Trump Tandatangani Penarikan Diri Dari Perjanjian Nuklir Iran JCPOA

Trump Tandatangani Penarikan Diri Dari Perjanjian Nuklir Iran JCPOA

Washington, HanTer - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Selasa sore waktu setempat atau Rabu (9/5/2018) dini hari WIB, telah menandatangani memorandum kepresidenan untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir yang dilakukan oleh pendahulunya Presiden Barack Obama bersama Perancis, Inggris, Rusia dan Cina - plus Jerman pada Juli 2015 yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).
 
Alhasil, dengan penandatanganan tersebut maka mengembalikan kembali sanksi nuklir AS terhadap negara Iran. "Kami akan melembagakan sanksi ekonomi tertinggi kembali bagi Iran," kata Trump, sebelum menandatangani memorandum tersebut.
 
Menurut milyarder asal New York itu, keputusan mundur dari kesepakatan tersebut akan membuat Amerika lebih aman. "Terima kasih banyak. Ini akan membuat Amerika lebih aman," ucap Trump beberapa saat setelah dia mengumumkan bahwa AS menarik diri dari kesepakatan Iran.
 
Kesepakatan Iran 2015, yang dinegosiasikan di bawah mantan Presiden Barack Obama, menurut Trump memberi Iran bantuan dari sanksi dalam pertukaran untuk membatasi kegiatan nuklirnya. "Kesepakatan yang konstruktif dengan mudah bisa dilakukan pada saat itu. Tapi ternyata tidak. Inti dari kesepakatan Iran adalah fiksi, bahwa rezim pembunuh hanya menginginkan program energi nuklir damai," ucapnya sebelum menandatangani.
 
"Setiap negara yang membantu Iran dalam pencariannya akan senjata nuklir juga dapat dikenakan sanksi keras oleh Amerika Serikat. Amerika tidak akan disandera oleh pemerasan nuklir," tuturnya.
 
Presiden Trump pun mengolok-olok kesepakatan nuklir Iran sebagai hal yang memalukan dengan memberikan dolar pada rezim yang sama untuk mensponsori terorisme. "Pada titik ketika AS memiliki daya ungkit maksimum, kesepakatan yang membawa malapetaka ini memberi rezim ini - dan itu adalah rezim teror besar - banyak miliaran dolar, sebagian di antaranya benar-benar uang tunai, sangat memalukan bagi saya sebagai warga negara," ucapnya.
 
Bersamaan dengan pengumuman Trump menarik diri dari kesepakatan Nuklir Iran, harga minyak pun melonjak. Dalam perdagangan volatile, minyak mentah AS turun sekitar 1% untuk hari itu, bahkan sebelumnya sempat mengalami penurunan sebanyak 4,4%.
 
Sementara itu, Presiden Prancis dalam ciutannya di Twitter menuliskan jika menyesalkan keputusan yang dilakukan oleh Trump terhadap perjanjian nuklir Iran. "Prancis, Jerman, dan Inggris menyesalkan keputusan AS untuk meninggalkan JCPOA. Rezim non-proliferasi nuklir dipertaruhkan" tulis Presiden Emmanuel Macron.
 
Dalam tweet lain, Macron menambahkan: "Kami akan bekerja secara kolektif pada kerangka yang lebih luas, meliputi aktivitas nuklir, periode pasca-2025, aktivitas balistik, dan stabilitas di Timur Tengah, terutama Suriah, Yaman, dan Irak."
 
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan jika Israel sepenuhnya mendukung keputusan Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran. Pernyataannya disiarkan langsung melalui televisi pemerintah dari Yerusalem setelah pidato Trump.
 
Hal senada diungkapkan Nikki Haley, duta besar AS untuk PBB dalam sebuah pernyataan yang mengatakan Trump benar-benar membuat keputusan yang tepat untuk meninggalkan kesepakatan nuklir Iran.
 
"Presiden benar-benar membuat keputusan yang tepat untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran. Ini adalah kesepakatan mengerikan yang hanya memperbolehkan perilaku internasional Iran yang buruk, memburuk. Kita tidak boleh membiarkan Iran mendapatkan senjata nuklir dan kita harus menolak dukungan mereka untuk terorisme yang terus mengancam Amerika dan sekutu kita," ucapnya. 

(Hermansyah)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com