Sahroni: Pemberantasan Narkoba Jangan Parsial

Sahroni: Pemberantasan Narkoba Jangan Parsial


Jakarta, HanTer - Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni menekankan agar pemberantasan terhadap narkoba jangan dilakukan secara parsial agar dapat berjalan optimal. Kuncinya, adalah menghilangkan ego sektoral antar masing-masing institusi penegak hukum dan keamanan.

Sahroni menyampaikan hal tersebut terkait dengan terus berhasilnya pengagalan penyelundupan narkoba melalui jalur lalut ke Indonesia yang dipandangnya sebagai langkah positif.

“Penggagalan penyelundupan ini menggambarkan semakin gencarnya upaya membebaskan Indonesia dari narkoba. Sinergitas harus dijaga, jangan masing-masing merasa hebat dan ingin mengedepankan citra kinerjanya lebih dulu,” kata Sahroni, Minggu (25/2/2018).

Menurut Sahroni, keberhasilan penggagalan penyelundupan narkoba ini juga harus dijadikan momentum perbaikan alat utama sistem senjata (alutsista) dan alat komunikasi (alkom) guna memperoleh hasil lebih maksimal agar Indonesia terbebas dari penyelundupan narkoba.

Demikian pula untuk peningkatan alutsista diingatkan Sahroni tak hanya mengedepankan  kehebatan atau wewenang salah satu instansi belaka. Selain Polri dan Bea Cukai, alutsista TNI AL juga harus ditingkatkan sebagai penjaga kedaulatan di Indonesia, khususnya di jalur masuk laut.

 “Peningkatan alutsista, alat komunikasi dan perlatan IT harus ditingkatkan. Tak hanya Polri dan Bea Cukai, TNI AL sebagai garda terdepan perbatasan di laut juga harus ditingkatkan. Untuk menjadikan Indonesia bersih dari narkoba, persenjataan, alat komunikasi hingga IT kita tak boleh kalah canggih dari para penyelundup,” tegas politisi Partai NasDem ini.

Masih besarnya jumlah narkoba lolos ke Indonesia sebelumnya telah disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso pada Oktober tahun lalu. Ia menyebutkan sebanyak 1097,6 ton prekursor dan 250 ton sabu yang sudah siap pakai setiap tahunnya masuk ke Indonesia dari China.

Selain menyoroti sinergitas penggagalan penyelundupan, Sahroni sebelumnya turut menyoroti maraknya artis yang tersangkut kasus narkoba dan bahkan terindikasi sebagai pengedar. Teranyar, beberapa hari lalu Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menangkap pesinetron Rizal Djibran di rumahnya di kawasan Bekasi dengan barang bukti sabu 0,66 gram serta alat hisapnya.

“Kita mendukung BNN untuk melakukan kerjasama dengan perhimpunan atau perkumpulan artis untuk melakukan tes urine. Rentetan tangkapan artis yang mengkonsumsi narkoba di awal tahun ini menggambarkan rentannya profesi ini terhadap narkoba,” tegas Sahroni beberapa waktu lalu.

Sependapat, Arie Soeripan Tyawatie Ketua DPD Gerakan Anti Narkotika (Granat) Jawa Timur menilai BNN harus melakukan tes urine kepada semua artis untuk memastikan mereka yang menggeluti profesi ini tak terjerat narkoba. Bahkan menurutnya bukan hanya tes urine sebagai deteksi dini, hukuman sosial juga perlu diterapkan terhadap artis yang terbukti mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba.

“Peredaran narkoba di artis ini sudah sangat parah sekali. Di indonesia ini sangat strategis sekali untuk peredaran narkoba. Ini bisnis yang sangat menggiurkan sekali. Rehabilitasi juga salah kaprah dipergunakan. Karena dikit-dikit direhabilitasi. Padahal ada ketentuan 0 sekian persen baru bisa direhab,” tandasnya.

 

(Arbi)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com