Kasus Penculikan Anak Terus Meningkat

Kasus Penculikan Anak Terus Meningkat

Motif Ekonomi, Seksual dan Dendam

Jakarta, HanTer - Dalam tiga tahun terakhir, kasus penculikan anak dan anak hilang di Indonesia disebutkan terus meningkat. Peningkatan kasus penculikan dan anak hilang ini menjadi warning kemungkinan terjadinya penurunan kesejahteraan.

Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), sepanjang 2015 setidaknya terjadi 87 kasus penculikan dan kehilangan anak. Di tahun selanjutnya, kasus penculikan dan kehilangan anak merangkak naik menjadi 112 kasus. Pada 2017, jumlah kasus penculikan dan kehilangan anak naik begitu drastis menjadi 196 kasus.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, menuturkan, kasus penculikan anak terjadi dengan berbagai motif, namun motif dominannya di Indonesia adalah ekonomi, seksual dan dendam. Anak yang paling rentan menjadi komoditas dalam berbagai masalah yang dihadapi orang dewasa.

"Untuk motif ekonomi ini biasanya anak diculik digunakan sebagai tebusan dan sebagainya," paparnya.

Lalu, ada juga anak yang diculik untuk diperdagangkan menjadi pemuas hasrat seksual. Tanpa diculik pun, anak juga kerap menjadi komiditas pemuas hasrat, seperti yang terjadi pada pembuatan video porno di Bandung. "Kondisi ini makin mengkhawatirkan," tegasnya.

Untuk motif dendam ini, kata dia, biasanya diawali dengan pecahnya keluarga, seperti perceraian dan sebagainya. Akhirnya, ayah dan ibunya berebut untuk bisa mengasuh anak.

"Dan bila tidak puas, bisa jadi jalan menculik anak dilakukan. Tidak hanya untuk bisa bertemu, namun plus untuk membuat mantan pasangan menderita," jelasnya. 

Menurutnya, dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya keluarga merupakan benteng utama dalam melindungi anak. Apalagi, di era kemajuan teknologi semacam ini. Karena teknologi bukan hanya kemudahan yang didapat, namun potensi kejahatan itu juga makin meluas.

Minim Pengawasan

Anggota Komisi E DPRD DKI, Hj Indrawati‎ Dewi, melihat perihal penculikan anak yang kerap terjadi menurutnya tidak hanya karena kurangnya pengawasan orang tua maupun pihak penegak hukum.‎ Peristiwa penculikan anak ini, kata dia, dipicu banyak faktor.

"Terlebih, anak-anak sejauh ini memang dianggap paling lemah sehingga jika pengawasan tidak optimal, maka kejadian ini bisa berulang," katanya di Jakarta, Minggu (11/2/2018).

Disamping pengawasan yang belum optimal dilakukan orang tua dan pihak kepolisian, ia juga melihat bagaimana hubungan kesenjangan yang kian tinggi seiring dengan kurangnya daya serap tenaga kerja, hingga jelas faktor fianansial tersebut melewati batas kemanusiaan.

"Kalau memang mau serius, sejak awal kita tidak hanya mengawasi, tapi perbaiki keadaan ekonomi kita, apalagi memang kesenjangan makin melebar. Pada dasarnya kriminalitas itu seiring dengan masalah ekonomi, makin terpuruk masyarakat maka tingkat kriminal juga akan semakin tinggi," jelasnya.

"Jika tidak, yakin saja kasus-kasus seperti ini masih akan terjadi," tandasnya.

‎Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal, mengatakan pihaknya belum menerima laporan soal penculikan anak dengan modus baru. Iqbal meminta publik tidak cepat percaya dengan broadcast semacam itu namun tetap waspada.

"Jangan terlalu percaya dengan pesan berantai di WhatsApp yang menyebutkan hal itu. Tapi kita juga perlu waspada," ujar Brigjen Iqbal di Jakarta, Minggu (11/2/2018). 

Orang tua diwanti-wanti untuk tidak mudah percaya dengan orang asing yang baru dikenal untuk menghindari penculikan. Anak-anak juga perlu diberikan pendidikan agar tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal. 

"Kepada orang tua, hendaknya menjaga anak-anak dalam situasi misalnya keramaian dan jangan biarkan anak sendirian. Perlu juga diberikan pendidikan kepada anak untuk tidak mudah percaya atau ikut ajakan orang yang tidak dikenal meskipun mengatasnamakan papa, mama atau keluarganya," ungkapnya.‎ 

(Harian Terbit/Sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com