Hidup untuk Beribadah
Hidup untuk Beribadah

SETIAP manusia memimpikan hidupnya bahagia dengan berbagai macam cara ditempuh untuk mendapatkannya. Bahagia duniawi seperti umur panjang, kaya, hidupnya mulia semuanya didapati di dunia, selain itu kebahagiaan  ukhrowi seperti kekekalan tanpa kehinaan, kekayaan tanpa  kebutuhan, pengetahuan  tanpa kebodohan yang semuanya didapat dialam akhirat.

Manusia diciptakan Allah bukan hanya untuk sekedar hidup, bisa bergaul, bisa bekerja, makan, minum, menikmati sesuatu, mendapatkan pengalaman atau pengetahuan dan lainnya. Buya  Hamka pernah berkata “Kalau sekedar hidup, babi  dihutan juga hidup, kalau sekedar bekerja, monyet juga bekerja”  Arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita didunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah.

Beribadah kepada Allah tidak hanya dengan shalat, puasa, aaik haji, berzakat. Dan berbuat kebaika. Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah pada Allah sedangkan tugasnya untuk memakmurkan bumi yangt didalamnya terdapat tambang untuk diolah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah(bekerja) kepada-Ku”.( QS Az Zariyat : 51).  “.....Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (menghuni dan mengolah hasil bumi untuk kemakmuran umat manusia), karena itu mohonlah ampunanNya.....”.(QS Hud :61).

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah adalah buah dari ilmu, hasil jerih payah hamba-hamba Allah yang kuat. Beribadah merupakan  jalan yang ditempuh oleh orang yang bertaqwa, memiliki tujuan mulia serta melakukan kebajikan  menuju kebahagian dan surga.

Imam al-Ghazali mengatakan “manusia adalah makhluk yang lemah, umur hidup di dunia pendek dan kematiaan semakin mendekat  sedangkan perjalanan jauh yang harus ditempuh agar sampai tujuan, maka satu-satunya bekal adalah ketaatan, sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali”. “Beruntunglah dan berbahagialah orang-orang yang taat kepada Allah, dan sebaliknya rugilah dan celakalah orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah Swt”, kata Imam al-Ghazali.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 

 

**Telah gayang di rubrik Renungan padat media cetak Harian Terbit ecisit Senin, 10 Mei 2021.



#renunganterbit