Abbas Himpun Negara-negara Afrika Dukung Palestina

Abbas Himpun Negara-negara Afrika Dukung Palestina


Addis Ababa, HanTer - Kepala Otoritas Palestina Mahmoud Abbas meminta negara-negara Afrika untuk bergabung dalam mekanisme multilateral untuk membahas konflik antara Israel dan Palestina, setelah menolak peran Amerika Serikat (AS) dalam perundingan semacam itu.
 
"Mengejar upaya perdamaian mensyaratkan pembentukan mekanisme multilateral di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami meminta Uni Afrika dan negara anggotanya untuk memiliki perwakilan dalam mekanisme ini, "katanya dalam sebuah pertemuan di Uni Afrika di ibukota Etiopia, Addis Ababa, kemarin.
 
Warga Palestina telah lama mengeluh tentang bias AS terhadap Israel. Terakhir seperti kebijakan yang datang pada bulan lalu di mana Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem al-Quds sebagai ibukota yang disebut Israel.
 
Keputusan Trump memicu sebuah protes internasional, dan lebih dari 120 negara memberikan suara di Dewan Keamanan PBB untuk meminta Washington mencabut deklarasi tersebut. 
 
Langkah tersebut juga membuat marah para pemimpin Otorita Palestina, yang merasa tertipu oleh Trump setelah diyakinkan akan dukungan Washington atas tuntutan mereka.   
 
Orang-orang Palestina secara historis mencari East al-Quds sebagai ibu kota negara independen masa depan mereka. "Kami tidak menerima peran Amerika Serikat dalam proses politik sejak saat ini, karena sepenuhnya bias terhadap Israel," kata Abbas setelah pengumuman Trump. 
 
Presiden Otoritas Palestina kemudian mengirim delegasi ke China dan Rusia untuk meminta mereka mengambil peran lebih besar dalam proses negosiasi di Timur Tengah.
 
Dalam pidatonya di Uni Afrika pada hari Minggu, Abbas mengatakan bahwa mekanisme semacam itu harus didasarkan pada realitas perbatasan tahun 1967 dan "akhir pendudukan Israel atas tanah Negara Palestina, termasuk Yerusalem Timur."
 
Israel telah membangun ratusan permukiman ilegal di wilayah pendudukan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur al-Quds, dengan tujuan untuk secara bertahap mencaplok mereka. 
 
Semua pembicaraan dengan tujuan mengakhiri konflik telah kandas sejauh ini karena penolakan Israel untuk menghentikan perluasan permukimannya sebagaimana yang diminta oleh masyarakat internasional.
 
Pada hari Minggu, Abbas mengatakan bahwa warga Palestina akan membuka sebuah negara Palestina masa depan "untuk semua agama surgawi, Islam, Kristen, dan Yudaisme untuk mempraktekkan ritual dan doa mereka dalam kedamaian dan keamanan."
 
Ucapannya kepada Uni Afrika terjadi hanya beberapa hari setelah dia bertemu dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini di Brussels untuk mendesak Uni Eropa untuk bergabung dalam upaya "perdamaian" tersebut.
 
 

(Hermansyah)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com