Inilah Luhat-Luhat Dalam Kerajaan Huristak

Inilah Luhat-Luhat Dalam Kerajaan Huristak


Jakarta, HanTer - Jika selama ini banyak orang belum mengetahui mengenai Kerajaan Huristak, maka melalui tulisan ini diharapkan membuka wawasan. Terutama, mengenai luhat-luhat dalam kerajaan Huristak. 
 
Jaman Raja Kali omar (Raja Huristak VII) thn 1840
 
Belum dikenal istilah barat seperti (onderafdeeling, onder district dan loehat2) di jaman ini kerajaan huristak masi memakai sistem haradjaon dimana batas2 sungai dijaga administrasinya oleh datuk dan pandito yang ditunjuk raja.
 
Jaman Raja Sutan Palaon 1885 (Raja Huristak VIII)
 
Administrasi Hindia Belanda telah masuk ke wilayah kerajaan Huristak, Belanda mengakui Sutan Palaon sebagai Raja van Hoeristak dan juga pemilik tanah 3 luhat (Luhat Huristak, Luhat Simangambat dan Luhat Ujung Batu). 
 
Secara administrasi Belanda adalah onderdistricthoofd tetapi secara administrasi internal kerajaan tetap memakai sistem lama.
 
Terbukti ditemukan surat pembelian budak dan dengan tegas Sutan Palaon menyebut Kesultanan Kotapinang sebagai Luhat Kotapinang saja- bentuk protes beliau kepada Belanda.
 
Jaman Raja Patuan Barumun 1914 (Raja Huristak IX)
 
Ke 3 Luhat (Huristak, Simangambat, Ujung batu) masih menghadap paduka dan wajib membayar pajak dan lain lain, dimana kepemilikan tanah tetap diatur oleh Patuan Barumun. Di luar itu Belanda mulai membuat banyak luhat demi membendung Patuan Barumun.
 
Nyatanya, terdapat surat protes Patuan terhadap Belanda bahwa Luhat Gunung Tua dulunya juga memrupakan tanah pemberian kakeknya setelah dikeluarkan dari peta administrasi kerajaan, Belanda malah membuat semakin banyak luhat.
 
Jaman Jepang 1942-1945
 
Pada awalnya Jepang menebar teror ancaman melalui poster-poster pemaksaan dan pemerasan di Padang Lawas.
 
*Poster 
 
Tapi setelah 1500 orang rombongan pasukan jepang dibenamkan di lumpur dengan sekali gebrak, dan komandan-komandan mereka diselamatkan dari maut, Jepang sangat hormat dan mengakui kedaulatan kerajaan Huristak. Istilah luhak hampir tidak ditemui lagi karna dianggap dan diketahui dan diakui Jepang  bahwa semua luhak adalah milik kerajaan.
 
*Surat simizugumi 
 
Jaman bergabung NKRI 1947
 
Luhat menjadi bagian dari propinsi wilayah administrasi sumut dan Riau 
 
** foto surat onderdistrict Raja Sutan Palaon atas kepemilikan luhat simangambat dan Luhat Ujung Batu
 
** Surat permohonan kepala desa Simangambat ke Raja Huristak
 

(romi)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com