Tajuk: Mengapresiasi Vonis 15 Tahun Setya Novanto

Tajuk: Mengapresiasi Vonis 15 Tahun Setya Novanto


Majelis hakim pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman atau vonis 15 tahun penjara terhadap terdakwa korupsi e-KTP  Setya Novanto (Setnov). Mantan Ketua DPR RI itu juga dihukum membayar denda Rp500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Selain itu, mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga dituntut membayar uang pengganti sebesar US$7,3 juta dikurangi uang yang telah dikembalikan Rp5 miliar subsider 2 tahun kurungan. Majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan hak politik Novanto selama 5 tahun.

Vonis itu sendiri lebih rendah dari tuntutan jaksa KPK. Sebelumnya Novanto dituntut hukuman 16 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider enam bulan kurungan. Novanto juga dituntut membayar uang pengganti sebesar USD7,4juta dikurangi uang yang telah dikembalikan Rp5 miliar subsider 3 tahun.

Berbagai kalangan mengapresiasi putusan majelis hakim tersebut, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga Antikorupsi juga berterima kasih atas vonis tersebut.

"Terkait dengan putusan Pengadilan Tipikor yang dijatuhkan terhadap terdakwa SN tadi, KPK tentu saja mengapresiasi hal tersebut dan kami sampaikan terima kasih," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 24 April 2018.

Sekalipun, vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa KPK  paraa pengamat dan aktivis antikorupsi menilai vonis terhadap Setnov cukup memuaskan. Mereka juga menyatakan puas soal uang pengganti senilai US$ 7,3 juta. Uang ini dapat membantu pengembalian negara atas tindakan korupsi yang dilakukan Novanto.

Begitu juga dengan putusan hakim soal pencabutan hak politik bagi Setnov, mereka nilai sebagai langkah tepat.

Putusan hakim tersebut juga menunjukkan hakim independen, profesional, bijaksana dan adil.

Tak semua kalangan puas atas putusan hakim tersebut. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyayangkannya. Menurut Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Tama S. Langkun, hukuman Novanto tak membuat jera Setnov dan dapat menjadi preseden buruk bagi terdakwa korupsi lainnya.

Ia menyebut, seharusnya Setya Novanto dijatuhi vonis maksimal. Pasalnya, sepanjang proses hukum, perilaku Novanto dipandang tidak kooperatif.  Selain itu, Tama juga menyoal pidana tambahan uang pengganti yang dijatuhkan terhadap Novanto. Menurutnya ganjaran tersebut tak merepresentasikan jumlah kerugian negara yang terjadi akibat korupsi KTP-el yaitu sebesar Rp2,3 triliun. 

Setnov sudah dijatuhi hukuman 15 tahun, denda Rp500 juta dan pencabutan hak politiknya selama 5 tahun. Kini yang ditunggu publik adalah siapa lagi yang akan menjadi tersangka dan dipenjarakan KPK selanjutnya?

Publik meyakini masih ada pihak lain yang ikut kecipratan uang haram dari proyek bernilai Rp5,8 triliun tersebut. Terlebih, nama-nama itu telah dipaparkan majelis hakim dalam amar putusan Novanto.

Pihak KPK pun merespon pertanyaan publik ini. Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa, 24 April 2018, begitu berkas putusan hakim diterima, KPK akan mempelajarinya  untuk melihat lebih lanjut siapa saja pihak-pihak lain yang masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya terkait dengan proyek e-KTP.

Kita sependapat, untuk sebuah kasus korupsi yang me­ru­gi­kan ne­gara Rp3,2 triliun me­mang pantas di­hukum berat. Hukuman 15 tahun penjara kepada Setnov layak diapresiasi. Hukuman terhadap Setnov ini setidaknnya membuka sedikit harapan lagi tentang masih ada penegakan hu­kum yang adil di negeri ini.

Hukuman berat terhadap koruptor tentu saja kita harapkan akan membuat jera aparat negara atau pejabat negara untuk menggerogoti uang negara. Jiuga agar tidak ada lagi yang bermain-main dengan ka­­sus ko­rupsi yang telah menghancurkan negara ini. H

hukuman be­­rat ini diharapkan bisa membuat kasus korupsi menurun. Negeri ini harus bebas dari korupsi. Untuk itu diperlukan ko­mitmen se­luruh anak bangsa untuk membangun kesadaran ber­sama bah­wa korupsi merupakan musuh bersama yang ha­rus dihancurkan.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com