BBM Satu Harga Kebijakan Luar Biasa: Berbagi Itu Tidak Pernah Rugi

BBM Satu Harga Kebijakan Luar Biasa: Berbagi Itu Tidak Pernah Rugi

Awalnya saya dan mungkin banyak orang tidak percaya BBM satu harga (single price) bisa terwujud di negeri ini. Namun setelah mendengar penjelasan yang disampaikan pemerintah dan BBM satu harga diklaim telah berlaku di Papua, saya kagum. Kenyataannya, BBM satu harga ini bukan lagi mitos seperti yang dipersangkakan banyak orang, tapi sebuah fakta.

Ini kebijakan luar biasa. Bayangkan, selama 72 tahun negeri ini merdeka, saudara-saudara kita yang ada di di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T), belum memperoleh kesetaraan dan keadilan atas harga BBM yang sama dengan saudara saudara mereka yang ada di pulau Jawa dan wilayah lainnya.

Selama 72 tahun itu pula masyarakat 3T terbebani dengan harga BBM yang sangat mahal dibanding harga sebenarnya yang ditetapkan pemerintah. Padahal, secara ekonomi, kehidupan mereka sangat pas-pasan. Padahal, tak ada alasan apapun untuk tidak membuat satu harga BBM diseluruh Indonesia. Itulah yang terjadi selama 72 tahun. Satu harga BBM ini tentu saja masyarakat orang Papua dan di wilayah terluar, termiskin lainnya, merasa orang Indonesia.

Selama ini harga bensin di Papua berkisar Rp 50-100 ribu per liter. Mahalnya harga ini disebabkan tingginya biaya transportasi yang harus dikeluarkan untuk menjangkau daerah-daerah pedalaman di Papua. Sementara harga bensin di Jawa sekitar Rp 6 ribu untuk jenis Premium.

Kita harus akui berhasilnya kebijakan BBM satu harga ini juga sangat jenius, terutama dalam hal tata niaganya. Selama ini kita tidak pernah membayangkan harga per liter BBM jenis premium, pertalite, pertamax, bisa sama dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sebuah kebijakan yang mampu menciptakan kesetaraan dan keadilan.

Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan kebijakan satu harga (single price) bahan bakar minyak (BBM) di Papua oleh pemerintah pusat adalah sesuatu yang luar biasa. Sebab, saat ini warga Papua harus membeli BBM dengan harga yang relatif mahal dibanding daerah lain di Indonesia.

"Ini keputusan yang luar biasa dan bijaksana bagi orang Papua," kata Lukas di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2016.

Pertamina Rugi

Terwujudnya BBM satu harga ini tentu tak bisa dilepaskan dari begitu besarnya peran PT Pertamina, sekalipun akibat melaksanakan program ini Pertamina mengalami kerugian. Namun kerugian ini tidak ada artinya demi terciptanya  kesetaraan, keadilan dan mengurangi beban  masyarakat yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, terluar.

Kerugian itu pun tidak ada artinya demi tegaknya NKRI karena masyarakat di wilayah 3T itu merasakan juga sebagai orang Indonesia yang diperlakukan adil sama dengan orang Indonesia lain yang tinggal di Jawa , Sumatera dan lainnya. Bukankah semua warga negara, dimana pun dia berada, harus mendapat perlakuan yang sama? Begitu juga dengan segala macam kebijakan pemerintah pusat, harus menerapkan azas keadilan, tak bisa dibeda-bedakan, termasuk soal harga BBM, beras, semen, dan lainnya.

Zakat 2,5 Persen

Beberapa waktu lalu, mantan Direktur Pemasaran PT Pertamina , Ahmad Bambang pernah mengemukakan kepada saya, BBM satu harga itu  merupakan marketing rahmatan lil ‘alamiin.“Dan sudah semestinya pula ada tambahan soal 2.5%  zakat dari gross profit. Karena aturan agama diatas aturan manusia. Karena berbagi itu tidak pernah rugi dan Allah SWT sudah janji,” ujar Ahmad  Bambang.

Saya bisa memahami dan salut dengan apa yang dikatakan Ahmad Bambang itu, karena kata kuncinya adalah ikhlas untuk berbagi demi meraih keuntungan yang lebih besar. Benar apa yang dikatakannya, berbagi itu tidak akan pernah rugi. Banyak contohnya untuk itu. Seorang penjual soto di Solo, selalu menggratiskan makanan nya pada hari Jumat. Jika dilihat hanya hari Jumat saja, benar penjual soto itu rugi. Tetapi secara keseluruhan, apakah ia rugi dan bangkrut? Tidak. Bahkan ia bisa menyelolahkan anak-anaknya semua keluar negeri.

