Gadis Bali Ini Mendapat Banyak Pengalaman Baru dari Program PPIA 2017/18

Gadis Bali Ini Mendapat Banyak Pengalaman Baru dari Program PPIA 2017/18

Rejang Lebong, HanTer - Dewa Ayu Putri Handayani, salahsatu peserta program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia (PPIA) antara Indonesia dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, mengatakan bahwa program tersebut sangat bermanfaat, terutama untuk para pemuda di Indonesia, karena mendapatkan banyak sekali pengalaman.
 
"Pengalaman sangat bervariasi," tutur dara asal Pulau Dewata Bali itu yang juga menyebut jika dalam program ini mengalami dua fase, yakni fase kota dan fase desa. 
 
"Kehidupan disini sangat berbeda dengan kehidupan kami di provinsi masing-masing dan tentunya juga berbeda dengan di Australia. Karena kami juga sudah sempat berada di Negeri Kanguru itu selama dua bulan melalui program ini. Jadi, pengalaman itu menurut saya akan beranfaat bagi para peserta PPIA 2017/18 yang ke-36 ini untuk nanti dibawa pulang ke daearahnya masing-masing," tutur gadis jelita yang akrab disapa Putri itu.
 
"Sejujurnya saya belum pernah tinggal didaerah pedesaan seperti ini. Namun dari sini banyak hal yang saya pelajari dari sini, misalnya gaya hidup orang disini, keramahtamahan warga setempat. Menurut saya yang akan dibawa pulang nanti adalah kegotongroyongan dan keramahtamahan dari orang-orang disini untuk membangun suatu komunitas yang saling bahu membahu antara satu sama lainnya," terangnya.
 
Putri juga menilai jika warga setempat sangat menyambut baik kehadiran 36 peserta dari program PPIA ini. "Mereka sangat baik menyambut kehadiran kami disini. Itu terlihat dari awal kehadiran kami yang disambut dengan prosesi ritual adat setempat yang sangat meriah. Hal tersebut sudah menunjukkan antusiasme warga terhadap kedatangan kami disini dan selama kami disini mereka juga sangat ramah dan selalu kemanapun kami pergi mereka selalu menyapa, selalu senyum dan kami pun demikian terhadap mereka," akunya.
 
Perwakilan peserta PPAI 2017/18 di Rejang Lebong, Bengkulu
 
Seperti diketahui, program ini sudah berjalan selama 36 tahun atau sejak tahun 1981. Putri menginginkan program seperti ini harus terus diadakan pada tahun-tahun berikutnya. Ia pun berharap ini menjadi program yang dapat menginspirasi warga, institusi, organisasi atau apapun di Indonesia.
 
"Pemuda di Indonesia sangat butuh pengalaman seperti ini, untuk mereka bisa belajar lebih mengenai kehidupan daerah lainnya maupun kehidupan orang di luar negeri," ucapnya.
 
Setelah mendapatkan pengalaman di Australia selama dua bulan dan ketika ditanyakan apakah ada keinginan bekerja di sana, Putri menegaskan ketidak ketertarikannya bekerja di Negeri Kanguru itu.
 
"Saya tidak tertarik bekerja di sana, karena saya rasa masih banyak sekali potensi Indonesia yang menurut saya perlu orang putra daerah atau orang lokal untuk membantu mengembangkan potensi itu, sehingga saya lebih memilih bekerja di Indonesia dan mengembangkan potensi daerah saya sendiri," pungkasnya.
 
Sementara itu, Bayu Tri Anugrah, selaku Project Officer program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia (PPIA) 2017/18 mengklaim jika program yang ditanganinya sejauh ini berjalan sesuai dengan apa yang sebelumnya dirancang. 
 
Bayu Tri Anugrah, selaku Project Officer PPIA 2017/18
 
"Saya bersyukur semuanya berjalan seperti yang saya harapkan, karena menjadi project officer bebannya adalah ada sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan, namun tak terlepas dari bantuan para alumni PCMI yang membantu dengan sangat kooperatif dan partisipatif dalam persiapannya," ucapnya.
 
Meski berjalan sesuai harapan, bukannya tanpa kendala, namun hal itu mampu diatasi dengan segera. "Kendala memang ada namun tak berarti, hanya masalah koordinasi saja, tapi itu segera ditanggulangi," tuturnya.   
 
Bayu juga menuturkan perbedaan program PPIA 2017/18 di Bengkulu ini dengan daerah lainnya. Menurutnya, perbedaan yang difokuskan di sini tentang community development di fase desa. "Disini kita lebih fokus di environment dan juga ecotourism, yakni fokus di Taman Nasional Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), seperti kita tahu itu merupakan aset dunia yang dilindungi oleh UNESCO, sehingga isu tentang hutan lindung ini sebenarnya sangat serius, guna menjaga kelestarian hutan hujan tropis ini jadi lebih baik," katanya.
 
"Sedangkan di fase kota untuk penempatan magang para peserta juga sedikit ada perbedaan dengan melibatkan GNO yang bergerak di isu tentang wanita, karena menurut kita itu isu yang lumayan "panas" yang ada di Bumi Rafflesia ini. Kami berharap dengan adanya peserta yang ikut di dalam NGO itu, permasalahan perempuan yang ada di Bengkulu bisa teratasi," pungkasnya.  

(Hermansyah)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com