Fenomena Persekusi Tokoh Agama: Apresiasi Kinerja Polri

Fenomena Persekusi Tokoh Agama: Apresiasi Kinerja Polri

Oleh: Ali Sodikin*)

Akhir tahunn 2017 hingga Februari 2018 kita sebagai bangsa kembali dikejutkan oleh berita media massa yang melaporkan maraknya persekusi terhadap tokoh agama. Pemberitaan yang menyebar luas kepada khalayak menggambarkan bagaimana penyerangan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan menurut catatan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, penyerangan terhadap pemuka agama sudah terjadi 21 kali, 15 kali dilakukan oleh orang yang tidak waras.

Pemberitaan tersebut jelas meresahkan kita sebagai bangsa, seakan kehidupan kita yang selama ini dalam Bhineka Tunggal Ika teracam akan terkoyak. Nilai persatuan dan kesatuan kita dalam berbangsa terkesan semakin terkikis. Negara seakan tak berdaya menghadapi fenomena tersebut.

Seruan dan komentar serta kritik tokoh bangsa dari beragam latar belakang agar pihak berwenang segera mengukap peristiwa persekusi terhadap tokoh agama dan tempat ibadah justru  semakin menegaskan adanya ancaman keamanan dalam kehidupan masyarakat.

Disaat suasana kehidupan kebangsaan semakin suram, kita seakan mendapat setitik cahaya penerangan. Kepolisian Republik Indonesia bekerja cepat dan tepat, meski awalnya pernyataan pihak Polri yang menjelaskan akan temuan-temuan dilapangan mendapat respon negatif dari beberapa kalangan. Namun kerja keras Polri perlahan tapi pasti mampu menghapus stereotipe yang telah lama menempel di institusi berseregam coklat tersebut.

Fakta dan bukti dilapangan hasil temuan Satuan Tugas Nusantara yang dibentuk oleh Polri mampu mengurai akar masalah secara sistematis. Ada beberapa indikator yang menguatkan bahwa banyaknya isu persekusi terhadap tokoh agama dan tempat ibadah mayoritas adalah berita bohong atau hoaks. Peristiwa penyerangan terhadap tokoh agama memang ada dan terjadi, di Jawa Timur ada satu peristiwa dan di Jawa Barat terjadi dua peristiwa.

Namun laporan peristiwa dari berbagai daerah, antara lain di Ciamis, Kediri, dan Balikpapan, dan Bogor, ternyata lebih banyak peristiwa kriminal biasa dengan berbagai motif termasuk korbannya bukan dari kalangan tokoh agama. Ada motif ekonomi, ada kejadian spontan yang korbannya petani dan pelakunya masih tetangganya sendiri.

Dari fakta dan data tersebut, maraknya isu persekusi terhadap tokoh agama  yang begitu massif dalam pemberitaan media massa dapat kita gambarkan adanya gejala penurunan  kualitas kinerja sebagaian dari komunitas jurnalis kita. Persaingan bisnis media massa yang begitu keras akibat kemajuan teknologi memang tak terhindarkan. Namun kita harapkan mayoritas media massa kita masih berpegang teguh pada pola kerja akurat dan bertanggung jawab menjaga suasana kondusif dalam masyarakat.

Kinerja Polri

Lepas dari itu, kita sebagai warga bangsa patut memberi apresiasi pada kinerja Jenderal Tito Karnavian beserta jajaran Kepolisian Republik Indonesia atas kecepatan dan ketepatan membongkar penyebar hoaks dan berita bohong lewat medsos tentang persekusi tokoh agama yang telah membuat keresahan masyarakat dan bisa memicu konflik horisontal.

Oleh karena itu keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi yang tidak terelakkan termasuk internet dan medsos seharusnya mampu dibarengi juga peningkatan sense of literasi pada kita semua sebagai bangsa. Lebih selektif memilih dan memilah sebuah informasi, baik dari media konvensional apalagi dari jejaring media sosial.

*) Penulis adalah Pengamat Media & Dosen pada STAI Publisistik Thawalib Jakarta

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com