TAJUK: Novanto Kembali `Menyanyi`

TAJUK: Novanto Kembali `Menyanyi`

Ketua DPR kembali `menyanyi` terkait kasus korupsi proyek e-KTP.  Novanto menyebut sejumlah anggota DPR menerima uang terkait proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP). 

Mereka adalah anggota Fraksi PDI-P Arif Wibowo menerima 350.000 dollar Amerika Serikat. Novanto  juga mengaku  menyaksikan Penyerahan uang E-KTP sebesar 1 juta dolar oleh keponakannya Irvanto Hendra Pambudi kepada dua politisi Partai Golkar Melchias Markus Mekeng dan Markus Nari.  

Tidak hanya itu, Setnov yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Direktur PT Quadra Solutions Anang Sugiana Sudihardjo dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (21/5/2018) menyebutkan, persetujuan tentang anggaran proyek pengadaan e-KTP  dalam APBN 2010-2011 dibahas di ruang Sekretaris Fraksi Partai Golkar, Ade Komaruddin.

Menurut Novanto, saat itu ia pernah melihat ada pertemuan di ruangan Ade Komarudin. Pertemuan itu dihadiri beberapa pimpinan Badan Anggaran DPR, seperti Olly Dondokambey, Mirwan Amir, Melchias Markus Mekeng dan Tamsil Linrung. Kemudian, menurut Novanto, ada anggota Fraksi Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong. 

Tak hanya Novanto, keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo juga membeberkan  sejumlah nama politikus yang menerima uang proyek e-KTP. Mereka adalah Melchias Markus Mekeng, Markus Nari, Chairuman Harahap, Nurhayati Ali Assegaf, Jafar Hafsah, dan Agun Gunandjar.

Rinciannya, kata Irvanto di persidangan, 1,5 juta dolar AS untuk Chairuman, Mekeng sebesar 1 juta dolar AS, Agun 500 dolar AS dan 1 juta dolar AS. Lalu  Jafar Hafsah 100 ribu dolar AS, dan ke  Nur Assegaf 100 ribu dolar AS.

Irvanto mengatakan bahwa Novanto mengetahui dan menyuruh langsung untuk memberikan uang tersebut kepada Markus Nari dan Melchias Mekeng.

Mekeng sebelumnya membantah telah menerima uang dari Irvan.  Demikian juga dengan anggota Komisi II DPR dari Fraksi PDI-P Arif Wibowo. Keduanya membantah menerima uang terkait proyek e-KTP.

Meski belum menjadi fakta hukum dan perlu bukti-bukti lainnya, setidaknya `nyanyian` Novanto dan Irvanto itu bisa menjadi langkah awal atau langkah selanjutnya bagi KPK untuk mengusut nama-nama politisi tersebut.

Berbagai kalangan mengharapkan KPK jangan piih kasih. Semua nama yang disebut harus dibuktikan. Harus diungkap baik itu parpol pendukung pemerintah atau parpol oposisi.

Keterangan Novanto dalam persidangan itu tentu tidak bisa diabaikan. Karena dia jelas menyebutkan pihak-pihak yang diduga menerima aliran dana korupsi tersebut.  Apalagi pengakuan Novanto  dalam ruangan sidang di bawah sumpah menurut kepercayaannya masing-masing. Maka seyogiyanya lembaga antirasuah tersebut mempertimbangkan untuk menindaklanjuti pengakuan Setnov.

Itulah sebabnya, KPK harus  menindaklanjuti pengakuan mantan ketua umum Partai Golkar tersebut. Sehingga, hukum atau pemberantasan korupsi tidak tampak tumpul ke atas, tajam ke bawah.

Pengamat hukum dari Universitas Al Azhar, Prof Suparji Ahmad mengatakan, keterangan terdakwa Setnov terkait korupsi proyek e-KTP merupakan fakta persidangan yang tentunya mengarah pada suatu kebenaran. Oleh karenanya jika yang disampaikan Setnov tidak benar atau palsu maka jelas sangat beresiko terhadap Setnov sendiri yakni hukumannya bisa diperberat.

Sebagai suatu fakta persidangan maka sudah seharusnya KPK memeriksa nama-nama yang disebut Setnov. Tujuannya untuk memastikan kebenarannya dan menindaklanjuti sesuai mekanisne hukum jika keterangan itu benar.

Jika KPK tidak melakukan pemeriksaan dan memproses para politisi yang sudah disebut Novanto dan Irvanto, tak salah bila publik menuding KPK melakukan tebang pilih. Hal ini akan berdampak negatif  terhadap pemberantasan korupsi ke depannya.

 

 

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com