Refleksi Sejarah: Dampak Perang Dunia II dan Kondisi Puncak Perang Dingin Terjadi
Zelya Nadia Kirana, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 
Refleksi Sejarah: Dampak Perang Dunia II dan Kondisi Puncak Perang Dingin Terjadi

Berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945, dimana pada saat itu ditandai dengan kekalahan Jerman dan menghadirkan struktur perimbangan kekuatan baru dalam politik internasional. Terciptanya dua kubu yang sama-sama kuat yakni dari Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet(US) dan dari Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) menyebabkan hubungan internasional sangat dipengaruhi oleh kepentingan kedua negara tersebut. Banyak sekali bahkan hampir seluruh negara di dunia yang ikut masuk dalam blok timur maupun blok barat.

Perang Dunia II memberikan dampak dalam berbagai bidang seperti, hancurnya perekonomian dunia lalu banyaknya negara yang terpecah belah, kemudian pada saat itu Amerika Serikat menjadi negara kreditor melalui Marshall Plan,Doktrin Truman, dan Colombo Plan ditujukan untuk membendung luasnya pengaruh komunis. Banyaknya negara-negara yang memperoleh kemerdekaan, berkembembangnya nasionalisme diberbagai kawasan serta meluasnya pengaruh Uni Soviet sehingga mengakibatkan komunisme tersebar luas baik di Asia maupun di Eropa Timur dan ini juga merupakan dampak setelah Perang Dunia II berakhir. Secara inti pasca Perang Dunia II ini mengakibatkan persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dimana mereka berusaha untuk menyebarkan pengaruh ideologi mereka ke berbgai negara, melalui beberapa cara. 

Dari Amerika Serikat untuk menghadapi Uni Soviet banyak cara yang dilakukannya seperti, membentuk organisasi negara-negara di Amerika pada tahun1948 yang beranggotakan negara-negara benua Amerika kecuali Kuba, dan Kanada. Mendirikan organisasi bersifat militer yaitu NATO dengan beranggotakan Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman Turki,Belanda Denmark, dan negara-negara di Eropa Barat, dan beberapa lainnya seperti mendirikan South East Treaty Organization, Central Nation Treaty Orgaization. Lalu, bagaimana dengan Uni Soviet? Tentunya tidak mau ketinggalan begitu saja, US membentuk Pakta Warsawa tahun 1955 yang bergerak dalam bidang militer bertujuan untuk mempersatukan negara komunis, memperkuat kerjasama antara negara anggota dalam bidang militer, anggota yang bergabung dalam Pakta Warsawa ini adalah negara-negara dari Eropa Timur.

Disaat itulah puncak Perang Dingin pecah, terjadinya situasi tegang antara lebih dari dua negara dimana perang ini tidak diikuti dengan senjata, melainkan terdapat sistem aliansi pembentukan beberapa organisasi yang telah disebutkan di atas Amerika dan Uni Soviet merupakan negara adidaya yang memiliki ideologi berbeda perbedaan ini yang menjadikan perang dingin tersebut terjadi, ditambah lagi dengan penyelesaian mengenai negara-negara yang kalah dalam perang dunia II, keinginan mereka untuk berkuasa dan melakukan penyebaran ideologi Liberal-Kapitalis dari Amerika Serikat dan paham Komunis dari Uni Soviet sangat memanaskan suasana pada saat itu sebab kedua ideologi tersebut saling bertengtangan satu sama lainnya.

Kedua negara ini saling berlomba untuk melakukan membuat senjata nuklir dan mempertajam kekuatan personel militer yang kuat, sama-sama berlomba untuk menjadi negara yang kuat dan disegani dengan cara menyebarkan ideologi sekaligus mempengaruhi negara-negara lain terutama negara dunia ketiga yang baru lahir setelah Perang Dunia II, dampak yang paling terlihat ketika perang dingin berlangsung terlihat dengan adanya Tembok Berlin di Jerman sebagai pembatas Jerman Barat dan Jerman Timur, inilah menjadi simbol paling terkenal terjadinya Perang Dingin akibat dari negara adikuasa yang menjalankan politik pecah belah beberapa negara akhirnya terpecah seperti negara Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara, Jerman menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, Vietnam menjadi Vietnam utara dan Vietnam Selatan, atas pembagian wilayah tersebut membuat persaingan ini semakin meningkat.

