Hello,

Reader

Presiden Minta Jangan Teriak-Teriak Mahal, Emak-emak dan Pengamat Akui Harga-harga Mahal
Presiden Joko Widodo memborong tempe di salah satu pasar di Bogor (ist)
Presiden Minta Jangan Teriak-Teriak Mahal, Emak-emak dan Pengamat Akui Harga-harga Mahal

Presiden Joko Widodo meminta agar tidak ada pihak yang berteriak harga barang di pasar mahal, padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Namun sejumlah ‘emak-emak’ mengakui harga barang di pasar memang mahal. Jumlah pengamat pangan juga mengakui saat ini harga sembako mahal sehingga membuat daya beli masyarakat melemah.

Pengamat pangan Ali Birham mengatakan, Presiden Jokowi boleh saja membantah terkait dengan harga-harga pangan atau sembako yang mahal. Namun kenyataannya sejumlah harga sembako memang mahal. Kenaikan harga sembako tersebut memang tidak terjadi setiap jamnya. Akibat kenaikan harga sembako tersebut membuat daya beli masyarakat menurun.

"Soal membantah boleh saja,tapi kenyataannya memang harga sembako  naik atau mahal .Tentu saja tidak setiap jam naik," ujar Ali Birham kepada Harian Terbit, Minggu (4/11/2018).

Ali menuturkan, dengan kenaikan harga sembako maka membuat daya beli masyakarat juga mengalami penurunan. Karena dengan kenaikan harga sembako tersebut banyak di antara yang tidak mampu membeli karena memang harganya tidak terjangkau. Oleh karenanya pemerintah harus melihat kondisi real di lapangan terkait kenaikan harga sembako tersebut.

Menderita

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (APEGTI) Riau, Ir. Nur Ja'far Marpaung mengatakan, saat semua harga kebutuhan pokok naik karena sejak era reformasi semua kebutuhan pokok masyarakat diserahkan kepada mekanisme pasar yang dikendalikan para pemgusaha besar. Selain itu mayoritas kebutuhan pokok masyarakat juga diimpor dari luar negeri.

Hal ini akan membuat rakyat menderita karena kenaikan harga sembako akibat supply (pasokan) dan demand (permintaan) barang tidak dikendalikan oleh pemerintah, tetapi diserahkan kepada mekanisme pasar, sehingga harga barang kebutuhan pokok menjadi liar dan naik sesukanya tanpa pemerintah bisa berbuat apa-apa.  Padahal di era Pemerintahan Orde Baru mampu menghadirkan harga sembako murah dan gampang mencari pekerjaan.

"Tidak heran saat ini rakyat rindu pada Pemerintahan Orde Baru.  Saat ini harga kebutuhan pokok terus melambung. Komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga di antaranya beras, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, gula pasir, telur, daging ayam broiler, dan daging sapi di hampir seluruh daerah di Indonesia," ujarnya.

Nur Ja'far juga menyatakan, lonjakan harga-harga komoditas yang dibutuhkan masyarakat ini sangat mengkhawatirkan bila tidak bisa dikendalikan. Bagi masyarakat berpenghasilan sedikit atau pas-pasan, kenaikan harga komoditas yang menjadi kebutuhan pokok untuk makan seperti beras, sayuran dan minyak goreng maka akan sangat memberatkan. Apalagi kenaikan harga tidak saja dikeluhkan oleh pembeli tapi juga oleh para pedagang.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh kalah oleh sekelompok orang yang hanya mau mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mempermainkan harga kebutuhan pokok. Rakyat kecil akan terus menderita dan menjadi korban dari permainan para oknum yang terus menari di atas penderitaan rakyat kecil. Diharapkan ada solusi yang bisa mencegah rakyat miskin tidak menjadi semakin miskin akibat harga-harga melambung tinggi.

Beras dan Cabe

Kaum emak-emak juga mengakui harga barang di pasar mahal. Ny Aisyah, warga Ciawi Bogor mengaku harga cabaik, bawang, sayuran, dan bumbu dapur alami kenaikan.  

“Kalau tadinya harga cabe Rp25-Rp30, sekarang jadi Rp40 ribu. Bawang Rp28 ribu, sebelumnya Rp20 ribu. Bumbu dapur harga jahe Rp40 ribu, sebelumnya Rp25 ribu. Kencur sebelumnya Rp22 ribu jadi Rp50 ribu,” kata Aisyah.

Kenaikan itu diakui Ny Uci, warga Kalimalang, Jakarta Timur. “Sayur-sayuran seperti kacang panjang dari Rp9 ribu per kilogram sekarang jadi Rp13 ribu. Buncis, ketimun Rp10 ribu per kg, sekarang Rp13 ribu, kol dari Rp8 ribu jadi Rp10 ribu.

“Ini kenyataannya Mas, saya tidak ngarang-ngarang lho…Malah ada pedagang yang teriak dengan menyatakan,  harga sudah mahal, barangnya juga susah atau tidak ada,” kata Ny. Uci kepada Harian Terbit, Minggu (4/11/2018).

Ny. Mety, ibu rumah tangga hanya mengemukakan, soal harga di pasar tidak stabil, saran saya untuk pemerintah hanya satu tepati janji janjinya, itu saja yang paling penting.

Masih Stabil

Pengamat kebijakan publik  Cecep Handoko mengatakan, isu terkait harga sembako mahal yang dikumandangkan tim calon presiden dan calon waki presiden, kurang kreatif. Karena kenaikan harga sembako tersebut hanya dilihat dari perspektif konsumen. Sementara pemerintah juga harus menjaga kepentingan para petani,  misalnya terkait protes harga bawang merah yang murah.

"Dikalangan petani mereka mengeluh sebab ongkos produksi lebih mahal sementara harga pasaran murah dan mereka dirugikan," ujarnya.

Artinya, sambung Cecep, dalam hal isu harga sembako mahal ini terbantahkan dan merupakan upaya pembodohan terhadap masyarakat. Oleh karenanya terkait harga sembako mahal merupakan politisasi menjelang pemilihan presiden. Buktinya Rp100 ribu masih bisa dapat beragam macam.

Menurutnya, saat ini harga sembako masih stabil. Daya beli masyarakat juga masih bagus. "Petani sebagai produsen juga masih dapat untung. Artinya pemerintah sudah bekerja maksimal," paparnya.

Cecep menilai, terlampau mengada menyebut harga sembako mahal. Oleh karenanya harus kreatif dan ilmiah cara berkampanye.  
"Kalau asal bunyi malah akan menguntungkan kubu Jokowi. Masyarakat Indonesia sudah mulai cerdas tau mana yang asal bunyi dan mana yang berbicara atas dasar fakta," paparnya.


#Pilpres #2019 #Jokowi #HargaSembako #Tempe

Komentar Anda
Komentar