Mahrus Ali: Ramadan adalah Pendakian

Mahrus Ali: Ramadan adalah Pendakian

Menempuh sebulan puasa Ramadan tidak beda dengan mendaki gunung. Ada yang dengan seksama menyiapkan diri agar mencapai derajat ketakwaan paripurna sebagai `the real climber` dan tidak sedikit `the quiters` yang melewati bulan istimewa itu sekadarnya saja sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW, betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Keberhasilan ikhtiar dalam mendaki Ramadhan akan dirasakan dengan segenap perasaan bergemuruh dalam takbir pada malam lebaran.
 
Dalam dunia pendakian dikenal tiga kategori pendaki berdasarkan level capaiannya. Pertama, banyak di antara mereka yang menjadi pendaki karena ikut-ikutan atau karena ingin sekedar merasakan bagaimana menjadi seorang pendaki. Mereka umumnya sudah puas sebagai `the quiters` yang jangankan menanjakkan kaki ke perut gunung, berada di kaki gunung saja sudah merasa cukup puas dan tidak ingin berusaha menaiki karena tidak bersedia menghadai risiko dalam perjalanan. 
 
Orang seperti gambaran tersebut baru mendengar kata bulan suci Ramadhan saja sudah sedih karena terbayang kewajiban puasa berhari-hari yang dikira akan menyiksa diri. Para ulama menggolongkan kelompok ini sebagai gambaran puasanya orang `awam` yaitu mereka yang berpuasa mulutnya saja tidak makan dan tidak minum dari subuh sampai maghrib sementara mata dan telinga tidak ikut berpuasa dari hal-hal yang dilarang. Perjalanan ibadah puasa paling awam, dimaknai sebetas tidak makan dan tidak minum saja,  adapun penglihatan dan pendengaran tidak dilibatkan.
 
Tipe kedua adalah kelompok `the Campers`. Mereka yang merasa cukup ketika berhasil memasuki perut gunung tetapi memutuskan berhenti berjuang mendaki lebih tinggi lagi, tidak siap bersusah payah lebih dan memilih mendirikan kemah sambil  menikmati capaian yang sudah didapat. Para ulama menggolongkan kelompok ini sebagai gambaran puasanya para `khawas` yaitu orang yang secara formil (syar`i) sudah berhasil mengajak seluruh anggota jasmaninya berpuasa. Mulut, mata, telinga dan kelaminnya dipuasakan dari hal-hal yang membatalkan namun hati dan fikirannya belum ikut berpuasa. Mereka mengambil cukup dengan menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara jasmani dan tidak berusaha mengajak ruhaninya juga ikut berpuasa.
 
Adapun golongan ketiga adalah `the climbers` atau pendaki sejati, yaitu mereka yang pantang menyerah apapun ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang harus dihadapi  untuk mencapai puncak tertinggi. Pendaki seperti ini tidak terlena dengan zona nyaman yang sedang diraih karena sadar tujuan pendakian sesungguhnya berada di puncak gunung. Para ulama menggolongkan gambaran ini sebagai wujud puasa `khawas al-khawas` atau puasanya orang tertentu, yaitu mereka yang tidak hanya seluruh anggota tubuhnya saja yang berpuasa tetapi juga hati dan fikirannya ikut berpuasa dengan baik (good level), bahkan mengisi hari-harinya dengan amalan-amalan ibadah sunnah yang dianjurkan (admiring level).
 
Untuk menjadi pendaki sejati memang tidak mudah karena di tengah perjalanan, pada sepertiga ketinggian pertama, umumnya banyak binatang mematikan seperti ular dan harimau yang ganas dan bertabiat menyerang manusia. Memasuki sepertiga kedua ketinggian, biasanya seorang pendaki mulai merasakan indahnya alam sekitar, bahkan banyak yang tiba-tiba terbalut perasaan sentimentil ketika melihat atap-atap rumah perkampungan penduduk tampak kecil-kecil di bawah yang belum lama dilalui. Pada saat itulah godaan berat datang, biasanya tidak sedikit yang terserang penyakit malas meneruskan perjalan selanjutnya, apalagi ketika menyadari tenaga mulai terkuras dan saat mendongak ke atas, tanjakan ternyata makin tajam.  Pada bagian inilah seleksi ketat itu terjadi karena hanya `khawas al-khawas` yang memutuskan terus naik ke atas.
 
Untuk menapaki sepertiga terakhir ketinggian memang menjadi momentum penentuan. Ketika itu secara fisik telah memasuki masa-masa kritis dan secara emosi sedang mengalami kejenuhan. Meski pada ketinggian tersebut seorang pendaki sudah tidak lagi terganggu ancaman serangan binatang buas seperti pada ketinggian level pertama dan kedua, tetapi justru ancaman gas beracun mematikan yang sesekali sontak muncul harus dihadapi di level terakhir. Risiko ancaman jiwa tersebut sepenuhnya diketahui pendaki sejati namun sesampainya di puncak ketinggian seorang pendaki tidak hanya dapat sekencang-kencangnya memekikkan rasa syukur  gembira telah sampai di ujung tujuan, bahkan dari bagian gunung teratas, ia masih dapat menghadapkan pandangan ke langit dan menyadari adanya Yang Maha Atas.  Dari puncak yang sama, ke bawah dapat memandang indah alam ciptaan Tuhan. Di situlah puncak kenikmatan itu diraih.
 
Menghadapi Ramadan dengan lancar pada sepuluh hari pertama akan menghadapi beratnya menundukkan hawa nafsu yang selama 11 bulan bebas makan dan minum. Beratnya menundukkan hawa nafsu pada level pertama ini seperti menundukkan kebuasan binatang-binatang pemangsa di kaki dan perut gunung. Pada sepuluh hari kedua umumnya sudah mulai ada adaptasi secara jasmani dan pada sepuluh hari terakhir seluruh jiwa dan raga sudah dapat bersama-sama menuju kepatuhan kepada Tuhan hingga terjadi `happening art` dengan teriakan takbir pada malam lebaran.
 
Masalahnya, bagaimanakah cara menyiapkan diri agar menjadi pendaki sejati pada bulan Ramadan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, contoh paling otentik adalah dengan mengacu pada cara yang dilakukan Rasulullah SAW yang secara jasmani dan ruhani sudah menyambut Ramadan sejak bulan Rajab dan Sya`ban atau dua bulan sebelum memasuki Ramadan. Jika pada bulan-bulan selain Rajab, Sya`ban dan Ramadan Rasulullah SAW hanya puasa  Senin-Kamis dan puasa tiga hari pada pertengahan bulan atau rata-rata puasa sebelas hari setiap bulan, maka pada dua bulan sebelum Ramadan paling sedikit puasa 20 hari untuk kemudian puasa selama sebulan penuh selama Ramadan.  Itulah persiapan yang dilakukan Rasulullah SAW. Meski tidak sepenuhnya, kita dianjurkan (sunnah) sudah mulai berpuasa sejak dua bulan sebelum Ramadan.
 
Melewati fase-fase dalam pendakian selama Ramadan akan menghantarkan seseorang mencapai derajat ketakwaan karena sesungguhnya takwa adalah buahnya puasa. Itulah puncak-puncak keutamaan yang hanya dapat didaki pada bulan Ramadan.
 
*) Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI)
 

(***)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com