Polisi Perika Sopir dan Karyawan Hari Darmawan

Polisi Perika Sopir dan Karyawan Hari Darmawan

Kematian Pendiri Matahari

Jakarta, HanTer-- Kepolisian Resor Bogor Kabupaten, Polda Jawa Barat masih melakukan penyelidikan kasus meninggalnya Hari Darmawan pendiri Matahari yang ditemukan tewas di pinggir Sungai Ciliwung, Sabtu. Saksi yang suidah diperiksa dan dimintai keterangan oleh polisi sopir almarhum, dan karyawan yang ada di TWM. 
 
"Penyelidikan belum selesai, yang sudah kita lakukan visum terhadap korban, termasuk olah tempat kejadian perkara, dan melakukan rekonstruksi. Setelah hasil pemeriksaan visum keluar baru kita gelar lagi, setelah itu baru diketahui kesimpulan apakah tindak pidana atau bukan," kata Kapolres Bogor Kabupaten AKBP Andy Moch Dicky.
 
Dicky mengatakan hal-hal yang telah dilakukan kepolisian, selain melakukan visum, olah tempat kejadian perkara, dan mengamankan lokasi kejadian, juga memintai keterangan sejumlah saksi-saksi. "Saksi yang kita mintai keterangan baru sopir almarhum, dan karyawan yang ada di TWM," katanya.
 
Untuk mengungkap apakah ada indikasi pidana seperti pembunuhan dan lainnya, menurut Dicky perlu penyidikan lebih lanjut. Karena saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan, dan menungguh hasil visum et raventum.
 
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan kepolisian, Hari Darmawan pada Jumat malam (9/3) bersama supirnya berada di vila miliknya di kawasan Taman Wisata Matahari (TWM).
 
Seperti diketahui sebelumnya, Hari Darmawan ditemukan meninggal dunia pada pukul 06.00 WIB, Sabtu, 10 Maret 2018. Jasadnya tersangkut di sebuah batu Sungai Ciliwung, Bogor, Jawa Barat. Pria 77 tahun itu sempat dilaporkan hilang sejak Jumat, 9 Maret 2018 malam dan kepastian jeda waktu saat beristirahat serta siapa saja yang berada di Villa di kawasan Taman Wisata Matahari saat Hari beristirahat belum terungkap.
 
Kriminolog
 
Sementara itu kriminolog dari Universitas Indonesia Ade Erlangga Masdiana mengingatkan, masih perlu pendalaman pihak kepolisian atas kematian pendiri Matahari, Hari Darmawan.
 
"Polisi kan ranahnya pidana, sehingga bekerja sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHAP), jadi harus mendalami penyelidikan, dan mengumpulkan paling tidak dua alat bukti untuk mentersangkakan seseorang," ujar Erlangga saat dihubungi Harian Terbit di Jakarta, Minggu (11/3/2018).
 
Menurut dosen kriminolog ini, memang tidak mudah bagi polisi dalam mengusut kasus ini. "Kalau memang sudah terpenuhi dua alat bukti, status seseorang naik menjadi tersangka dan penyelidikan menjadi penyidikan. Hal ini juga tidak mudah dilakukan, alat bukti harus kuat," terangnya.
 
"Usianya (Hari) sudah tua ya, bisa saja memang tergelincir dan jatuh lalu terbawa arus, kemudian terbentur sehingga mengalami memar," ujar Erlangga.
 
Ketika ditanyakan jarak yang tidak begitu jauh dari Villa, sementara arus kali saat itu cukup deras? Dan Hari disebutkan usai makan minum dengan para staf?
 
"Mungkin saja saat hanyut dan terbentur-bentur, juga tersangkut. Saksi bisa dilakukan uji lie detector, apakah berbohong atau tidak. Namun jika hanya pengujian melalui lie detector kepada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kejahatan, itu tidak akan berpengaruh," pungkasnya. 

(Danial)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com