TAJUK: Bapak, Anak dan Ponakan Ikut Korupsi

TAJUK: Bapak, Anak dan Ponakan Ikut Korupsi


Prihatin dan menyedihkan. Itulah yang pantas kita ucapkan kepada para kepala daerah yang tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Meski sudah seringkali KPK melakukan OTT, tetap saja ada kepala daerah yang nekad melanggar hukum, melakukan korupsi atau menerima suap.

Seakan tidak ada takutnya dan seakan tidak ada tobat-tobatnya. Tak heran bila baru dua bulan memasuki tahun 2018,  sudah  tujuh kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Pada tahun sebelumnya, 2017, sebanyak lima kepala daerah sudah dijadikan tersangka.

Yang memprihatinkan tertangkapnya Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan Calon Gubernur Sulawesi Tenggara Asrun atas dugaan tindakan korupsi di Kendari. Asrun adalah mantan wali kota Kendari selama dua periode (2007 - 2012 dan 2012 - 2017). Adriatna dan Asrun adalah anak dan bapak.

Mendagri Tjahyo Kumolo juga menyatakan kesedihannya, karena bapak dan anak terkena OTT.

Tak hanya bapak dan anak, suami dan isteri juga bersama-sama terlibat kasus korupsi. Dalam kasus e-KTP, misalnya, Ponakan terpidana Setya Novanto, juga sudah diperiksa KPK terkait  kasus tersebut. Ada juga keterlibatan sepupu, adik ipar dalam kasus korupsi.

Majelis Ulama Indonesia sangat prihatin dengan banyaknya kepala daerah yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK karena diduga melakukan tindak pidana korupsi ataupun gratifikasi.

Jika dihitung dari keseluruhan jumlah kepala daerah di seluruh Indonesia, kata Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Saadi, hampir sepertiganya berurusan dengan lembaga antirasuah. Hal itu menunjukkan betapa rapuhnya moral para pejabat publik sehingga cepat tergoda dengan tawaran dan iming-iming kemewahan dunia.

MUI juga mengimbau masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang melakukan praktik politik uang karena hal itu akan menjadi pangkal kehancuran sebuah negara.

Pilkada Serentak akan digelar 27 Juni 2018 secara serentak di 171 daerah di Tanah Air. Warga akan memilih calon pemimpinnya untuk lima tahun ke depan, 2018-2023. Inilah kesempatan bagi warga untuk memilih kepala daerah yang terbaik dan mendapatkan sosok pemimpin yang ideal, yang membawa perubahan besar di daerahnya.

Rakyat juga mengharapkan hadirnya pemimpin yang memiliki integritas, terbuka, berani mengambil resiko, kreatif dan inovatif serta mau belajar dari pengalaman.

Kita menginginkan para calon kepala daerah jika nanti terpilih bisa mencontoh kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Seperti tercatat, ada empat hal yang menjadi kunci kesuksesan Rasulullah dalam memimpin. Empat hal itu adalah sifat siddiq, amanah, fathanah, dan tabhligh.Siddiq adalah sikap yang menjunjung tinggi kejujuran. Sikap kejujuran inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan seseorang dalam memimpin.

Yang kedua yaitu tabligh yang berarti menyampaikan. Hal ini dapat diaplikasikan dengan sikap yang mampu menyampaikan kebenaran dan menolak keras kebatilan. Bersifat transparan dan terbuka, sehingga muncul sikap saling mempercayai satu sama lain.

Ketiga adalah amanah. Seorang pemimpin haruslah memilili sifat yang bertanggungjawab penuh atas kepemimpinannya. Menjalankan kepercayaan dengan profesional dan tidak merusak nilai-nilai yang dapat mencederai kepercayaan banyak orang.

Dan yang terakhir adalah fathanah. Seorang pemimpin haruslah cerdas. Cerdas dalam bertutur kata, cerdas dalam bertindak, dan cerdas dalam memeberi keputusan dan solusi.

Jika empat gaya kepemimpinan Rasul ini mampu diterapkan para kepala daerah yang dipilih rakyat pada pilkada serentak Juni nanti dengan baik, tentu rakyat akan senang dan sejahtera. Pemimpin seperti ini tentu akanbisa mengayomi rakyatnya.

Ingat, kitalah yang menentukan pemimpin kita. Jangan sia-siakan hakmu untuk memilih calon kepala daerah yang jujur, berani, cerdas, dan amanah. Pilihlah calon kepala daerah yang beradab, santun, membawa kesejukan, ketenangan dan kenyaman bagi warga, bukan pemimpin yang suka membuat kegaduhan dan yang hanya mementingkan dirinya, melakukan tindak pidana korupsi.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com