS. Muhammad: 33).

Ada rambu-rambu yang wajib ditaati dalam menjalani puasa Ramadhan, menahan diri tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. “... dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.....  (QS Al-Baqarah: 187).

Ada kalanya orang membatalkan puasanya karena tidak mampu menahan diri dari syahwatnya. Hal ini telah dikhawatirkan oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya:”Aku mengkhawatirkan atas umatku syirik dan syahwat tersembunyi. Abu Umamah bertanya, “wahai Rasulullah, Apakah umatmu akan melakukan kesyirikan setelahmu? Beliau menjawab, ya memang mereka tidak menyembah matahari, bulan, batu dan berhala. Akan tetapi mereka memamerkan perbuatan mereka. Sedang syahwat tersembunyi adalah apabila salah seorang diantara kamu di pagi hari berpuasa lalu syahwatnya menggodanya hingga ia meninggalkan puasanya. (HR Ahmad).

Orang berpuasa dituntut untuk menjaga kehati-hatiannya jangan sampai membatalkan puasanya tanpa sebab sesuai syariat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa mendapatkan rukhshoh (keringanan) dan juga tanpa adanya sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya). (HR.At Tirmidzi).

Meski hanya sehari membatalkan puasanya tanpa uzur tanpa alasan yang ditetapkan syariat maka puasanya itu tidak dapat digantikan dengan hari lainnya di luar Ramadhan. Namun bila karena uzur misalnya sakit atau bepergian jauh maka membatalkan puasa Ramadhannya bisa diganti pada bulan lainnya.
 
Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)



#renunganterbit

Komentar Anda
Komentar