Militer Israel Tewaskan Tiga Anak Palestina Sepanjang Januari 2018

Militer Israel Tewaskan Tiga Anak Palestina Sepanjang Januari 2018

Yerusalem, HanTer - Di tengah ketegangan yang terjadi di wilayah-wilayah pendudukan atas pengakuan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem al-Quds sebagai "ibukota "dari Israel, Kementerian Informasi Otoritas Nasional Palestina melaporkan bahwa pasukan militer Israel telah membunuh tiga anak di bawah umur dan menangkap 52 orang lainnya sejak awal tahun ini.
 
Kementerian tersebut, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Minggu (28/1/2018), menuduh pemerintah Israel "meningkatkan serangan terhadap anak-anak Palestina."
 
Dikatakannya pula bahwa serangan Israel telah meningkat tajam sejak langkah kontroversial presiden Amerika Serikat tersebut.
 
Seperti diketahui, pada tanggal 6 Desember 2017, Trump mengumumkan keputusannya untuk mengakui Yerusalem al-Quds sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke kota yang diduduki.
 
Perubahan dramatis dalam kebijakan Washington terhadap kota tersebut memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki, Iran, Turki, Mesir, Yordania, Tunisia, Aljazair, Irak, Maroko dan negara-negara Muslim lainnya bahkan Indonesia.
 
Kemudian pada tanggal 21 Desember, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan suara bulat memilih sebuah resolusi yang menyerukan kepada AS untuk menarik pengakuan kontroversialnya terhadap Yerusalem al-Quds sebagai "ibukota" Israel.
 
Dalam upaya mencegah adopsi resolusi tersebut, Trump mengatakan bahwa "kita sedang menonton," mengancam pembalasan terhadap negara-negara yang mendukung tindakan tersebut, yang sebelumnya menghadapi veto AS di Dewan Keamanan PBB.
 
Namun, Israel menolak resolusi badan dunia tersebut sambil berterima kasih kepada Trump atas keputusannya untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem al-Quds.
 
Yerusalem al-Quds tetap menjadi inti konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa bagian timur kota pada akhirnya akan berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka yang akan datang.
 
Lebih dari 7.000 warga Palestina dilaporkan ditahan di penjara-penjara Israel. Ratusan narapidana tampaknya telah dipenjara di bawah praktik penahanan administratif, sebuah kebijakan dimana narapidana Palestina ditahan di fasilitas penahanan Israel tanpa diadili atau diajukan.
 
Beberapa tahanan Palestina ditahan dalam kurun waktu sebelas tahun. Narapidana Palestina secara teratur melakukan mogok makan dalam demonstrasi mengenai kebijakan penahanan administratif dan kondisi penjara mereka yang keras di penjara-penjara Israel. 

(Hermansyah)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com