Gedung Tinggi Tak Punya Resapan Terancam Dirobohkan

Gedung Tinggi Tak Punya Resapan Terancam Dirobohkan

 

Jakarta, HanTer - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Senin (12/3/2018), merazia gedung-gedung tinggi disepanjang Jalan MH Thamrin-Sudirman. 

Sedikitnya ada tiga faktor yang diperiksa Anies, yakni pengelolaan sumur resapan, instalasi pengolahan limbah, dan pemanfaatan air tanah.

Gedung pertama yang didatangi adalah Hotel Sari Pan Pacific, Jalan MH Thamrin.

Begitu tiba, Anies yang didampingi pejabat terkait, termasuk dari Dinas Lingkungan Hidup, disambut manajemen hotel dan mereka berbincang cukup lama.

Setelah itu, manajemen hotel terlihat memberikan dokumen hotel untuk diperiksa, dan setelah itu Anies dan rombongan diantar menuju instalasi pengolahan limbah yang berada di belakang gedung.

Sebelumnya, di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Anies mengatakan bahwa razia ini akan digelar hingga 21 Maret 2018.

"Ada 80 gedung yang diperiksa, dengan melibatkan Dinas Cipta Karya, Dinas Perinduatrian dan Perdagangan, Dinas Sumber Daya Air, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup dan internal Balai Konservasi Air Tanah," katanya, Senin (12/3/2018).

Ia menambahkan, per hari gedung-gedung itu akan didatangi oleh 5 tim, dimana setiap tim terdiri dari 10 orang.

"Ini juga merupakan penegasan bahwa semua orang harus menaati semua peraturan. Penegakkan aturam bukan hanya kepada rakyat kecil dan lemah, tapi juga kepada yang kuat dan besar," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa selama ini sering ada foto pedagang kaki lima dengan latar belakang gedung-gedung tinggi, namun pedagang itu dirazia, ditertibkan, sementara pengelola gedung-gedung itu tidak.

Padahal, katanya, penurunan muka tanah di Jakarta diakibatkan oleh penyedotan air tanah yanh tanpa aturan, sementara limbahnya mencemari lingkungan.

"Sekarang tak ada lagi toleransi. Siapa pun yang melanggar aturan akan kita tindak," tegasnya.

Seperti diketahui, penggunaan air tanah secara ilegal di Jakarta memang termasuk parah. Pihak PDAM Jaya pernah mengakui, meski para pengelola gedung tinggi ada yang berlangganan PAM, namun mereka juga menyedot air tanah untuk menekan biaya operasi.

Data yang dihimpun menyebutkan, penurunan perrmukaan tanah (land subsidance) di Jakarta rata-rata 5-12 cm per tahun, dan dalam 10 tahun diperkirakan mencapai 1,2 meter.

Selain akibat penyedotan air tanah yang tak terkendali, land subsidance juga terjadi akibat beban gedung-gedung tinggi dan pemadatan tanah.

Dampak penurunan permukaan tanah ini adalah meningkatnya risiko kerusakan infrastruktur dan jembatan, meningkatnya risiko banjir dan air pasang (rob), dan degradasi bangunan yang diikuti penurunan nilai properti.

Wilayah Jakarta yang mengalami land subsidance di antaranya sebagian besar wilayah Jakarta Utara, wilayah Mangga Dua, kawasan Kuningan (Jakarta Selatan), dan di sepanjang Jalan MH Thamrin-Sudirman.

Penurunan tanah di Jalan MH Thamrin membuat tanah dimana Gedung Menara Eksekutif berdiri, menurut data pada Maret w2009, telah amblas 20 cm, sementara tanah dimana Gedung Sarinah berada telah turun 2-3 cm. 

(sammy)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com