Isu PKI Bangkit, Kembali Meresahkan Masyarakat

Isu PKI Bangkit, Kembali Meresahkan Masyarakat

Ada yang Sengaja Menghembuskan

Jakarta, Hanter— Setelah beberapa waktu lalu isu kebangkitan PKI sempat membuat kegaduhan, belakangan isu tersebut kembali ramai disampaikan lewat media sosial. Meski banyak kalangan menyebut informasi tersebut hoax, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun masyarakat kembali resah. Aparat keamanan diharapkan mampu menjelaskan dan meyakinkan publik soal kebenaran itu tersebut.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai, isu PKI yang belakakangan kembali menguak sudah meresahkan masyarakat. Padahal Indonesia mempunyai Pancasila sebagai perekat NKRI sehingga jangan takut dan terlalu khawatir dengan kebangkitan PKI. Namun yang terpenting adalah tetap waspada dari ancaman apun yang merongrong Indonesia.

"Karena sekarang di Indonesia jadi target luar, memecah persatuan dan menganggu stabilitas politik nasional," ujarnya.

Pangi menegaskan, atas isu kebangkitan PKI maka masyarakat, BIN dan kepolisian harus tetap waspada. Karena saat ini Indonesia sedang di adu domba. Politik devide et empera juga sedang dilakukan asing. Padahal Indonesia merdeka karena kebhinekaan dan persatuan sesama anak bangsa. Namun saat ini Indonesia dirusak dan dipecah melalui narkoba, LGBT, ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

"Yang penting kita harus penjaga gawang Pancasila, jangan sampai ke bobolan," paparnya.

Tidak Laku

Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai tidak ada yang perlu di khawatirkan terkait isu PKI kembali berkembang di Indonesia. Alasannya, isu PKI dihembuskan kembali guna untuk menarik perhatian umat.  

"Kalau bagiku sudah jelas siapa yang gemar memproduksi isu PKI untuk menarik perhatian umat," katanya kepada Harian Terbit, Senin (12/2/2018).

Menurutnya, jualan isu "kebangkitan komunisme" itu bukan isu yang laku lagi, kecuali di segmen-segmen tertentu. Karena ancaman faktual dan aktual yang nyata bisa menyerang Indonesia saat ini adalah fasisme. Baik fasisme berwajah agama, fasisme negara maupun pada penampakan-penampakan fasisme yang lain. Kebangkitan fasisme itu sudah jelas siapa yang paling mampu dan berpengalaman mengelolanya.

"Ini (fasisme) ancaman yang nyata. Rakyat, terjepit di antara fasisme-fasisme itu. Dan lagi-lagi sudah jelas, siapa yang selalu mampu dan berpengalaman mengelolanya. Mengelola, entah itu memproduksi, menjual, atau menggunakan untuk kepentingannya," tegasnya.

Terkait kebangkitan PKI pernah disampaikan Mayjen TNI (purn) Kivlan Zen dan  Alfian Tanjung, yang saat ini menjadi terdakwa ujaran kebencian, Fahmi menuturkan, silakan saja Kivlan Zen dan Alfian Tanjung menyatakan demikian dan harus mempunyai dasar yang kuat. Karena pernyataan Kivlan tersebut masih harus dipertanyakan. Pasalnya Kivlan menyampaikan informasi tersebut tanpa menunjukkan ada data ataupun bukti kuat mengenai keberadaan PKI tersebut.

"Ya saya enggak ngerti juga yang menyampaikan angka sampai 15 juta itu datanya dari mana? Kalau kita berdebat tanpa data susah juga. Jangan sampai untuk hal sesensitif itu hanya berdasarkan asumsi atau informasi enggak jelas," jelasnya.

Fahmi menegaskan, informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ini bisa berdampak langsung kepada masyarakat. Menurutnya, bangsa yang telah Bhineka Tunggal Ika, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perpecahan dan kekhawatiran.  

"Saya kira para jenderal lebih arif dalam mengumbar informasi seperti itu, dicek dulu kan mereka punya kemampuan itu. Tapi enggak pas menyampaikan itu secara langsung malah membuat kegaduhan," tegasnya.

Dia mencoba berandai-andai jika memang benar PKI kembali bangkit lagi. Menurutnya, partai berwarna merah tersebut bukan merupakan ancaman bagi pemerintah. Karena masalah sebenarnya adalah jurang kesenjangan yang masih lebar dan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung usai.

"Saya kira apapun itu, mau komunisme atau khilafah enggak akan dapat tempat. Kita enggak sebodoh yang dipikirkan mereka. Apapun namanya ideologi perlawanan itu akan tumbuh karena ada yang tidak memenuhi ekspektasi atau harapan kita sebagai warga negara," tuturnya.

Dia mengingatkan, pemerintah tidak perlu menanggapi isu tersebut terlalu serius. Selama bukti dari pernyataan bangkitnya PKI tak dapat dibuktikan, maka tugas yang jelas harus diselesaikan telah menanti.

"Negara ini fokus melawan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan dan mendekatkan kesenjangan sosial agar lebih dengan ideal saja. Masyarakat kita enggak bodoh lah untuk sekadar mendengar teriak kosong soal PKI," tandasnya.

Sengaja Dihembuskan

Belakangan isu-isu tentang PKI sering kita temui di media sosial dan sering dihubung-hubungkan dengan situasi negara saat ini. Padahal isu ini dinilai sejumlah kalangan adalah hoax.

“Isu kebangkitan PKI sengaja diembuskan oleh sejumlah pihak yang ingin membuat masyarakat resah,” kata Ketua Umum PKPI Hendropriyono beberapa waktu lalu.

Pengamat kebijakan publik Zulfikar Ahmad meminta masyarakat bisa lebih bijaksana dalam menyebarkan informasi melalui media sosial agar tidak terjerat UU ITE karena dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita-berita bohong dan fitnah.

Beberapa waktu lalu, Kapolri, Jenderal (Pol) Tito Karnavian, mengingatkan semua pihak agar tidak menampilkan isu-isu sensitif di tengah situasi politik yang rentan. Dia menegaskan bahwa bukan berarti akan melupakan sejarah, namun ada timing yang tepat untuk bicara soal itu.

"Saya berharap semua pihak dapat menahan diri. Jangan kemudian menampilkan isu-isu ini di tengah situasi politik yang rentan. Mau ada pilkada, mau ada Pilpres, mau ada peringatan G30S," kata Tito usai menyampaikan pidato ilmiah pada wisuda sarjana dan pascasarjana Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu (23/9/217).

Himbauannya untuk menahan diri tersebut karena isu yang dimainkan merupakan isu yang sensitif. Jika isu itu terus dimainkan maka justru nantinya bisa membuka luka lama. "Bukan berarti kita melupakan sejarah, tapi ada timing yang tepat untuk bicara soal itu," lanjutnya.

(Safari)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com