Menyayangi Anak Yatim
Menyayangi Anak Yatim

“RASUL menyuruh kita, mencintai anak yatim, Rasul menyuruh kita, mengasihi orang miskin” demikian sebaris lirik lagu Bimbo. Rasulullah mengajarkan kita untuk menyayangi dan melarang berlaku kasar terhadap anak yatim dan orang miskin.

Kesempatan baik dalam bulan Ramadan untuk peduli pada anak yatim, mereka juga ingin ikut berlebaran sebagaimana anak-lainnya yang masih memiliki orangtua. Biasanya DKM Masjid pada setiap bulan Ramadhan menghimpun dana dari para jamaah hasilnya dibagikan khusus kepada anak-anak yatim di lingkungannya.

Rasulullah pada masa kanak-kanaknya telah menjadi anak yatim. Abdullah ayahandanya meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan sang ibunda. Selanjutnya ketika masih berusia sekitar 6 tahun, Aminah ibundanya juga tiada.

Tidak kurang dua puluh tiga kali Al-Qur’an menyebutkan tentang anak yatim dan memerintahkan kaum muslimin dan keluarga dekat untuk menyantuni, mengasuh, melindungi serta tidak menyia-nyiakan mereka. Allah SWT menyatakan orang-orang yang menyia-nyiakan anak yatim adalah pendusta agama.“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama”, Itulah orang yang menghardik anak yatim” (QS Al Ma’un:1-2).

Dengan berbuat baik pada anak yatim dan kaum dhuafa akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan kepekaan hati kita terhadap mereka

Memelihara, mencintai, dan menolong anak yatim merupakan ibadah. Sabda Rasulullah SAW, ''Barang siapa mengambil anak yatim dari kalangan kaum muslimin dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke dalam surga.'' (HR Muslim).

Rasulullah juga bersabda: ''Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Sejelek-jeleknya rumah orang-arang Islam ialah yang di dalamnya anak-anak yatim diperlakukan dengan jelek.'' (HR Ibnu Mubarak).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)

**Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Kamis, 6 Mei 2021



#renunganterbit