TAJUK: Catatan 20 Tahun Reformasi

TAJUK: Catatan 20 Tahun Reformasi


PERJALANAN reformasi sudah berusia genap 20 tahun di bulan Mei 2018. Berbagai kritik maupun harapan kerap dikumandangkan berbagai pihak guna perbaikan negeri.  Berbagai kalangan menyoroti dua hal penting di peringatan 20 tahun reformasi di era Pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla.

Pertama, penegakan hukum terkait berbagai persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang hingga saat ini belum selesai. Kedua, pembangunan di bidang ekonomi belum memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Bahkan  ketimpangan antara si miskin dan si kaya semakin melebar.

Padahal, pada saat reformasi dilakukan 20 tahun lalu, seiring tumbangnya kekuasaan reim Orde Baru, rakyat mengharapkan terjadinya perubahan di segalaa bidang, termasuk kemiskinan yang diderita rakyat, kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi Untuk yang terakhir ini memang sudah dirasakan. Rakyat sekarang bebas berekspresi dan  menyatakan daya kritisnya.

Dua puluh tahun berlalu, berbagai harapan kerap dikemukakan berbagai kalangan. Salah satunya, musisi atau seniman bebas berkreasi untuk menghasilkan karya-karya terbaik di era reformasi karena demokrasi memberikan ruang kebebasan kepada siapapun untuk berkaya.

Reformasi 98 lalu bukan hanya bagaimana membangun sistem pemerintahan, tetapi lebih bagaimana menumbuhkan kesadaran bersama untuk menjadi lebih baik.

Jadi reformasi itu sebenarnya lebih kepada bagaimana manusia-manusianya ini untuk membangun kesadaran, untuk membuat reformasi yang sebenarnya.

Kita mencatat,  perjalanan reformasi sudah berumur 20 tahun ini telah kebablasan. Terbukti, banyak kemunduran terutama di bidang ekonomi. Ketimpangan ekonomi, antara si kaya dan miskin makin meluas.

Rakyat makin terpinggirkan dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) tentang tenaga kerja asing (TKA). Berbagai kalangan mengharapkan agar kehadiran TKA menjadi salah satu hal yang harus dikoreksi dalam perjalanan  reformasi ini.

Tokoh Malarai dr Hariman Siregar , 20 tahun reformasi ada agenda yang sudah dipenuhi, misalnya lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi. Tapi komitmen anti korupsi masih tanda tanya besar. Reformasi sudah 20 tahun belum menjawab masalah kemiskinan, keadilan dan kesejahteraan.

Banyak kalangan akhirnya mempertanyakan, pembangunan sekarang untuk siapa?  Untuk rakyat kecil kebanyakan atau hanya segelintir rakyat yang berpenghasilan besar. Esensi sesungguhnya adalah pembangunan haruslah untuk rakyat kebanyakan, bukan hanya dinikmati segelintir orang.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, reformasi digulirkan yang ditandai dengan jatuhnya rezim orde baru sebenarnya untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Reformasi sendiri memang telah membawa begitu banyak perubahan, namun perubahan perilaku menuju era lebih baik memang masih perlu ditingkatkan.

Perilaku korupsi, kata Sultan,  sampai saat ini masih ada. Sebenarnya reformasi digulirkan untuk mengurangi perilaku korupsi bukan malah menambahnya.

Dalam konstitusi ada hal yang menyebutkan anti kemiskinan dan anti kebodohan. Seharusnya semua anak bangsa sudah berperilaku anti kemiskinan dan anti kebodohan, termasuk juga berperilaku anti korupsi.

Kini 20 tahun perjalanan reformasi tentu masalah ekonomi menjadi catatan tersendiri buat Presiden Jokowi. Setidaknya kita terus memberikan kontribusi agar pemerintah on the track karena krisis di era reformasi kan karena bobroknya ekonomi kita. Ini jangan sampai terulang lagi akibat keroposnya ekonomi. kita harus tidak stabil dalam ekonomi.

Pemerintahan Jokowi harus terus berupaya untuk mensejahterakan rakyatnya, sehingga rakyat memang benar-benar menikmati hasil reformasi yan dicetuskan 20 tahun lalu.

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com