Pada saat Perang Dingin berlangung, gerakan Non Blok hadir sebagai upaya untuk menghindarkan diri agar tidak terseret ke salah satu blok yang ada, dan juga sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dunia. Gerakan Non Blok ini berdasarkan atas Dokumen Brioni yang diadakan Konferensi Asia-Afrika di Indonesia tahun1955. Dokumen tersebut merupakan kesepakatan Presiden Yugoslavia (J.B Tito), Perdana Menteri India (J.H Nehru), dan Presiden Mesir (Gamal Abdul Nasser) dalam dokumen ini berisi kesepakatan untuk mempersatukan negara-negara yang tidak menjadi anggota Blok Barat dan Blok Timur.

Berakhirnya Perang Dingin yang berlangsung sejak tahun 1947 sampai dengan tahun 1991 ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet yang telah bersitegang selama 44 tahun bersama Amerika Serikat, kemunduran Uni Soviet disebabkan oleh beberapa hal seperti merosotnya ekonomi yang berdampak negatif terhadap seluruh kehidupan di dalamnya. Presiden Uni Soviet membentuk kebijakan baru bernama  Perestrorika dimana di dalamnya terdapat 3 prinsip utama yaitu Glasnost (Keterbukaan Politik) Democratizatsiya (Demokratisasi) dan Rule of Law. Adanya kebijakan ini membuat negara-negara pecahan Uni Soviet (Baltik) ingin memerdekakan diri sendiri, sehingga mereka mulai menarik diri. Prinsip utama Glasnost yang dibuat oleh Presiden Uni Soviet malah menimbulkan akibat yang tidak diharapkan, keinginan negara Baltik yang tadinya ingin bergabung dengan Uni Soviet semakin ingin melepaskan diri sebab munculnya berita negatif mengenai masalah sosial dan ekonomi. Mereka merasa bahwa kebijakan Perestrorika tidak akan memberikan hasil yang baik untuk mereka. Dengan mundurnya Presiden Gorbachev sebagai presiden Uni Soviet merupakan tanda paling besar Uni Soviet berakhir dan telah resmi dibubarkan pada 25 Desember 1991.

Selesainya Perang Dingin juga ikut bersamaan dengan berakhirnya pengeblokan, runtuhnya tembok Berlin pada 9 November 1989 serta  menyatunya Jerman  Barat dan Jerman Timur pada 3 Oktober 1990 sekaligus disususul oleh bubarnya Uni Soviet membuat blok Barat dan blok Timur menjadi tiada arti, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya dan keseimbangan kekuatan di dunia berubah menjadi unipolar karena Amerika Serikat menjadi pemimpin dari kekuatan dunia.

Bagaimana Pasca Perang Dingin? Yang terjadi adalah kerjasama-kerjasana bersifat untuk menjaga perdamaian dan perekonomian, karena konflik ideologi sudah tidak lagi relevan dalam politik internasional. Banyak isu-isu yang muncul pasca Perang Dingin, dengan meningkatnya interdependensi global antar negara menimbulkan persoalan-persoalan ekonomi itu muncul, upaya pemulihan pasca perang juga dilakukan oleh beberapa negara seperti seperti Amerika Serikat yang harus merasakan masalah kehancuran ekonomi politik yang sama seperti Jerman dan Jepang rasakan. Daratan eropa yang merupakan pusat politik internasional juga harus merasakan lumpuh total akibat dari Perang tersebut, dan Inggris harus kehilangan dominasinya dalam politik internasional dengan terpaksa harus mengakui kemunculan Amerika Serikat sebagai super power baru dalam Politik Internasional.

Oleh: Zelya Nadia Kirana, Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 



#Sejarang #perang #dunia