Umat Islam Harus Tegas Gugat Politisasi Haji Saudi

Umat Islam Harus Tegas Gugat Politisasi Haji Saudi

Depok, HanTer - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bekerjasama dengan Garda Suci Merah Putih dan Haramain Watch menggelar Konferensi Internasional bertajuk “Peran Umat Islam dalam Pengelolaan Pelaksanaan Haji dan Menjaga Situs-situs Sejarah Islam”. 
 
Konferensi ini menghadirkan para pembicara, diantaranya,  Ir. Mujtahid Hashem (Sekjen Garda Suci Merah Putih ),  Ir. Sayuti Ashatry (Intelektual Muslim Mantan Anggota DPRRI ), Syujaat Ali, MEng (Sekjen Muslim Student Organisation (MSO) of India ), Ziyad Abdul Malik (Ketua HMI Cabang Jakarta Selatan) dan Dr. Farizal Marlius (Wakil Rektor Universitas Islam Ibnu Kholdum ). 
 
“Melarang dan membatasi negara, kelompok masyarakat atau individu untuk melaksanakan haji adalah melawan perintah Allah SWT. Allah Swt  dan Rasul SAW nya lah mengundang secara langsung sebagai dijelaskan di dalam Al-Quran dan sunnahnya. Pelarangan dan pembatasan haji yang dilakukan oleh Saudi Family terhadap rakyat Yaman, Syiria, Qatar, Iran, Irak, Libya dan Bahrain  bukan untuk kepentingan umat Islam, namun kepentingan politik keluarga Kerajaan Saudi akibat politik agresifnya di kawasan,” ujar Mujtahid Hashem dalam Konferensi Internasional Haji di Unversitas Indonesia (UI), kawasan Depok, Kamis (25/1/2018). 
 
Menurut ketua panitia, Ziyad, Konferensi Internasional Haji ini mendapatkan gangguan dari lobi Kedutaan Saudi, karena satu setengah hari sebelum acara UIN membatalkan konferensi yang semestinya diselenggarakan di Sayhida Inn, UIN. "Alhamdulillah integritas intelektual kita sebagai makhluk akademis dijaga sehingga konferensi internasional haji ini bisa dilaksanakan di Universitas Indonesia," katanya. 
 
Shujaat Ali, Presiden Muslim Student Association, India yang menjadi salah satu pembicara menyoroti nasib peninggalan sejarah Islam di Mekkah dan Madinah. Mengutip research dari Washington Institute, lebih dari 90% peninggalan sejarah Islam di Saudi Arabia telah dihancurkan oleh kebijakan Kerajaan Saudi.
 
Peninggalan sejarah yang sangat berharga bagi Umat Islam untuk kepentingan penelitian dan legitimasi sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW mestinya di jaga dan Muslim sedunia harus menaruh perhatian terhadap kebijakan Saudi. 
 
Bagi Mujtahid Hashem, penghancuran peninggalan sejarah Islam oleh Saudi dikarenakan semua peninggalan sejarah Islam ini tidak meligitimasi kekuasaan Saudi, justru menegaskan perilaku moral dan politik Saudi jauh dari ajaran Nabi SAW.
 
 “Bisa dibayangkan ketika Allah perintahkan bara ah atau melepaskan ikatan dengan kaum musyrikin (kekuatan kejahatan Zionist Internasional, Israel, Amerika dan Inggris) justru Saudi bermesraan dengan mereka. "Apakah kita bisa bayangkan Rasul Muhamamd saw akan bermesraan dengan Zionist Israel, Amerika dan Inggris?," kata Mujtahid Hashem kepada peserta. 
 
Kesimpulan konferensi Haji ini menegaskan quata haji adalah bagian dari strategi Saudi mengecilkan makna haji dan muslimin Indonesia wajib bicara, muslim Indonesia punya hak yang sama dengan keluarga Saudi untuk mengelola pelaksanaan Haji. Haramain milik semua umat Islam dan umat Islam Indonesia siap menjadi Khadim Haramain. Konferensi juga menegaskan akan menggalang lagi konferensi yang lebih besar sebagai usaha mengembalikan haji pada makna yang sebenarnya.
 
 

(romi)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com