Waspadai Penyebaran Paham Radikalisme Berkedok Agama

Waspadai Penyebaran Paham Radikalisme Berkedok Agama


Jakarta, HanTer - Ketua Umum Perhimpunan Putra Putri Angkatan Udara Republik Indonesia (PPP AURI), Muara Karta mengutuk keras aksi biadab para napi teroris dalam peristiwa kerusuhan disertai penyanderaan di rumah tahanan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok, yang berakhir pada Kamis (10/5) pagi. 
 
"Paham radikalisme itu tidak salah, tapi yang salah itu individu atau sekelompok fundamentalis yang ingin merubah idelogi negara dengan cara melakukan teror ataupun melakukan tindakan kekerasan, seperti membunuh orang lain yang tidak sealiran atau tidak sepaham dengan ajarannya. Inilah yang dibilang radikalisme," kata Karta melalui pesan elektroniknya, Kamis (10/5). 
 
Praktisi hukum senior ini mengungkapkan, kelompok mahasiswa dan pemuda adalah kelompok yang paling rentan terpengaruh paham ekstrim.
 
"Mahasiswa, pemuda, itu kelompok yang paling rentan terpengaruh dengan paham ekstrem," ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) ini. Karta menyebut masa usia 20-an dan mahasiswa sebagai masa kritis dalam berpikir. Pemuda dalam kondisi tersebut yang sering jadi sasaran para teroris dalam memengaruhi paham ekstrimnya.
 
"Itu yang dimainkan sebenarnya dengan kelompok-kelompok ekstrim radikal," imbuhnya.
 
Ia berharap kepada para mahasiswa, tidak mempelajari agama dengan 'kacamata kuda' agar memiliki pandangan yang luas.
 
Namun sayangnya di Indonesia banyak anak-anak muda, terlebih di daerah yang dididik dengan paham sempit dengan berkedok agama, yang akhirnya melahirkan kaum fundamentalis yang tidak sejalan dengan ideologi negara.
 
"Itulah yang terus diburu oleh Densus 88. Ketika kaum ini sudah bicara SARA, yang tidak sepaham dianggap kafir. Aparat juga tidak boleh lengah atau kendor terhadap napi teroris, agar tidak terulang lagi seperti kejadian seperti ini," pungkas Karta.
 
Diketahui kerusuhan disertai penyanderaan di rumah tahanan Markas Komando Brigade Mobil melibatkan sebanyak 155 tahanan kasus terorisme yang sebelumnya menguasai tiga blok rutan menyerah tanpa syarat.
 
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, memastikan tidak ada negosiasi yang dilakukan aparat keamanan kepada tahanan atau narapidana terorisme dalam kerusuhan di Mako Brimob. Ia memastikan tahanan menyerah tanpa syarat. 
 
"Maka aparat keamanan memberikan ultimatum, bukan negosiasi," ujar Wiranto.
 
Wiranto menyatakan ultimatum tersebut sudah sesuai dengan Standar Prosedur Operasi. Aparat keamanan, kata dia, telah memberi batas waktu yang harus ditanggapi para tahanan. 
 
Kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, menurut kepolisian bermula dari hal sepele yaitu soal makanan. Dari soal makanan itu terjadi ricuh, penyanderaan dan mengakibatkan lima anggota kepolisian dan satu orang narapidana teroris tewas.
 

(romi)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com