Hello,

Reader

Tidak Saja Impor Pangan Semakin Deras, Impor TPT Ikut Membanjiri
Syafril Sjofyan, pengamat Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78
Tidak Saja Impor Pangan Semakin Deras, Impor TPT Ikut Membanjiri


Bisa jadi Jokowi sebagai Presiden seorang yang  amat baik, saking baiknya bisa saja lemah terhadap kepentingan tokoh yang mendukungnya, termasuk kepentingan partai pendukungnya. Membanjiri nya impor pangan yang dikelola oleh Mendag pada tahun 2018 jika dibanding tahun sebelumnya sangat mencolok, apakah ini kepentingan ditahun politik, penulis belum bisa menyimpulkan.

Gaduh tentang Impor beras sudah diketahui oleh kalayak ramai melalui hasil audit BPK, dan viral marahnya Kepala Bulog Buwas " Matamu!" bahkan Rizal Ramli telah pula melaporkan kasus mafia pangan ke KPK. Data kenaikan impor pangan Januari - Sept 2018 oleh BPS memperlihatkan betapa joj-jorannya impor Pangan; gula tebu impor  naik sebesar 9,7%, kenaikan impor daging 17,81%, impor garam juga mengalami kenaikan 22,34%, impor kakao tercatat  naik 17%, mentega mengalami kenaikan 11%, Tepung terigu mencatatkan kenaikan 30%, Teh impor  naik sekitar 3%, Kopi luar biasa mengalami kenaikan  524% alias 5 kali lipat, Cengkeh, mengalami kenaikan impor 7 %

Mendag yang berasal dari parpol sangat "kekeuh" terhadap perlunya impor, wajar jika ditenggarai punya kepentingan, anehnya kegaduhan impor tersebut walaupun bertolak belakang dengan kebijakan untuk meningkatkan ekspor dan defisit perdagangan, sepertinya terkesan "dibiarkan" oleh Presiden Jokowi. 

Tidak saja Pangan tapi TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) juga ternyata dibanjiri oleh impor data menunjukan terjadi kenaikan impor secara menggila di tahun 2018, setelah berlakunya Permendag 64 tahun 2017 yg mengijinkan trader bisa impor lewat Pusat Logistik Berikat (PLB).

Konon perusahaan di PLB tempat stok barang impor ini "dikuasai" oleh orang dari satu kelompok Partai.
 
Mendag untuk impor TPT "disokong" oleh Ketua API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia), yang juga adalah caleg DPR RI dengan partai yang sama dengan Mendag, selalu bicara bahwa kita perlu impor untuk kepentingan ekspor dan IKM. 

Alasan untuk melindungi kepentingan ekspor jelas tidak relevan karena nilai ekspor tidak naik dan alasan kepentingan IKM lebih tidak tepat karena untuk ekspor sudah ada fasilitas KB/KITE dan lagi kebutuhan IKM sudah bisa dipenuhi oleh bahan baku lokal, tepatnya  adalah adanya mafia TPT yang hanya mengutamakan kepentingan kelompok importir. 

Anehnya data API sendiri menyatakan utilisasi Industri TPT saat ini msh dibawah 50%.

Konon Memperin sudah beberapa kali berkirim surat agar impor TPT dikendalikan, sepertinya hal tersebut tidak akan digubris, jika Presiden Jokowi betul- betul kuat, mafia pangan dan mafia TPT tentunya tidak akan meraja lela seperti tahun ini. Memang sudah semestinya Presiden Jokowi lebih tegas berpihak kepada kepentingan rakyat dengan memecat Mendag yang lebih condong membela kepentingan importir, last  but not least lebih membela kepentingan partai, namun jika keberpihakan Presiden sama dengan menterinya apa boleh buat, rakyat tak berdaya.

Oleh: Syafril Sjofyan, pengamat Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78


#SyafrilSjofyan

Komentar Anda
Komentar