Hello,

Reader

Masyarakat Minang Praperadilkan Penyidikan Kasus Film
Istimewa
Masyarakat Minang Praperadilkan Penyidikan Kasus Film "Cinta Tapi Beda"

Masyarakat Adat Minang merasa kecewa dengan dihentikannya penyelidikan dugaan kasus pelecehan agama yang terkandung pada cerita film "Cinta Tapi Beda" garapan sutradara Hanung Bramantio. 

Melalui kuasa hukumnya yang tergabung dalam Tim Advokasi dan Pembela Masyarakat Adat Minang mengajukan gugatan praperadilan atas terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas pengusutan film tersebut. 

Ketua Tim Pengacaa Advokasi dan Pembela Masyarakat Adat Minang  Zulhendri Hasan berkeyakinan tindak pidana yang melibatkan Hanung Bramantio, Raam Punjabi (produser), dan Aghni Prastishta  selaku pemeran utama wanita di film tersebut telah memenuhi dua unsur alat bukti yang sah. 

"Seharusnya perkara itu dilimpahkan penanganannya kepada kejaksaan untuk diuji kebenaran materiilnya di pengadilan," kata Zulhendri dalam siaran persnya yang diterima wartawan, Sabtu (17/11/2018).

Menurut Zulhendri, adanya dugaan tindak pidana yang dipertontonkan dalam fim Cinta Tapi Beda, bermula dari cerita percintaan sepasang kekasih beda agama, antara Cahyo lelaki asal Yogyakarta yang lahir dari keluarga muslim taat dengan Diana seorang gadis yang beragama katolik fanatik yang diceritakan dan digambarkan sebagai gadis Minang. 

Pada film itu digambarkan sosok Diana tidak pernah lepas menggunakan kalung salib, bahkan makanan kesukaannya adalah babi rica-rica. 

Penggambaran seperti ini yang telah mengusik rasa keagamaan masyarakat adat Minang, yang memiliki falsafah hidup Adat bersandikan Syarak, Syarak bersandikan Kitabullah”, artinya Al-qur'an adalah kitab suci masyarakat adat Minang dan Islam agamanya.

"Perbuatan para terlapor sudah memenuhi unsur pasal penghinaan agama," tegas Zulhendri. 

Namun Laporan Polisi No. LP/35/I/2013/Dit Reskrimum tertanggal 7 Januari 2013 oleh Penyidik Dirtipidum Bareskrim Polri, pada 10  April 2014 telah dihentikan penyidikannya dengan alasan bukan merupakan tindak pidana. Hal itulah yang selanjutnya menyebabkan kekecewaan kalangan masyarakat Minang. 

Pada hari Kamis, 15 November 2018, mereka pun akhirnya melakukan upaya hukum dengan mendaftarkan permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Rencananya sidang akan digelar setelah 14 hari permohon itu didaftarkan ke pengadilan.



#Film #CintaTapiBeda #Minang

Komentar Anda
Komentar