Pengamat: Hasil Survei Veritas Diragukan

Pengamat: Hasil Survei Veritas Diragukan

Jakarta, HanTer – Survei politik tentang ketidakpuasan masyarakat Bandung terhadap kepemimpinan Ridwan Kamil dan Oded M Danial diragukan pengamat. Menurut Dedi Barnadi selaku Direktur Lingkar Studi Informasi dan Demokrasi (eLSID), ada beberapa hal yang patut dipertanyakan mengenai penelitian tersebut.
“Seperti, Bagaimana metodologinya, bagaimana respondennya, bagaimana perntanyaan di quisionernya,” katanya.
 
Lembaga riset Veritas, kata Dedi, tidak menampilkan data kategori demografi responden dari mulai umur, pendidikan, suku, pendapatan dan profesi. “Sehingga bisa dipastikan hasilnya sangat diragukan,” lanjutnya.
 
Dedi menambahkan, bahwa lembaga riset Veritas juga telah menyimpulkan sendiri bahwa kepemimpinan Ridwan Kamil dan Oded M Danial yang dinilai gagal dan dan tidak memperlihatkan perubahan hanya di beberapa aspek saja, seperti: ekonomi, kemacetan, dan banjir.
 
“Padahal indikator keberhasilan dan ketidakberhasilan harus juga mengukur bidang pendidikan dan kesehatan, dan sayangnya itu tidak masuk dalam riset Veritas,” lanjutnya.
 
Dedi juga menyoroti tentang periode survei yang dilakukan Veritas. Periodenya mencapai 4 bulan dari bulan Oktober 2017 - Januari 2018. “Periode ini terlalu lama sehingga validitasnya diragukan,” tambahnya.
 
Menurutnya, bila ingin menilai kinerja pemerintah daerah, maka harus ada pengukuran tentang kepuasan masyarakat atas pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah. “Namun sayang dalam riset itu tidak ada. Dengan demikian saya menganggap riset Veritas tentang kinerja Pemkot bandung sangat tendensius dan tidak berimbang bahka sangat politis,” tegasnya.
 
Menurut Direktur Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, dalam pilkada membentuk dan mengiring opini publik sesuatu yang biasa saja, semua akan kembali ke masyarakat. “Masyarakat cenderung memilih calon yang punya peluang besar untuk menang (locomotif effect),” katanya.
 
Sehingga seringkali 6 bulan sebelum pemilihan terjadi perang survei dalam rangka memengaruhi dan mengirim opini publik. Namun, Pangi menggaris bawahi, survei yang dilakukan haruslah dalam koridor yang benar. “Sepanjang masih menjaga metodologinya dan  disiplin serta teliti dalam risetnya. Yang tidak boleh itu berbohong atau melakukan kebohongan publik,” ujarnya. 
 
Pangi menjelaskan, saat ini pemilih sudah semakin cerdas dan kritis. “Mereka tak mudah dipengaruhi hasil survei, namun memilih karena pilihan sendiri, preferensi pilihannya tidak lagi dipengaruhi faktor keluarga, tokoh, teman,” tutupnya.

(Safari)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com