Masjid Bukan Tempat Sebarkan Radikalisme

Masjid Bukan Tempat Sebarkan Radikalisme

Ada Upaya Menyudutkan Umat Islam

Jakarta, HanTer—Sejumlah masjid di Jakarta disebut menjadi tempat paham radikalisme diajarkan. Menanggapi tudingan ini kalangan umat Islam menolak sebutan masjid sebagai sarana penyebaran ajaran radikalisme dan intoleransi. 

"Tegas ya, saya tidak setuju isu tersebut, mana ada Masjid ajarkan radikalisme dan intoleransi, enggak ada!," kata Ketua MPR Zulkifli Hasan dihadapan ratusan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) di Masjid Ulil Albab UII, Yogyakarta, Kamis (7/6/2018).

Anggota senior lembaga dakwah DPP Front Pembela Islam (FPI) Novel Bamukmin mengatakan, harus diselidiki terlebih dahulu atau bertabayun terkait adanya pernyataan bahwa sejumlah masjid di Jakarta menjadi tempat diajarkannya paham radikalisme. Karena pernyataan itu sangat berbahaya dengan tuduhan dan menyudutkan umat Islam.

"Pernyataan itu sangat meresahkan.  Apalagi di bulan Ramadhan, padahal bisa dipastikan semua masjid aman, tenang dan nyaman agar mereka mau singgah ke masjid manapun," kata Novel kepada Harian Terbit, Kamis (7/6/2018).

Humas Persaudaraan Alumni (PA) 212 ini menilai, pihak yang menyudutkan Islam dengan sedemikian rupa hingga ada pernyataan masjid sebagai tempat mengajarkan faham radikalisme dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam seperti kelompok sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (Sepilis). Selain itu kelompok yang tidak suka dengan Islam adalah komunis, syiah dan pro penista agama.

"Mereka yang selalu menyudutkan Islam yang bukan pahamnya dan pro penguasa maka disebut radikal," paparnya.

Sudutkan Islam

Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat Anton Tabah Digdoyo juga mempertanyakan siapa pihak yang menyatakan masjid sebagai tempat pengajaran faham radikalisme. Padahal mereka yang menyudutkan Islam tidak bisa menjelaskan bagaimana definisi radikal. Karena jika belum ada common perception tentang radikal maka sulit mengategorikan radikal itu sendiri. Sehingga tidak bisa mengaitkan umat Islam dengan radikal.

"Seperti RUU Terorisme kemarin,  pemerintah hampir gak mau buat difinisi terorisme. Tapi Alhamdulillah akhirnya mau. Karena dengan definisi tersebut menjadi mudah memetakan dan mengantisipasi adanya aksi terorisme," tegasnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pun menanggapi isu tersebut. Dia mengaku memiliki data nama masjid yang menjadi tempat pengajaran paham radikalisme. "Kita kroscek di Biro Dikmental memang ada beberapa yang kita pantau dan tentunya tidak mungkin kita umum-umumkan. Akhirnya nanti menjadi perpecahan," kata Sandiaga, di Masjid Hasyim Ashari, Jakarta Barat, Rabu (6/6/2018).  

(Safari)

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com

Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com