Ambrolnya Konstruksi Tol Becakayu Bukan Karena Pengurangan Batang Baja, Ini Penyebabnya

Ambrolnya Konstruksi Tol Becakayu Bukan Karena Pengurangan Batang Baja, Ini Penyebabnya


Jakarta, Hanter - Penyebab utama terjadinya kecelakaan dalam pembangunan konstruksi jalan tol Becakayu di kawasan Cawang Jakarta Timur pada 20 Februari 2018 lalu, bukan karena ada pengurangan batang baja yang digunakan sebagai pengikat bracket, dari desain awal 12 batang menjadi 4 batang. Tapi karena baut yang mengikat batang baja dengan tiang beton.

“Bahwa lubang di tiang baja ada atau tersedia 12, itu karena tiang baja (begesting) tersebut digunakan beberapa kali sehingga bisa fleksible tergantung panjang dan berat bentangan yang akan dibangun,” kata seorang pejabat Kementerian BUMN kepada Harian Terbit, Jumat (9/10/2018).

Pejabat yang mendapat informasi dan terjun langsung saat peristiwa itu terjadi mengatakan, secara kalkulasi teknis, mungkin cukup. Hanya saja kekuatan setiap tiang beton tidak sama sehingga seharusnya diberikan toleransi yang cukup besar.   

“Jadi bukan karena ada pengurangan batang baja,” kata pejabat yang tak mau disebut namanya mengklarifikasi pemberitaan sejumlah media.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menegaskan masalah kedisiplinan dan pengawasan menjadi penyebab terjadinya kecelakaan dalam pembangunan konstruksi jalan tol Becakayu di kawasan Cawang Jakarta Timur pada 20 Februari 2018 lalu.

Sebelumnya diberitakan kecelakaan itu diduga karena adanya pengurangan batang baja yang digunakan sebagai pengikat penyangga, dari awalnya 12 batang menjadi 4 batang, padahal fungsi batang baja itu adalah untuk mengikat atau menjepit penyangga.

"Gak, gak, gak, jangan membuat isu-isu seperti itu, baru saja tadi saya menelepon ke Menteri PU (Pekerjaan Umum) mengenai `progress` perkembangan Becakayu itu tidak ada pengurangan spesifikasi," kata Presiden Joko Widodo di pelabuhan dalam kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur pada Jumat.

Presiden menegakan ada dua hal yang patut digarisbawahi yaitu kedispilinan dan pengawasan. "Pertama masalah kedisiplinan dalam bekerja, yang kedua ada pengawasan. Supervisi yang rutin untuk melihat mengecek, mengontrol, memonitor, itu paling penting di situ, kuncinya di dua hal ini saja," tambah Presiden.

(Ale)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com