TAJUK: Mengapresiasi Vonis Mati 8 Penyelundup Satu Ton Sabu-sabu

TAJUK: Mengapresiasi Vonis Mati 8 Penyelundup Satu Ton Sabu-sabu


Negeri ini harus menyelamatkan generasi mudanya dari peredaran dan pemakaian narkoba. Bila tidak, masa depan bangsa dan negara ini akan hancur. Demi menyelamatkan generasi muda dan masa depan bangsa Indonesia, kita harus berjihad melawan narkoba.

Terkait hal ini pula kita patut mengapresiasi dan memberikan acungan jempol kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang memberikan vonis mati terhadap delapan warga Taiwan yang menjadi terdakwa penyelundupan satu ton sabu-sabu melalui Pantai Anyer, Serang, Banten.

Ketua Majelis Hakim Effendy Mukhtar  mengemukakan, hukuman mati itu diberikan karena tidak ada hal yang meringankan dari terdakwa. Effendy memimpin sidang terhadap tiga terdakwa yakni Liao Guan Yu, Chen Wei Cyuan dan Hsu Yung Li yang dituduh berperan menjemput satu ton sabu-sabu di Pantai Anyer.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Haruno Patriyadi memvonis lima terdakwa lainnya yakni Juang Jin Sheng, Sun Kuo Tai, Sun Chih Feng, Kuo Chun Yuan dan Tsai Chih Hung. Kelima terdakwa itu merupakan awak kapal Wanderlust yang mengangkut 52 karung sabu-sabu atau seberat satu ton ke Pantai Anyer.

Sebelumnya, petugas Polda Metro Jaya dan Polres Kota Depok menembak mati bandar utama sabu-sabu satu ton asal Taiwan Lin Ming Hui, namun menangkap hidup tiga orang lainnya yakni Chen Wei Cyuan, Liao Guan Yu dan Hsu Yung Li di Dermaga Hotel Mandalika Anyer Serang Banten pada Rabu (12/7) malam.

Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso (Buwas) saat menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) pernah memerintahkan anggotanya agar bertindak tegas dengan menembak mati setiap pengedar narkoba. Cara ini cukup efektif untuk memutus mata rantai penyelundupan dan peredaran narkoba di Indonesia.

Perintah tembak mati  itu perlu dilakukan karena penegakan hukum di Indonesia selama ini kurang tegas dalam hal masalah narkotika. Itu sebabnya, kata Budi Waseo, Indonesia menjadi negara sasaran bagi 11 negara penyuplai obat-obatan terlarang.

Kita mendukung semua bandar narkoba dihukum mati  atau ditembak mati. Tindakan tegas ini diyakini sangat efektif dalam memberantas narkoba. Hal inilah yang dilakukan Presiden Filipina Rodrigo Duterte,  pengguna, pengedar, dan bandar narkoba di negeri itu ketakutan. Saking takutnya diperkirakan sebanyak 500.000 pengedar dan pengguna menyerahkan diri kepada polisi.

Meski banyak dikritik di dalam negeri dan dunia internasional, Presiden Rodrigo tak peduli, dia tetap memerintahkan untuk menembak para penjahat narkoba.  Kebijakan anti-kejahatan Duterte fokus pada janji kampanyenya untuk menyelesaikan masalah peredaran obat terlarang dalam jangka waktu enam bulan.

Negara ini harus diselamatkan dari kehancuran akibat narkoba. Karenanya pemerintahan Presiden Jokowi harus tegas dan serius mengatasi persoalan maraknya peredaran narkoba di tanah air. Perlu kebijakan yang jelas dan tindakan tegas terhadap para penjahat narkoba, sehingga negeri ini tidak lagi  darurat narkoba.

Meski  masih pro kontra, sebagian anggota masyarakat juga ada yang menginginkan  Presiden Jokowi meniru sikap tegas Presiden Filipina untuk menembak mati penjahat narkoba di tempat. Alasannya, penjahat narkoba itu sudah ‘membunuh’ banyak generasi muda Indonesia termasuk anak-anak bangsa calon pemimpin negeri ini.

Jadi, sudah bukan saatnya lagi pemerintahan Jokowi bersikap ‘lunak’ terhadap para penjahat narkoba. Juga terhadap para oknum aparat penegak hukum yang membekingi mereka. Hukum seberat-beratnya, dan umumkan nama mereka ke publik.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com