Rejeki Bertambah

Hal sama dilakukan seorang tukang tambal ban di kawasan perumahan Sukomulyo Lamongan. Edi Suprapto, sang penambal ban setiap hari Jumat selalu menggratiskan biaya tambal ban bagi warga yang datang ke lapak tambal bannya di Perumahan Sukomulyo, Kecamatan Lamongan. Untuk memberitahu warga kalau tambal bannya gratis pada hari Jumat, Edi sengaja menempelkan banner berukuran 1x2 meter di depan lokasi tambal bannya yang berada di depan rumah tersebut.

"Saya memilih menggratiskan biaya tambal ban setiap hari Jumat itu karena menuruti hati saja, lebih bagus dibanding hari lainnya," kata Edi yang mulai membuka usaha tambal ban sejak 2007 itu kepada detikcom, Jumat (9/2/2018).

Rugikah Edi Suprapto? Kalau kita lihat hari Jumat saja betul dia merugi. Tapi kenyataannya, karena kebaikannya menggratiskan,  Edi justrumendapat banyak rezeki. Banyak orang yang setelah satu minggu atau bahkan sebulan setelah menambal ban gratis, datang kembali ke rumahnya dengan membawa sembako, seperti beras, gula dan lainnya.

"Awalnya saya bingung kok tiba-tiba ada yang datang membawa barang-barang tersebut, setelah saya tanya, ternyata yang membawa barang ini mengaku pernah saya tolong ketika bannya kempes dan ditambal tanpa biaya, padahal saya sendiri sudah lupa orangnya," aku Edi yang kalau dihitung setiap hari jumat ada belasan sepeda atau motor yang harus ia tambal.

Tak berhenti hanya pada hari Jumat saja, ternyata Edi juga menggratiskan biaya tambal ban untuk sepeda angin, sepeda pengambil sampah, becak motor, hingga sepeda motor lama tahun 80-an. Bahkan, kalau ada orang yang kebetulan sedang mengalami ban bocor atau kempes dan tidak membawa uang, Edi dengan sukarela tetap akan menambal ban atau menambah angin.

"Kalau tak punya uang, masak gak saya tambalkan, saya kasihan dan yang saya bantu ya cuma bisa membantu tambal ban," tutur Edi.

Dari profesinya sebagai tambal ban ini, Edi bisa menyekolahkan tiga anaknya. Anak tertua, kata Edi, bersekolah di salah satu SMA di Malang sedangkan dua anak lainnya masih duduk di bangku SMP dan MI. Tarif tambal ban di tempat Edi pun bisa dibilang murah, Rp 10 ribu dan Rp 1.000 untuk tambah angin.

"Di hari biasa, saya pernah menambal ban sebanyak 23 sepeda motor mulai dari jam 4 pagi hingga malam," ujar Edi. 

Berbuat dan berbagi kebaikan untuk masyarakat inilah kata kunci dari kebijakan BBM satu harga. Dari cerita penjual soto dan penambal ban di atas sudah sepantasnya kita tak lagi mempersoalkan PT Pertamina mengalami kerugian akibat BBM satu harga.

Namun tentu saja,  kata sahabat saya, Direktur Puskepi Sofyano Zakaria, kita harus bijak dan patuh hukum, Tidaklah sehat jika Pertamina dipaksa dan terpaksa harus menanggung beban itu. Pertamina adalah BUMN yang terikat dengan UU BUMN. Pertamina adalah Persero yang juga memiliki peraturan yang terkait dengan posisinya sebagai sebuah badan usaha yang profit oriented.

“Membiarkan Pertamina harus menanggung beban sendirian , Ini juga bisa dimaknai sebagai ketidakadilan, yang bisa pula dikatakan tidak sejalan dengan keadilan yang menjadi dasar pada Pancasila sebagai pijakan moral bangsa ini,” ujarnya.

Dia mengemukakan, setelah mewuijudkan  BBM satu harga, tentu Pertamina harus memperoleh pula keadilan dengan setidaknya mendapat dukungan konsiten dalam penetapan harga BBM sesuai formula yang sudah ditetapkan pemerintah selama ini.

Pada dasarnya kebutuhan BBM untuk wilayah 3T adalah sekitar 200.000KL pertahunnya. Dan ini tidak lah berarti bagi pemerintah dibanding dengan manfaat besar yang diterima rakyat di wilayah tersebut. Dan terwujudnya program BBM Satu Harga tersebut , adalah menjadi  salah satu bukti capaian keberhasilan pemerintah yang mampu mewujudkan keadilan bagi rakyat dalam memperoleh bbm dengan harga yang sama dengan wilayah NKRI lainnya. Hal yang belum pernah dilakukan selama 72 tahun bangsa ini merdeka.

Harapan kita hendaknya pemerintah dan Pertamina  terus menjalankan program ini.  dan disisi lain Pemerintah  serta DPRRI  selalu konsisten mendukung Pertamina sehingga BUMN ini tidak sendirian terbebani.

Namun demikian, kita bangga pemerintah dan Pertamina sudah berbuat dan berbagi kebaikan untuk menciptakan kesetaraandan keadilan harga BBM bagi masyarakat di wilayah 3T.

Ali Akbar Batoebaras

Wartawan Senior

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com