Apperti: Gaji Tinggi Dosen Asing Berisiko Timbulkan Kecemburuan

Apperti: Gaji Tinggi Dosen Asing Berisiko Timbulkan Kecemburuan


Jakarta, HanTer - Keputusan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir untuk mendatangkan tenaga kerja asing (TKA) untuk menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Tanah Air, terus menuai polemik.

Disamping mengabaikan mutu dan kualitas dosen lokal yang melimpah, kebijakan ini juga berisiko menimbulkan kecemburuan para dosen di Tanah Air yang hingga kini tak sedikit tingkat kesejahteraannya masih memprihatinkan.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menyatakan telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 300 miliar untuk menggaji 200 dosen asing yang akan didatangkan ke Indonesia. Dari anggaran itu, nantinya setiap dosen asing akan menerima gaji hingga sebesar $4.000 atau setara Rp54 juta setiap bulannya.

“Mendatangkan dosen asing memang sebuah keniscayaan karena Indonesia tidak bisa lepas dari cara pandang internasionalisasi perguruan tinggi. Tapi jangan lupa dengan dosen-dosen di dalam negeri yang (kesejahterannya) sangat kekurangan,” kata Sekjen Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (Apperti), Dr. Taufan Maulamin, SE, AK, MM, dalam keterangannya kepada Harian Terbit di Jakarta, Jumat (20/4/2018).

Untuk itu, Akuntan dan Doktor Ekonomi Islam lulusan Islamic Economics and Finance ini meminta Menristekdikti memberikan gaji hingga Rp80 juta per bulan kepada dosen-dosen di dalam negeri yang berkompeten, sehingga tidak muncul kecemberuan jika nantinya dosen-dosen asing akan dibayar mahal.

Selain itu, peningkatan kesejahteraan ini secara otomatis juga akan mendorong dosen lokal untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya sehingga mampu bersaing dengan dosen yang berasal dari luar negeri.

Menurut dia, dampak perdagangan bebas memang memungkinkan tenaga pengajar asing untuk bekerja di Indonesia. Meski demikian, menurutnya, hal itu tidak dapat menjadi alasan  Pemerintah untuk mengabaikan kondisi dosen di dalam negeri yang kian memprihatinkan

Sementara itu, Pengamat Pendidikan Tinggi dari Universitas Andalas (Unand), Dr Ade Djulardi menyarankan agar pemerintah mendatangkan diaspora atau peneliti asli Indonesia berwarganegara asing, ketimbang dosen luar negeri yang memerlukan adaptasi dengan karakter dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Disamping itu, upaya penguatan pendidikan tinggi melalui riset juga cukup dilakukan dengan memperkuat eksistensi balai atau lembaga penelitian. "Memperkuat ahli dan peneliti dari balai penelitian dan kampus, akan lebih baik ketimbang mendatangkan dosen asing,” ujarnya, seperti dilansir Antara.

 

(Arbi)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com