TAJUK: Waspadai Provokasi dan Adu Domba

TAJUK: Waspadai Provokasi dan Adu Domba

PUBLIK Tanah Air belakangan dikejutkan dengan peristiwa penyerangan terhadap umat beragama dan tempat ibadah sebagaimana terjadi di Bedog, Yogyakarta. Aksi-aksi kekerasan ini dinilai berbagai kalangan sebagai upaya adu domba antar umat beragama.
 
Kasus penyerangan terhadap pemuka agama bukan pertama kali terjadi. Sejak awal 2018 setidaknya sudah ada tiga serangan menimpa tokoh agama di sejumlah daerah. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri menjadi korban pertama yang diserang seseorang yang disebut mengalami gangguan jiwa seusai menunaikan salat di masjid pada Sabtu (27/1).
 
Berselang lima hari ustaz Prawoto, komandan brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis), diserang seseorang yang juga diduga mengalami gangguan kejiwaan. Ustaz Prawoto bahkan meninggal dunia dalam serangan pada Kamis (1/2) di Cigondewah, Bandung Kulon, Kota Bandung, Jawa Barat itu.
 
Sejumlah kalangan kejadian mencurigai bahwa rentetan kekerasan ini didesain, terpola, dan terstruktur yang tujuannya ingin meng­ganggu kerukunan umat beragama di Tanah Air.
 
Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsudin mengutuk keras serangan di gereja di Sleman kemarin, apalagi kejadian ini terjadi tak lama setelah tokoh-tokoh agama menyelenggarakan musyawarah besar untuk kerukunan bangsa di Jakarta pada 8-10 Februari 2018.
 
Din menduga kejadian ini dikendalikan suatu skenario sistemik yang bertujuan menyebarkan rasa takut, keresahan, dan pertentangan antarumat beragama yang ujungnya adalah menciptakan insta­bilitas nasional.
 
Kita prihatin mengecam aksi-aksi kekerasan tersebut. Untuk mencegahnya kita berharaop aparat keamanan mampu mendeteksi sebelum terjadinya aksi kekerasan, lalu mengusut  tuntas aksi-aksi brutal tersebut. Hukuman berat layak diberikan kepada semua pelakunya.
 
Dari sisi keamanan, rentetan tindak kekerasan ini merupakan tamparan bagi pemerintah. Ini menunjukkan pemerintah belum bisa memberikan jaminan rasa aman. Padahal, ulama, santri, pendeta, dan jemaat gereja adalah warga negara yang berhak mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah.
 
Tentu saja para pemuka agama di Indonesia diharapkan untuk turut menjaga dan menenangkan masyarakat sehubungan aksi  serangan terhadap tokoh keagamaan tersebut.
 
Semua pihak tidak terpancing dengan upaya memecah belah tersebut dan media nasional jangan ikut terpancing dengan membuat seolah-olah ada perang antar-agama. Umat beragama hendaknya jangan mau terpancing atau terjebak pada politik adu domba. Kekayaan kita yang paling berharga adalah bisa bersatu dalam kemajemukan. Kita harus menjaganya.
 
 Terpenting adalah tindakan kekerasan dan penyerangan terhadap tempat ibadah yang tak beradab itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun. Tidak ada satu agama atau kepercayaan apapun yang melegalkan kekerasan, apalagi menyerang tempat-tempat ibadah. Aksi ini dilakukan oleh orang-orang biadab yang bertujuan me,buat negeri ini porak poranda. Aksi-aksi mereka  harus kita lawan.
 
 Disisi lain hendaknya masyarakat tidak dengan mudah menuduh seolah aksi terhadap kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya.
 
 Sekali lagi kita meminta kepada masyarakat agar mewaspadai upaya adu domba antarumat agama pascakekerasan di Gereja Katolik Santa Lidwina di Jalan Jambon, Bedhog, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2), dan aksi kekerasan terhadap pemuka agama seperti di Jabar dan Tangerang.
 
Harus diingat adu domba bisa menghancurkan peradaban. Terlebih jika adu domba tersebut kemudian dibungkus menggunakan agama untuk melakukan pembenaran atas apa yang dilakukan.
 
Karena itu adu domba harus kita tangkal. Hendaknya  masyarakat tidak langsung percaya dan meminta penjelasan kepada kiai atau ulama, jika ada orang-orang tertentu berusaha membuat terancamnya NKRknya persatuan dan kerukunan umat beragama di negeri ini.
 
Kita bersyukur Indonesia tidak mengalami kejadian seperti di negara-negara lain yang terus dilanda kerusuhan dan perang antar agama dan suku. Karena itu jagalah persatuan dan kesatuan negeri ini. NKRI harga mati dan siap berkorban untuk NKRI.
 

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com