Kaum Perempuan Didorong jadi Agen Transformasi Iptek

Kaum Perempuan Didorong jadi Agen Transformasi Iptek

Jakarta, HanTer – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2018, di Jakarta, Kamis (8/3/2018). Diskusi ini, mengangkat tema “Perempuan dalam Transformasi Iptek”.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk mendorong peran perempuan dalam dunia riset dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dengan begitu, kaum perempuan dapat terlibat aktif menjadi agen perubahan.

Disamping itu, LIPI juga membuka peluang kaum perempuan untuk menjadi bagian dari peneliti-peneliti LIPI. Saat ini terdapat 779 peneliti perempuan yang tersebar di 50 satuan kerja LIPI di seluruh Indonesia.

“LIPI mendukung para perempuan peneliti agar memiliki kinerja optimal dengan dukungan dari sistem dan manajemen LIPI,” kata Enny, Kamis (8/3/2018).

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong peneliti perempuan untuk menghasilkan publikasi internasional dan membangun jejaring komunitas ilmiah internasional.

“LIPI mendukung para perempuan peneliti agar memiliki kinerja optimal dengan dukungan dari sistem dan manajemen LIPI. Salah satunya dengan meningkatkan kompetensi agar mereka dapat diakui dalam jejaring komunitas ilmiah internasional dan menjadi agen perubahan dunia,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Yuliati Herbani, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI mengatakan, bahwa peran perempuan peneliti saat ini sudah baik dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini lantaran apresiasi pemerintah dan masyarakat Indonesia maupun dunia bagi perempuan peneliti semakin meningkat, khususnya dalam ketersediaan porsi-porsi khusus dalam hal pendanaan riset dan beasiswa.

Menurut dia, hal ini cukup memotivasi bagi perempuan peneliti yang sudah ada untuk terus berkarya mengimbangi dominasi kaum pria. Selain itu, juga mendorong kaum perempuan pada umumnya untuk bercita-cita menjadi peneliti.

“Lalu, apresiasi terhadap peneliti perempuan dirasakan pula berdampak pada perubahan iklim kerja peneliti, dimana peneliti perempuan diberi ruang dan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi pemimpin dalam suatu kegiatan riset,” kata penerima L’ORÉAl–UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 ini.

Porsi dan apresiasi luas dari berbagai kalangan ini, sambung dia, yang memungkinkan jenjang karir peneliti tidak lagi menjadi momok bagi perempuan. Sebagai contoh, saat ini di Pusat Penelitian Fisika sudah ada tiga orang perempuan peneliti dari delapan orang peneliti yang telah mencapai jenjang Peneliti Utama.

“Ini merupakan satu indikator bahwa perempuan peneliti juga dapat mencapai jenjang karir tertinggi dengan bersaing secara profesional dengan kaum pria dalam memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia,” imbuhnya.

 

 

 

(Abe/CK)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com