Stagnan Sebagai Menkeu Indonesia, Sri Mulyani Tak Akan Bisa Naikkan Elektabilitas Jokowi

Stagnan Sebagai Menkeu Indonesia, Sri Mulyani Tak Akan Bisa Naikkan Elektabilitas Jokowi


Jakarta, Hanter - Penghargaan yang diberikan kepada Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai menteri keuangan terbaik dunia dituding menjadi bagian dari usaha SMI menuju pilpres 2019, bagian dari ambisinya menjadi presiden atau wakil presiden mendampingi Joko Widodo.

Menanggapi hal ini, sejumlah kalangan menyarankan sebaiknya Jokowi tidak menggandengan SMI menjadi cawapres pada 2019. Alasannya, SMI tidak akan mampu meningkatkan elektabilitas Jokowi karena diduga dan disebut-sebut terkait dengan sejumlah skandal, tak mampu memperbaiki ekonomi Indonesia selama duduk di kabinet. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggal dari beberapa negara tetangga yang sudah menembus di atas 6% seperti Malaysia dan Filipina.

“Jika harus memilih maka lebih baik Jokowi memilih tokoh lain sebagai cawapres dari pada SMI. Kalau Jokowi mengandeng SMI, Jokowi akan mendapatkan banyak resiko, karena nanti isu Bank Century akan muncul lagi,” kata pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin

Menurutnya, kalau Jokowi menggandeng SMI, belum tentu membuat perekonomian menjadi baik. “Saat ini saja dia tidak mampu memperbaiki ekonomi,” papar Ujangkepada Harian Terbit, Selasa (14/2/2018).

Tenggelam

Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai, Sri Mulyani belum tentu efektif menaikkan elektabilitas Jokowi untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Oleh karena itu Jokowi harus hati hati mengambil pasangannya untuk maju kembali menjadi presiden dua periode. Karena jika salah menentukan wakilnya maka Jokowi akan bisa semakin tenggelam.

"Kalau salah langkah, salah kalkulasi, salah menghitung, Jokowi bisa tenggelam," paparnya.

Pangi menyarankan agar bisa menaikkan elektabilitas maka Jokowi harus mengambil cawapres pendampingnya dari kalangan representasi umat ataupun santri. Karena selama ini Jokowi telah gagal mengelola isu umat khususnya yang beragama Islam. Oleh karena itu jika  Jokowi mengambil Sri Mulyani dari latar belakang ekonomi maka akan kesulitan dalam mengcounter isu SARA yang selama ini telah menyerangnya.  

"Jika menggandeng Sri Mulyani maka Jokowi akan diserang isu SARA seperti isu komunis, isu pro RRC dan isu lainnya yang berbau agama," paparnya

Sementara itu, pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo mengatakan,  Jokowi dipasangkan dengan Sri Mulyani, merupakan simulasi yang  dilakukan oleh lembaga-lembaga survei untuk mengetahui seberapa besar elektabilitas yang akan dicapai.

Menurutnya,  lembaga survei menduetkan Jokowi-Sri Mulyani hanya sekedar test case untuk mengetahui seberapa besar respon yang diberikan masyarakat. Apalagi yang menduetkan Sri Mulyani bukan Jokowi sendiri. "Kan yang menduetkan bukan Jokowi sendiri. Tapi beberapa kalangan saja. Dan itu sah-sah saja. Namanya simulasi pasangan," paparnya.

Pilpres

Sementara itu politisi Gerindra, Bastian P. Simanjuntak mengatakan, penghargaan yang diberikan kepada SMI diduga bagian dari usahanya menuju Pilpres 2019 sebagaimana Jokowi pada saat jelang pilpres 2014. Pada saat itu The City Mayors Foundation menempatkan Jokowi sebagai Walikota terbaik ke-3 didunia.

“Hari ini giliran Sri Mulyani Indrawati yang mendapat penghargaan setahun sebelum pilpres dilaksanakan. Padahal bila kita menyimak apa yang dikatakan mantan Menkeu, Chatib Basari, ekonomi Indonesia stagnan dan kalah dibandingkan negara-negara tetangga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggal dari beberapa negara tetangga yang sudah menembus di atas 6% seperti Malaysia dan Filipina,” kata Bastian.

Mengutip Chatib Basri, Bastian mengemukakan pertumbuhan ekonomi Singapura 5,5%, Malaysia 6,2%, Thailand 6%, Filipina 6,9%, Vietnam 7,5%, Indonesia masih stagnan di 5%. Peneliti AEPI malah menilai ekonomi Indonesia memburuk sepanjang tahun 2017.

“Kenyataan itu bila dikaitkan dengan penghargaan yang diterima SMI tidaklah pantas. Bagaimanapun sebagai Menteri Keuangan, SMI  memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi pada ekonomi Indonesia. Wajar saja bila muncul dugaan bahwa pemberian penghargaan merupakan skenario menuju pilpres 2019. Bagi Sri Mulyani yang pernah bekerja di Bank Dunia, tentu tak sulit baginya meraih penghargaan dari dunia internasional,” kata Bastian.

(Safari)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com