TAJUK: Medsos Dipenuhi Ujaran Kebencian dan Provokasi

TAJUK: Medsos Dipenuhi Ujaran Kebencian dan Provokasi

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Polri menangkap empat anggota kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam grup WhatsApp "The Family MCA" terkait penyebaran ujaran kebencian.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran di Jakarta, Selasa, mengatakan keempat tersangka ML ditangkap di Sunter, Jakarta Utara; tersangka RSD ditangkap di Bangka Belitung; RS di Jembrana, Bali; dan Yus ditangkap di Sumedang, Jawa Barat.

Menurut hasil penyelidikan polisi, kelompok itu sering melempar isu bernada provokasi di media sosial.  Seperti isu kebangkitan PKI; penculikan ulama; fitnah terhadap presiden, pemerintah dan tokoh-tokoh; tertentu termasuk menyebarkan virus yang sengaja dikirimkan kepada orang atau kelompok lawan yang dapat merusak perangkat elektronik penerima.

Media sosial saat ini memang sangat efektif untuk menyampaikan informasi bohong (hoax), memfitnah, melakukan provokasi dan sejenisnya. Padahal, seharusnya medsos digunakan untuk sarana komunikasi dan informasi yang positif.

Kita sangat menyayangkan perbuatan orang-orang yang menyalahgunakan medsos untuk menghujat,memfitnah, dan memprovokasi sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Bahkan bisa menimbulkan kerusuhan massal antarumat beragama.

Presiden Jokowi dan isterinya Iriana juga menjadi ‘korban’ hujatan dan fitnah lewat medsos. Bahkan seorang dokter SSD (51) ditahan Bareskrim Polri karena menghina Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Presiden Jokowi. Sang dokter melakukan penghinaan dalam akun Facebook miliknya.

Mustafa Kamal, warga Pulau Bintan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau kembali diduga menghina istri Presiden Joko Widodo, yakni Iriana Jokowi melalui statusnya di media sosial google plus. Di akun Facebook miliknya, Mustafa juga menghina Presiden Jokowi dan sejumlah petinggi PDIP. Mustafa juga pernah menghina Rudy Chua, anggota DPRD Kepri dari Fraksi Hati Nurani Rakyat.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, Gus Mus juga  dihina seorang netizen bernama Pandu Wijaya melalui akun jejaring sosial twitter. Pandu menyebut kata-kata kasar "Bidah Ndasmu!".

Tak hanya Gus Mus, sudah banyak tokoh, kalangan selebriti, dan masyarakat biasa yang menjadi ‘korban’ keganasan medsos dan kebiadaban pemilik akun/netizen.

Saat membuka Kongres XVII Muslimat Nahdlatul Ulama, di Gedung Serbaguna 2, Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/11) pagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kecemasannya atas penyalahgunaan penggunaan medsos oleh sebagian warga akhir-akhir ini.

Menurut Presiden, belakangan ini yang ada di medsos adalah saling menghujat, saling mengejek, saling menjelekkan, saling memaki, saling fitnah, saling adu domba. Ini fakta, kata Presiden, dan banyak berita-berita bohong.

Publik mengecam kalangan yang menyalahgunakan medsos untuk menghina, menghujat dan menyampaikan berita hoax itu. Perbuatan ini tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, dan tata nilai ke-Indonesia-an kita, karena tata nilai kita adalah budi pekerti yang baik, nilai-nilai sopan santun. 

Kita mengajak semua pihak untuk menggunakan medsos dengan penuh tanggung jawab. Medsos harus menjadi instrumen membangun peradaban yang saling menghormati, mewartakan kebenaran, dan menyuarakan suara rakyat dengan sejujur-jujurnya. Jangan gunakan medsos untuk alat penghujat, menghina, dan menyakiti orang lain. 

Harus diingatkan menyebarkan berita kebencian (Hate speech) tidak diperbolehkan, dan bertentangan dengan UU ITE pasal 28 ayat 2, sampai hukuman pidanya ada maksimal enam tahun denda maksimal sampai Rp1 miliar. Namun kenyataannya, ada saja pengguna media yang melakukan provokasi dan menyebarkan kebencian.

Mulai sekarang gunakanlah medsos untuk saling  kenal satu sama lain, ajang silaturahmi untuk mempererat persaudaraan dan persahabatan, ajang saling tukar informasi sesama kita. Jadilah pengguna medsos yang arif dan bijak.

 

 

 

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com